Upaya Aktivis Lingkungan Membersihkan Sampah Sungai di Bogor

Upaya Aktivis Lingkungan Membersihkan Sampah Sungai di Bogor

Aktivis lingkungan Pejuang Waktu membersihkan sampah di sepanjang bendungan Sungai Cisadane, Bogor, Minggu (26/7/2020) | Dok. Pejuang Waktu

Ayo bantu mencegah penyebaran Covid-19 dengan menjaga jarak fisik dengan orang lain atau dengan di rumah saja 🌎🏠

Dalam kerangka memperingati Hari Sungai Nasional yang jatuh pada, Senin (27/7/2020), sekelompok aktivis lingkungan asal kota Bogor mencoba melakukan upaya membersihkan sampah di bendungan Sungai Cisadane, Bogor, Jawa Barat, Minggu (26/7). Aktivitas pembersihan sampah sungai itu mereka beri nama Cisadane Resik.

Upaya itu tentu bukan tanpa alasan. Isu soal banjir yang terjadi sekitar Kota Bogor tentu membutuhkan perhatian dan tata kelola yang baik, terutama soal sampah yang berada di aliran sungai.

Sutanandika, koordinator aktivis lingkungan Pejuang Waktu mengatakan bahwa apa yang mereka lakukan bukan berlandaskan mandat pemerintah daerah (Pemda), namun lebih kepada gerakan nurani dan kepedulian lingkungan.

''Melihat beberapa wilayah di sekitaran Bogor yang sering terkena dampak banjir akibat meluapnya sungai-sungai di Bogor, kami tergerak untuk melakukan aktivitas yang mudah-mudahan menjadi salah satu gerakan yang dapat ditiru masyarakat sekitar aliran sungai,'' kata Sutan pada GNFI, Minggu (26/7).

Dalam pantauan GNFI pada hari yang sama, di sepanjang aliran sungai Cisadane hingga di sekitaran bendungan, memang terlihat banyak sekali sampah yang bertumpuk di pinggiran sungai atau mengambang di aliran sungai. Sampahnya beragam, mulai sampah plastik, sampah rumah tangga, hingga bangkai hewan.

Secara umum, Sungai Cisadane merupakan sungai yang mengalir sepanjang 128 km dengan hulu berasal dari kaki Gunung Pangrango, melintas di sisi barat Kabupaten Bogor, terus ke arah Kabupaten Tangerang dan bermuara di sekitar Tanjung Burung, Laut Jawa.

Aliran sungai ini menjadi penting bagi masyarakat sekitar yang berada di pinggir aliran sungai, karena merupakan sumber air untuk mencuci dan mandi. Karena hal itulah Sutan dan kelompoknya tergerak untuk rutin melakukan pembersihan aliran sungai, minimal sekali saban bulan.

Dalam aktivitas pembersihan sampah sungai tersebut, sekiranya menghasilkan 50 karung sampah yang bakal dibuang ke tempat pembuangan sampah yang bekerjasama dengan balai tata kelola lingkungan setempat.

Jelang musim hujan seperti sekarang ini, aktivis lingkungan Pejuang Waktu bakal rutin melakukan gerakan Cisadane Resik secara simultan. Harapannya jelas, sampah-sampah di bantaran sungai tak akan menggunung ketika musim hujan tiba nanti.

pembersihan sampah di bendungan sungai cisadane
Pembersihan sampah di bendungan Sungai Cisadane | dok. Pejuang Waktu

Mengubah sampah menjadi energi

Soal isu sampah di sepanjang aliran sungai-sungai di Bogor juga terlihat di aliran sungai Ciliwung. Permasalahan sampah di Sungai Ciliwung sering menjadi sorotan banyak orang atau lembaga. Sungai Ciliwung kerap dituding sebagai biang kerok banjir di Jakarta.

Panjang aliran utama sungai ini mencapai hampir 120 km dengan daerah tangkapan airnya (daerah aliran sungai) seluas 387 km persegi. Sungai ini relatif lebar dan di bagian hilirnya dan melintasi beberapa wilayah, seperti Kabupaten Bogor, Kota Bogor, Kota Depok, dan Jakarta.

Hulu sungai ini berada di dataran tinggi yang terletak di perbatasan Kabupaten Bogor dan Kabupaten Cianjur, atau tepatnya di Gunung Gede, Gunung Pangrango dan daerah Puncak.

Setelah melewati bagian timur Kota Bogor, sungai ini mengalir ke utara, di sisi barat Jalan Raya Jakarta-Bogor, sisi timur Depok, dan memasuki wilayah Jakarta, seperti di wilayah Jakarta Selatan dan Jakarta Timur. Sementara muara sungai ini berada di dekat Pasar Ikan, Jakarta Utara.

Banyak upaya yang dilakukan untuk membersihkan sampah di bantaran sungai ini, tetapi masih ada-ada saja masyarakat yang membuang sampah di sungai tersebut.

Jenuh dengan permasalahan sampah di sungai itu, aktivis lingkungan Gerakan Ciliwung Bersih (GCB) membuat inovasi Tempat Olahan Sampah Sungai (TOSS) untuk memanfaatkan sampah menjadi energi listrik.

TOSS adalah konsep pengolahan sampah yang secara umum berasal dari rumah tangga dan biomassa. Konsep ini digagas oleh Supriadi Legino dengan menggunakan teknologi peuyeumisasi (Biodrying), hasil karya inovasi Sonny Djatnika Sundadjaja.

Program TOSS ini dilakukan dengan mengubah sampah sungai menjadi briket atau pelet (syntetic gas). Briket atau pelet lazim dimanfaatkan untuk bahan bakar sehari-hari sebagai pengganti minyak tanah, LPG, bahkan bahan bakar untuk genset atau diesel.

Selain itu, syntetic gas juga mampu menjadi substitusi bensin pada genset atau solar pada mesin disel. Listriknya bisa dimanfaatkan untuk menjernihkan air untuk keperluan mandi, cuci, kakus (MCK) dan kebutuhan lain berbasis listrik.

Kota/kabupaten dengan pengelolaan sampah terbaik

Persoalan sampah di negeri ini memang tak pernah usai, mulai dari tata kelola sampah hingga penyediaan lahan untuk pembuangan sampah.

Dari data yang dirilis Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), tercatat 10 kota/kabupaten terbaik soal pengelolaan sampah periode 2017-2018.

Dari data KLHK itu menunjukkan, Kota Serambi Mekah itu mengolah 95 persen dari total 210 ton sampah yang dihasilkan setiap hari.

Dari 192 kabupaten/kota di Indonesia yang data sampahnya terekam oleh KLHK, sekira hanya 94 wilayah yang mampu mengelola sampah yang dihasilkan warganya.

kota dengan pengelolaan sampah terbaik

Selain Banda Aceh, ada Kota Surakarta (Solo) dengan persentase pengelolaan sampah sebesar 94 persen, Kabupaten Poso (89 persen), Kota Baubau (89 persen), dan Kota Banjarbaru (87 persen). Nama kota terakhir bahkan berhasil mengelola sampah dan menjadikannya biogas dari timbunan sampah.

Sementara kota/kabupaten terbaik lainnya yang mampu mengelola sampah, adalah;

  • Kota Kediri (85 persen),
  • Kabupaten Dairi (84 persen),
  • Kota Mojokerto (83 persen),
  • Kabupaten Pelalawan (82 persen), dan
  • Kota Tarakan (80 persen).

Nah, dari apa yang dilakukan para aktivis lingkungan serta data yang terekam KLHK, tentunya kita sebagai masyarakat juga harusnya turut berperan untuk menjaga lingkungan menjadi apik dan resik.

Kalau bukan kita, siapa lagi?

Baca juga:

WHO merekomendasikan beberapa langkah dasar untuk membantu mencegah penyebaran Covid-19.

  1. Cuci tangan sesering mungkin setidaknya selama 20 detik
  2. Jika batuk/bersin arahkan ke lipatan siku
  3. Bersihkan dan disinfeksi benda yang sering disentuh
  4. Tetap di rumah saja bagi yang bisa
  5. Pakai masker bila keluar dari rumah
  6. Hindari menyentuh wajah
  7. Jaga jarak fisik dengan orang lain (physical distancing)

Yuk, saling menjaga dan membantu. Semoga kita semuanya diberikan kesehatan dan bisa melalui keadaan saat ini.

Pilih BanggaBangga25%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang50%
Pilih Tak PeduliTak Peduli25%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Untuk membantu kami agar lebih baik, kamu bisa memberikan kritik dan saran terkait web ini kepada GNFI di halaman Kritik dan Saran. Terima kasih.
Gelar Konferensi Nasional Virtual, AIESEC Indonesia Ajak Pemuda Lebih Adaptif dan Solutif Sebelummnya

Gelar Konferensi Nasional Virtual, AIESEC Indonesia Ajak Pemuda Lebih Adaptif dan Solutif

Kerupuk Melarat Cirebon, Camilan Unik yang Digoreng Tanpa Minyak Selanjutnya

Kerupuk Melarat Cirebon, Camilan Unik yang Digoreng Tanpa Minyak

Mustafa Iman
@mustafa_iman

Mustafa Iman

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.