Tren Sepekan: Surga Air Terjun Tanggedu dan Berbagai Fenomena Alam yang Unik

Tren Sepekan: Surga Air Terjun Tanggedu dan Berbagai Fenomena Alam yang Unik

Fenomena awan torpedo disebut awan Lenticularis © Thiago Orsi Laranjeiras/Shutterstock

Ayo bantu mencegah penyebaran Covid-19 dengan menjaga jarak fisik dengan orang lain atau dengan di rumah saja 🌎🏠

Tren sepekan ini masih datang dari indahnya fenomena alam yang terjadi di Indonesia. Terutama terungkapnya salah satu surga ‘’baru’’ yang tersembunyi yang berhasil ditemukan warganet untuk didokumentasikan dan dibagikan di sosial media.

Berikut tren sepekan dari GNFI yang berhasil menarik perhatian.

Keindahan Awal Lenticularis di Kabupaten Tanggamus

Sekilas, fenomena ini seperti angin puting beliung atau seperti tornado, namun sebenarnya ini adalah fenomena pembentukan awan Lenticularis. Pembentukan awal ini bisa dijelaskan secara ilmiah, loh.

Awan Lenticularis biasanya terjadi di pagi atau sore hari saat musim hujan. Intensitas kemunculannya pun tidak sering terjadi. Jadi bagi Kawan GNFI yang sudah mendokumentasikan fenomena ini termasuk beruntung ya.

Awan Lenticularis yang mirip pusaran angin ini sering terjadi di balik gunung. Biasanya awan ini juga kerap berbentuk layaknya awan topi yang menyelimuti puncak gunung.

Fenomena ini biasanya terjadi ketika ada pergerakan angin yang berlawanan dengan angin pasat yang mengakibatkan turbulensi dan penumpukan massa udara basah. Pemicunya adalah ada pengaruh angin barat yang mengalir yang disebabkan Low Pressure Area di utara Australia.

Di satu sisi, fenomena awan tersebut harus terjadi, karena kalau tidak terbentuk, maka di wilayah itu berpotensi terjadi Clear Air Turbulence yang dapat membahayakan penerbangan.

Biasanya, munculnya awan Lenticularis juga kerap dibarengi meningkatnya kecepatan rata-rata angin di permukaan sekitar 15 sampai 25 kilometer per jam yang dikategorikan sebagai angin yang cukup kencang.

Tetap berhati-hati dan jaga kesehatan ya Kawan GNFI!

Tebing Berwarna Hijau Toska di Tapanuli

Ada yang menarik perhatian nih dari Tapanuli, yaitu fenomena tebing berwarna hijau toska di sekitar Jalan Sitahuis yang menuju kawasan Tarutung, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara.

Terlihat dalam dokumentasi tersebut tebing itu bukan seperti tebing biasa. Pasalnya warnanya yang mencolok dan sangat unik. Katanya, tak jarang banyak para pengguna jalan yang berhenti untuk sekadar ingin mengetahui dan melihat lebih jelas fenomena unik ini.

Ketika sudah mendekat, Kawan GNFI akan mengetahui kalau sebenarnya itu bukan fenomena alamiah yang membuat tebing itu berwarna. Melainkan itu adalah warna jaring pengaman yang bernama jaring polynet untuk membungkus tebing-tebing tersebut.

Jaring polynet atau safety net biasanya digunakan untuk pembangunan konstruksi gedung yang sedang dibangun. Salah satu fungsinya adalah menjadi pengaman agar material gedung atau bangunan tidak jatuh dan menimpa sesuatu atau seseorang di bawah gedung.

Mengingat pada konstruksi bangunan gedung banyak sekali orang yang lalu-lalang ya.

Nah, penggunaannya pada tebing ini adalah untuk meminimalisir tumpahnya tanah atau bebatuan dari tebing ke jalan raya jika suatu saat terjadi longsor.

Sepertinya orang yang memilih jaring polynet ini tahu akan seni warna ya, sehingga memilih warna jaring yang tak biasa dan malah menarik perhatian masyarakat.

Selama berkendara, tetap patuhi aturan keselamatan ya Kawan GNFI! Tetap waspada juga jika cuaca sedang buruk.

Air Terjun Tanggedu, Surga Lain di Tanah Sumba

Tanah Sumba memang tak pernah kehilangan pesonanya. Setiap kali datang ke Tanah Sumba, maka Kawan GNFI akan menemukan surga-surga lain yang tersembunyi di sana.

Kali ini ada Air Terjun Tanggedu yang lokasinya termasuk tersembunyi dan jauh dari hiruk pikuk kota. Tapi kalau sudah masuk Instagram kayaknya bakal lebih ramai nih ya.

Bagi Kawan GNFI yang suka dengan fenomena air terjun yang menyejukkan, maka Kawan wajib mencoba ke Air Terjung Tenggedu. Pasalnya air terjun ini berdiri di balik tebing-tebing terjal yang susunannya juga tak kalah indah dinikmati.

Airnya yang berwarna biru, pasti membuat kita yang melihatnya tak tahan untuk mencicipi kesegaran airnya, alias ingin nyemplung.

Tak jarang juga banyak pengunjung yang sengaja kemari untuk melakukan body rafting di sini karena debit air yang cukup deras dan air sungai yang tidak terlalu dalam.

Lokasi Air Terjun Tanggedu terletak di Desa Tanggedu, Kecamatan Kanatang, Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur. Jaraknya sekitar 46 kilometer dan butuh waktu kurang lebih dua jam untuk sampai ke sana dari pusat kota Waingapu.

Setelah sampai di Desa Tanggedu, Kawan GNFI harus menempuh perjalanan selanjutnya sepanjang 2,5 kilometer dengan berjalan kaki untuk sampai di Kampung Adat Painatang. Selanjutnya akan diarahkan menuju air terjun dengan biaya Rp2.000 saja per orang.

Pastikan Kawan GNFI bawa baju ganti ya!

--

Baca Juga:

WHO merekomendasikan beberapa langkah dasar untuk membantu mencegah penyebaran Covid-19.

  1. Cuci tangan sesering mungkin setidaknya selama 20 detik
  2. Jika batuk/bersin arahkan ke lipatan siku
  3. Bersihkan dan disinfeksi benda yang sering disentuh
  4. Tetap di rumah saja bagi yang bisa
  5. Pakai masker bila keluar dari rumah
  6. Hindari menyentuh wajah
  7. Jaga jarak fisik dengan orang lain (physical distancing)

Yuk, saling menjaga dan membantu. Semoga kita semuanya diberikan kesehatan dan bisa melalui keadaan saat ini.

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Untuk membantu kami agar lebih baik, kamu bisa memberikan kritik dan saran terkait web ini kepada GNFI di halaman Kritik dan Saran. Terima kasih.
Sejarah Hari Ini (19 Juli 2012) - H-Molex, Mobil Hibrida Tiga Energi Sebelummnya

Sejarah Hari Ini (19 Juli 2012) - H-Molex, Mobil Hibrida Tiga Energi

Mantap! Cadangan Devisa Indonesia Capai Level Tertinggi Sepanjang Sejarah Selanjutnya

Mantap! Cadangan Devisa Indonesia Capai Level Tertinggi Sepanjang Sejarah

Dini Nurhadi Yasyi
@dininuryasyi

Dini Nurhadi Yasyi

fiksidini.wordpress.com

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.