Sejarah Hari Ini (14 Juli 2005) - Salah Satu yang Tertinggi di Indonesia, Pagoda Avalokitesvara

Sejarah Hari Ini (14 Juli 2005) - Salah Satu yang Tertinggi di Indonesia, Pagoda Avalokitesvara

Pagoda Avalokitesvara di Wihara Buddhagaya Watugong, Semarang, Jawa Tengah. © Shutterstock/Utik Margarini

Ayo bantu mencegah penyebaran Covid-19 dengan menjaga jarak fisik dengan orang lain atau dengan di rumah saja 🌎🏠

Ajaran agama Buddha masuk ke Indonesia atau Nusantara sekitar abad ke-5 masehi.

Dari situ, ajaran Buddha tersebar ke beberapa wilayah di Indonesia, tetap bertahan dan berkembang meskipun ajaran agama lain - Islam dan Kristen - masuk pada masa-masa berikutnya.

Bukti ajaran Buddha masih ada hingga era modern bisa dilihat banyaknya rumah ibadah wihara di sejumlah daerah di Indonesia.

Salah satunya bisa kita temui Pudakpayung, Banyumanik, Semarang, Jawa Tengah.

Wihara bernama Buddagaya Watugong berdiri tepat di depan Markas Kodam IV/Diponegoro.

Selain wihara, yang mengundang perhatian dari tempat ibadah umat Buddha tersebut ialah pagodanya.

Pagoda adalah bangunan semacam kuil berbentuk menara yang memiliki desain atap bertumpuk-tumpuk.

Biasanya, pagoda bisa ditemui di Thailand, Cina, Jepang, dan khususnya Myanmar yang dijuluki negeri seribu pagoda.

Karena bangunannya tinggi, Pagoda Avalokitesvara bisa dilihat ketika kita melintasi Jalan Perintis Kemerdekaan.
Karena bangunannya tinggi, Pagoda Avalokitesvara bisa dilihat ketika kita melintasi Jalan Perintis Kemerdekaan. Sumber: Google Maps

Bangunan pagoda di Semarang yang bernama Pagoda Avalokitesvara itu tampak menjulang tinggi dan bisa dilihat dari kejauhan, terutama bila kita melintasi Jalan Perintis Kemerdekaan, jalan raya penghubung kota Semarang dan Yogyakarta.

Pagoda Avalokitesvara atau juga dikenal dengan nama lainnya yakni Pagoda Kwan Im dan Metakaruna (berarti pagoda cinta dan kasih sayang) dibangun pada bulan November dan diresmikan pada 14 Juli 2005 oleh Gubernur Jawa Tengah ke-12, Mardiyanto.

Pagoda Avalokitesvara sendiri digunakan untuk ritual Tjiam Shi, yaitu ritual untuk mengetahui nasib umat manusia.

Caranya adalah dengan menggoyangkan bambu yang sudah diberi tanda hingga salah satu bambu terjatuh. Untuk membaca hasil ramalan, Anda dapat meminta bantuan kepada petugas yang ada.

Namun jika sudah menggoyangkan bambu sebanyak 3 kali berturut-turut dan tidak ada bambu yang terjatuh, konon hari itu bukan hari baik untuk meramalkan nasib.

Nilai astistik yang tinggi dengan tinggi bangunan 45 meter membuat Pagoda Avalokitesvara tercatat sebagai pagoda tertinggi dan teranggun oleh Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) di Indonesia pada 2006.

Pada 2010, predikat Pagoda Avalokitesvara sebagai yang tertinggi beralih ke Pagoda Shwedagon yang terletak di Brastagi, Sumatra Utara.

Pagoda bercorak Myanmar itu memiliki tinggi 46,8 meter, sedikit lebih tinggi dari Pagoda Avalokitesvara.

Meskipun Pagoda Avalokitesvara sudah tidak berlabel pagoda tertinggi, tetapi bangunan ini tetap menjadi kebanggaan kota Semarang, baik dalam fungsi utamanya sebagai rumah ibadah maupun fungsi lainnya sebagai tempat wisata.

Referensi: Aylawati Sarwono, "Rekor-Rekor MURI" | Dewi Kartikawati, "Potensi Wisata Religius di Vihara Buddhagaya Watugong Semarang" | Claudia Kaunang dkk, "101 Travel Tips & Stories: Indonesia 1, Volume 1"

WHO merekomendasikan beberapa langkah dasar untuk membantu mencegah penyebaran Covid-19.

  1. Cuci tangan sesering mungkin setidaknya selama 20 detik
  2. Jika batuk/bersin arahkan ke lipatan siku
  3. Bersihkan dan disinfeksi benda yang sering disentuh
  4. Tetap di rumah saja bagi yang bisa
  5. Pakai masker bila keluar dari rumah
  6. Hindari menyentuh wajah
  7. Jaga jarak fisik dengan orang lain (physical distancing)

Yuk, saling menjaga dan membantu. Semoga kita semuanya diberikan kesehatan dan bisa melalui keadaan saat ini.

Pilih BanggaBangga100%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Untuk membantu kami agar lebih baik, kamu bisa memberikan kritik dan saran terkait web ini kepada GNFI di halaman Kritik dan Saran. Terima kasih.
Lita: ‘’Wajahku Cantik, Kan? Kalau Bersama Plastik Ini Tetap Cantik Ngga?’’ Sebelummnya

Lita: ‘’Wajahku Cantik, Kan? Kalau Bersama Plastik Ini Tetap Cantik Ngga?’’

Kontingen Garuda UNIFIL Bantu Korban Ledakan Beirut, Lebanon Selanjutnya

Kontingen Garuda UNIFIL Bantu Korban Ledakan Beirut, Lebanon

Dimas Wahyu Indrajaya
@dimas_wahyu24

Dimas Wahyu Indrajaya

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.