Remaja Lebih Punya Nyali Kelayapan Saat New Normal

Remaja Lebih Punya Nyali Kelayapan Saat New Normal
info gambar utama

Kawan GNFI, judul di atas boleh jadi menjadi tanda tanya besar soal aktivitas warga saat era new normal ini. Faktanya, memang kalangan usia remaja atau generasi Z (15-25 tahun) adalah yang paling aktif melakukan kegiatan saat new normal, terutama di Jakarta sebagai pusat aktivitas di Indonesia.

Kelayapan menjadi salah satu aktivitas yang tak dapat dibentung kalangan generasi Z ketimbang generasi lainnya, yakni Milenial, Generasi X, atau Baby Boomers.

Selain menunjukkan adanya penurunan aktivitas masyarakat sebesar 58% hasil

Hasil survei yang dilakukan Lifepal, sebagai marketplace all in-one menunjukkan beberapa temuan menarik. Salah satunya adalah kelompok usia muda nyatanya bernyali lebih besar untuk kelayapan ketimbang kelompk yang usianya lebih tua.

Sebelumnya Lifepal juga menemukan fakta bahwa selama pandemi hingga era transisi new normal, aktivitas warga Jakarta turun hingga 58 persen ketimbang sebelum masa pandemi.

Data riset atas aktivitas

Survei Lifepal ini dilakukan dengan metode random sampling terhadap 561 responden dengan rentang usia 15 hingga 74 tahun. Para responden adalah warga yang berdomisili di Jakarta dan atau yang beraktivitas rutin di Jakarta.

Perbandingan jumlah responden dalam survei ini adalah, pria 48 persen dan wanita 52 persen.

Responden dikategorikan pula dalam kategori penghasilan, yakni;

  • 26,6 persen responden memiliki penghasilan di bawah Rp5 juta/bulan,
  • 19,2 persen berpenghasilan Rp10-20 juta/bulan,
  • 29,4 persen berpenghasilan Rp5-10 juta/bulan, dan
  • 24,7 persen dengan penghasilan Rp20 juta/bulan.

Sementara itu untuk kategori usia, yakni;

  • 20,6 persen responden berusia 15-25 tahun,
  • 52,3 persen berusia 26-39 tahun,
  • 21,5 persen berusia 40-55 tahun, dan
  • 5,6 persen berusia 56-74 tahun.

Melalui survei tersebut, Lifepal juga mencatat bahwa rerata frekuensi aktivitas masyarakat di Jakarta saat New Normal hanya berkisar 42,6 persen saja ketimbang dengan masa sebelum pandemi.

aktivitas di era new normal

Generasi Z paling aktif belanja di minimarket

Merujuk data di atas, frekuensi aktivitas belanja di dalam ruangan (indoor) pada pusat perbelanjaan, semisal minimarket atau supermarket yang dilakukan generasi Z mencapai 67,4 persen atau atau mendominasi ketimbang kelompok atau generasi lainnya.

Supermarket dan minimarket yang menjual barang-barang kebutuhan pokok memang tetap diperbolehkan beroperasi di masa PSBB, meski tetap harus memberlakukan protokol kesehatan yang ketat, semisal seperti memberlakukan physical distancing di kasir, memberikan sekat, hingga menyediakan hand sanitizer atau tempat cuci tangan.

Belanja ke pasar tradisonal? siapa takut

Semirip dengan belanja ke supermarket, generasi ini juga tetap menjadi yang paling dominan soal aktivitas belanja di pasar-pasar tradisional. Dominasinya mencapai 55,1 persen.

Padahal, pakar epidemiologi FKM UI, Dr. dr. Tri Yunis Miko Wahyono, mengatakan berbelanja di pasar tradisional memiliki risiko penularan Covid-19 yang sangat tinggi apabila tidak mentaati protokol kesehatan.

Generasi yang paling merindukan susana kantor

Survei tersebut juga menyebut bahwa generasi Z adalah kelompok yang paling merindukan atmosfir kantor, kampus, sekolah, dan tempat usaha saat era new normal. Datanya mencapai 61,4 persen.

Boleh jadi, ini berpengaruh atas kebijakan pemerintah daerah yang mulai membuka sekolah yang berada di zona hijau, atau rencana untuk memperbolehkan aktivitas kantor dan tempat usaha.

Nampaknya, generasi ini sudah bosan dengan metode bekerja dari rumah (WFH), dan membutuhkan interaksi yang seungguhnya.

Memilih moda transportasi online

Sementara soal moda transportasi untuk beraktifitas, generasi Z dan milenial di era new normal lebih memilih menggunakan jasa taksi online atau ojek online.

Untuk menggunakan jasa taksi online, generasi Z dan milenial memiliki persentase serupa, yakni rerata 47 persen. Sedangkan untuk menggunakan jasa ojek online, generasi Z yang memilih menggunakan layanan ini tercatat 43,2 persen, dan milenial 40 persen.

Taksi online maupun ojek online memang tergolong transportasi minim penumpang, sehingga tingkat risiko penularannya virus Coronanya menjadi lebih kecil, ketimbang menggunakan KRL, TransJakarta, maupun MRT.

Membutuhkan hiburan yang sesungguhnya

Lain itu, kebutuhan lain seperti rekreasi juga didominasi oleh kalangan generasi Z dan milenial. mereka tak segan mengunjungi bioskop dan beberapa tempat wisata yang telah buka.

Untuk melakukan aktivitas itu, data menunjukkan generasi Z dan milenial mendominasi dengan 37,4 persen dan 37,8 persen. Sedangkan generasi selanjutnya nyatanya juga butuh piknik, persentasenya mencapai 33 persen (gen X) dan 35 persen (baby boomers).

Makin rendah penghasilan, makin sering ke tempat ibadah

Fakta unik selanjutnya adalah bahwa frekuensi aktivitas pergi ke tempat ibadah para warga berpenghasilan di bawah Rp5 juta-didominasi generasi Z--naik mencapai 50 pesen, ketimbang sebelum masa pandemi. Sementara masyarakat dengan penghasilan di atas Rp20 juta hanya 46 persen.

Aktivitas wanita dan pria di era New Normal

Lalu, bagaimana aktivitas di era new normal ini jika dikategorikan dari sisi demografi, misalnya aktivitas berdasar jenis kelamin.

Berikut data surveinya.

aktivitas di era new normal

Wanita lebih berani naik kendaraan umum ketimbang pria

Jika di lihat dari data di atas, wanita terlihat lebih punya nyali ketimbang pria untuk aik kendaraan umum. Angkanya tercatat 34,7 persen berbanding dengan 32 persen.

Survei itu menunjukkan bahwa frekuensi wanita yang menggunakan transportasi online akan kembali ke angka 40 persen (ojek online) dan 46 persen (taksi online), serta kendaraan umum padat massa, seperti KRL, TransJakarta, maupun MRT, yang mencapai 34 persen.

Wanita lebih berani ke gym atau tempat olahraga indoor

Sedangkan aktivitas olah raga baik di dalam ruangan maupun luar ruangan, frekuensi wanita juga cukup tinggi dengan catatan 29,4 persen, ketimbang pria yang hanya 26,8 persen.

Padahal, area olahraga dalam ruangan maupun luar ruangan juga meningkatkan risiko terpapar virus Corona. Tentunya semua itu harus dilakukan dengan standar keselamatan yang disarankan pemerintah.

Pria lebih berani belanja ke pasar tradisional dibanding wanita

Nah, yang tak kalah unik adalah soal aktivitas belanja di pasar tradisional. Survei membuktikan jika pria malah cukup mendominasi aktivitas tersebut. Persentasenya mencapai 48,9 persen ketimbang wanita yang hanya 46,7 persen.

Baca juga:

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Mustafa Iman lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Mustafa Iman.

Terima kasih telah membaca sampai di sini