Kisah Benteng Buton yang Tak Tembus Belanda dan Masuk Guinness World Record

Kisah Benteng Buton yang Tak Tembus Belanda dan Masuk Guinness World Record
info gambar utama

Tempat ini sekarang dikenal dengan Negeri Seribu Benteng. Dulunya Pulau Buton, Kota Bau-Bau, Sulawesi Tenggara merupakan bekas ibu kota Kesultanan Buton.

Julukan Negeri Seribu Benteng ini memiliki makna histori yang mendalam. Pasalnya benteng ini merupakan tameng ampuh bagi Kesultanan Buton dari serangan penjajahan Belanda.

Ya. Hanya Buton satu-satunya wilayah di Indonesia yang tak pernah dijajah oleh Belanda. Pernah memiliki hubungan dengan Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC), Kongsi Dagang Hindia Timur, namun hubungan itu pernah terputus dengan perlawanan yang tak henti.

Begini ceritanya.

Wilayah yang Tak Pernah Dijajah Belanda

Buton Tidak Pernah Dijajah Belanda
info gambar

Lebih tepatnya Kesultanan Buton pernah nyaris dijajah oleh Belanda kala VOC berusaha menjalin hubungan baik.

Awal keretakan hubungan antara VOC dan Kesultanan Buton saat itu saat kekuasaan dipegang oleh Himayatuddin Muhammad Saidi. Untuk diketahui, atas jasanya melawan Belanda, Himayatuddin baru resmi dijadikan Pahlawan Nasional setelah keluar Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 120/TK/2019 tanggal 7 November 2019 silam.

Himayatuddin sendiri merupakan Sultan ke-20 dalam sejarah Kesultanan Buton. Dia berkuasa selama dua periode yaitu tahun 1751-1752 dan 1760-1763.

Dikisahkan Historia, jalinan antara VOC dan Kesultanan Buton diketahui ‘’harmonis’’ alias VOC berhasil membentuk hubungan baik demi kepentingan perdagangannya.

Namun VOC rupanya bersikap jemawa terhadap Buton karena merasa telah banyak membantu dalam hal perlindungan serangan Kesultanan Gowa dan Ternate yang ditujukan kepada Kesultanan Buton.

Dua kesultanan tersebut kala itu sangat berambisi terhadap perdagangan rempah di perairan timur Hindia dan ingin memperluas wilayah kekuasaannya.

Atas ‘’jasa’’ VOC tersebut, mereka menuntut Kesultanan Buton untuk memusnahkan suplai berlebih atas cengkeh dan pala yang paling laku saat itu. Tujuannya agar rempah tetap tinggi.

Tidak cukup sampai disitu, Kesultanan Buton juga harus mengirim upeti bahan makanan kepada VOC. Awalnya perjanjian ini disepakati oleh Kesultanan Buton.

Saat Himayatuddin berkuasa, dia menerima banyak laporan dari rakyat Buton tentang perilaku congkak orang-orang VOC dalam berdagang. Atas dasar banyaknya laporan tersebut, Himayatuddin akhirnya merasa bahwa perjanjian yang diteken pada 25 Juni 1667 itu dinilai sangat merugikan Buton.

Himayatuddin pun akhirnya melakukan perlawanan, namun bukan dengan serangan langsung karena dia sadar bahwa kekuasaan VOC sangatlah kuat. Dia memilih dengan cara membiarkan perompakan kapal VOC yang terjadi pada 17 September 1750.

VOC geram dan menuntut Kesultanan Buton ganti rugi karena sejak awal sudah berjanji akan melindungi akses perdagangan VOC.

Himayatuddin menolak membayar ganti rugi karena belakangan ia tahu bahwa kepala perompak tersebut berkebangsaan Eropa dan menganggap itu adalah urusan internal VOC.

Di tengah kelengahan VOC akibat perompakan besar-besaran yang merugikan VOC, Himayatuddin memilih untuk bergerilya di hutan dan gunung untuk mempersiapkan benteng dan pasukannya. Apalagi saat itu VOC juga sempat mengancam akan menyerang Buton.

Perang sempat pecah, VOC berhasil mendesak rakyat Buton. Namun kali ini, VOC merasa tetap perlu memperbaiki hubungan dengan Buton. Namun, Himayatuddin tetap bersikukuh tidak akan mengembalikan hubungan yang sudah jelas merugikan Buton itu.

Berkali-kali VOC berusaha sampai akhirnya dikatakan bangkrut, Kesultanan Buton akhirnya terbebas. Bahkan sampai kolonialisme Belanda sampai membentuk negara Hindia Belanda, diketahui Belanda tak ingin berurusan dengan Buton karena mereka tahu Kesultanan Buton memiliki kekuasaan yang sangat kuat akan wilayahnya.

Pernah Dinobatkan Sebagai Pemilik Benteng Terluas di Dunia

Benteng Buton Terluas di Dunia
info gambar

Benteng Kesultanan Buton terletak di Kota Bau-Bau, Pulau Buton, Sulawesi Tenggara. Benteng Kesultanan Buton juga kerap dikenal sebagai Benteng Wolio Bau-Bau.

Pada September 2006 silam, saksi sejarah akan perjuangan Kesultanan Buton ini mendapatkan dua penghargaan sekaligus. Penghargaan dari dalam negeri yaitu masuk dalam daftar Museum Rekor Indonesia (MURI) dan penghargaan dari luar negeri yaitu pernah dinobatkan sebagai benteng terluas di dunia dalam Guinness Book Wolrd Record.

Benteng ini diketahui memiliki luas sampai 23.375 hektar dan uniknya lagi benteng ini diketahui terbuat dari batu kapur.

Dulunya benteng ini pernah digunakan sebagai sistem pertahanan perang yang diberikan VOC. Namun karena sikap VOC yang dinilai congkak dan hanya ingin memonopoli sumber daya alam dan rempah yang dimiliki Kesultanan Buton, akhirnya benteng inilah yang menjadi tameng utama Kesultanan Buton.

Kuatnya pertahanan Kesultanan Buton, membuat VOC tidak pernah berhasil menjatuhkan atau merebut Benteng Kesultanan Buton. Perang sempat berkali-kali pecah pada 1752, 1755, dan 1776 karena VOC rupanya menggunakan kecurangan dalam perdagangan rempah-rempah di wilayah Buton.

Melihat Buton memiliki kekuasaan yang sangat kuat saat menghadapi VOC, Belanda akhirnya memutuskan untuk tidak lagi repot dan mencari masalah dengan Kesultanan Buton.

Setelah Buton masuk dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia atas bujukan Soekarno, benteng ini tidak lagi dipakai untuk perlindungan berperang melainkan lebih dimanfaatkan untuk memantau kapal-kapal yang singgah di pesisir Buton yang memiliki kepentingan hubungan perdagangan rempah.

Masih lestari, benteng tersebut kini dibuka menjadi kawasan wisata masyarakat. Konon, di salah satu bagian benteng terdapat lorong yang katanya terhubung langsung dengan Makkah, loh.

--

Sumber: Indonesiakaya.com | Kumpara.com | Historia.com

--

Baca Juga:

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini