Setelah 9 Tahun Berjuang, Akhirnya Kaldera Toba Diakui UNESCO Global Geopark

Setelah 9 Tahun Berjuang, Akhirnya Kaldera Toba Diakui UNESCO Global Geopark
info gambar utama

Bagi masyarakat Batak setempat, Danau Toba menjadi tempat bersemayamnya tujuh dewi suku Batak atau yang biasa disebut dengan Namborru.

Setiap ada kegiatan yang akan dilaksanakan di sekitar danau, masyarakat akan berdoa dan meminta izin terlebih dahulu agar acara mendapat berkah, sekaligus memohon agar dilancarkan keberlangsungan acaranya tersebut.

Danau Toba yang disebut-sebut sebagai danau terdalam di dunia dan terluas di Asia Tenggara itu memang masih menjadi destinasi yang menarik. Ini karena wilayah ini memiliki alam yang indah dan hamparan pemandangan bak lautan.

Padahal letaknya berada di ketinggian 900 meter dengan luas mencapai 1.145 kilometer persegi. Kedalamannya pun antara 450-500 meter. Tidak heran jika Danau Toba masih menarik perhatian wisatawan.

Tampaknya sudah menjadi ciri khas bagi Indonesia, jika terdapat keunikan alam, maka akan tersebar legenda dan cerita rakyat di kalangan masyarakat yang tetap diceritakan kepada anak cucu mereka hingga sekarang.

Bukan mengajarkan kebohongan atau mitos, melainkan menyampaikan sebuah pelajaran hidup dengan cara yang lebih menyenangkan.

Secara ilmiah, Danau Toba adalah danau vulkanik yang terbentuk karena letusan Gunung Toba sekitar 73.000-75.000 tahun lalu. Letusan gunung itu membentuk kaldera atau kawah raksasa yang kemudian terisi air hingga menjadi danau seperti ini.

Danau Toba atau Kaldera Toba
info gambar

Keunikan alam ini membuat Kaldera Toba tadinya disematkan menjadi geopark atau taman bumi nasional Indonesia dari tujuh geopark yang diresmikan. Namun, berita membanggakan datang bahwa Kaldera Toba kini bukan lagi geopark nasional, melainkan sudah diakui menjadi United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO) Global Geopark.

Penetapan dan pengakuan sebagai UNESCO Global Geopark Kaldera Toba itu dilaksanakan pada sidang ke-209 Dewan Eksekutif UNESCO di Paris, Perancis, Selasa 2 Juli 2020 silam.

‘’Melalui penetapan ini, Indonesia dapat mengembangkan geopark Kaldera Toba melalui jaringan Global Geopark Network dan Asia Pacific Geopark Network. Khususnya dalam kaitan pemberdayaan masyarakat lokal,’’ tutur Duta Besar RI untuk UNESCO, Armanatha Nasir, melalui keterangan tertulisnya, Rabu (8/7/2020) dikutip Antara (h/t Kompas).

Pemerintah Indonesia telah berhasil meyakinkan UNESCO bahwa Kaldera Toba memiliki kaitan geologis dan warisan tradisi yang tinggi dengan masyarakat lokal. Khususnya dalam hal budaya dan keanekaragaman hayati.

Setelah menjadi salah satu geopark nasional, Kaldera Toba berhasil masuk daftar UNESCO setelah dinilai dan diputuskan UNESCO Global Geoparks Council pada Konferensi Internasional UNESCO Global Geoparks ke-IV di Lombok, Indonesia, pada 31 Agustus-2 September 2019 silam.

Tidak sampai genap satu tahun, akhirnya UNESCO menetapkannya secara resmi.

Indonesia Negara ke-2 Terbanyak yang Memiliki Geopark di Asia

Gunung Rinjani
info gambar

Sebelum Kaldera Toba, Indonesia sudah memiliki empat geopark yang diakui sebagai UNESCO Global Geopark, yakni:

  • Ciletuh di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat;
  • Gunung Sewu yang membentang di tiga kabupaten, yaitu Gunungkidul, Wonogiri, dan Pacitan, sekaligus di tiga provinsi, DI Yogyakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Timur;
  • Gunung Batur di Kabupaten Bangli, Bali;
  • Gunung Rinjani di Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat.

Saat Indonesia baru memiliki empat geopark sebagai UNESCO Global Geopark, Indonesia sudah dinobatkan menjadi negara ke-2 terbanyak yang memiliki geopark sebagai UNESCO Global Geopark di Asia setelah China.

Penambahan Kaldera Toba membuat posisi Indonesia tetap bertengger di nomor dua Asia.

Tidak hanya itu, Indonesia juga masuk sebagai jajaran negara dengan geopark terbanyak di Asia, jika dihitung dengan jumlah geopark nasional lainnya. Seperti Merangin, Belitong, Bojonegoro, Tambora, Maros Pangkep, dan Raja Ampat.

Semua geopark tersebut masih sangat berpotensi menjadi UNESCO Global Geopark.

Hanya saja memang butuh usaha untuk bisa mewujudkan hal tersebut. Pasalnya pengakuan Kaldera Toba saja butuh waktu sampai sembilan tahun agar diakui oleh UNESCO.

‘’Tugas’’ Kaldera Toba Saat Menjadi Global Geopark

Logo UNESCO
info gambar

Setelah penetapan dan pengakuan dari UNESCO tersebut, selama empat tahun ke depan—yang merupakan masa pengakuan UNESCO—Kaldera Toba memiliki sedikitnya enam ‘’tugas’’ yang direkomendasikan.

Pertama, mengembangkan hubungan antara warisan geologis dan warisan teritorial lainnya seperti biotik alami, budaya, pendidikan dan wisata. Nantinya tautan geologi dan ekologi akan diaktifkan sebagai pengetahuan pengunjung.

Kedua, mengembangkan strategi kemitraan yang mencakup metodologi dan kriteria yang jelas untuk menjadi mitra. Ini menyangkut akomodasi, katering, penyedia transportasi, penyedia aktivitas, dan produsen produk lokal.

Ketiga, memperkuat keterlibatan dalam aktivitas Global Geopark Network dan Asia Pasifik Jaringan Geopark untuk mempromosikan nilai internasional wilayah melalui kemitraan dengan Global Geopark di bawah payung Global Geopark UNESCO.

Keempat, mengembangkan strategi pendidikan dengan bekerja dalam kemitraan dengan UNESCO Global Geopark lainnya.

Kelima, meningkatkan strategi dan kegiatan pendidikan untuk memfasilitasi mitigasi bahaya alam dan perubahan iklim di sekolah-sekolah untuk populasi lokal.

Keenam, memperkuat keterlibatan UNESCO Global Geopark dalam studi penelitian, konservasi, dan promosi penduduk asli setempat dan budaya serta bahasa mereka.

Enam tugas tersebut akan berimbas positif bagi Kaldera Toba. Terutama untuk menarik wisatawan mancanegara dan investor agar tertarik dengan kawasan Kaldera Toba.

Kawan GNFI ada yang sudah pernah ke sana?

--

Sumber: Liputan6.com | Kompas.com | Kontan.co.id | Antara News

--

Baca Juga:

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini