Mencoba Bangkit dari Pandemi, Traveloka Berhasil Kumpulkan Dana 250 Juta Dollar AS

Mencoba Bangkit dari Pandemi, Traveloka Berhasil Kumpulkan Dana 250 Juta Dollar AS
info gambar utama

Sebagai aplikasi perjalanan daring terbesar di Asia Tenggara, tidak dipungkiri bahwa pandemi Covid-19 yang melanda di seluruh dunia membuat Traveloka sangat terpukul. Bukan hanya sekadar penerapan physical distancing, beberapa negara di Asia Tenggara bahkan menerapkan lockdown yang menjadi penyebab turunnya angka wisatawan.

Terutama Vietnam yang sudah memberlakukan lockdown sejak diketahui kasus Covid-19 pertama di sana. Untuk diketahui, Vietnam menjadi salah satu pasar terbesar Traveloka di Asia Tenggara selain Thailand, Filiphina, dan Australia.

Akibat pandemi, kenaikan permintaan pembatalan perjalanan melalui Traveloka diketahui naik antara 7-10 kali lipat.

Setelah salah satu startup afiliasinya, Airy Rooms, harus gulung tikar, nasib Traveloka menjadi perhatian selanjutnya.

Pada April 2020 silam, seorang sumber yang tidak disebutkan namanya kepada Nikkei Asian Review, pernah menyiarkan kabar bahwa Traveloka tak luput untuk menempuh pemutusan hubungan kerja (PHK) kepada karyawan-karyawan mereka.

‘’PHK akan terjadi pada kisaran 10 persen dari total karyawan Traveloka atau setara dengan 100 orang,’’ katanya.

Meski begitu, isu tersebut pernah ditepis oleh pihak Traveloka yang juga tidak disebutkan namanya. Dia mengatakan kepada Nikkei Asian Review, ‘’Traveloka adalah salah satu perusahaan dengan disiplin pengaturan manajemen keuangan yang dilakukan dengan sangat bijaksana.’’

Hingga berita ini diturunkan, belum ada pihak Traveloka yang secara resmi mengonfirmasi isu tersebut.

Mencoba Bangkit

Pendanaan Traveloka
info gambar

Sebagai salah satu perusahaan aplikasi perjalanan daring terbesar di Asia Tenggara, nampaknya Traveloka masih memiliki kepercayaan di mata para pemilik modal. Pasalnya Reuters mewartakan bahwa Traveloka kini telah menghimpun pendanaan hingga 250 juta dollar AS atau setara dengan Rp3,7 triliun.

Dana ini nantinya yang akan membantu meningkatkan operasional Traveloka di tengah krisis akibat pandemi. Terutama setelah perjalanan domestik di beberapa negara yang sudah mulai dibuka dan para pelancong sudah mulai meningkat. Tentu saja dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan.

‘’Kami melihat pemulihan yang menggembirakan di pasar-pasar utamanya (domestik),’’ ungkap pihak Traveloka dikutip Reuters.

Co-Founder dan CEO Traveloka, Ferry Unardi, mengatakan bahwa pangsa pasar sektor pariwisata di Vietnam diketahui sudah pulih hingga 100 persen jika dibandingkan saat di tengah pandemi. Selain itu, pariwisata Thailand juga sudah pulih melampaui 50 persen.

Malaysia pun diketahui berangsur semakin baik dan mengalami peningkatan permintaan tiket perjalanan dari minggu ke minggu. Seiring dengan dilonggarkannya aturan Movement Control Order (MCO) atau karantina wilayah ala Malaysia.

Di Thailand, pemerintah setempat bahkan akan menggelontorkan subsidi hingga 722 juta dollar AS untuk memacu perjalanan domestik. Singapura juga sudah mulai mempromosikan pariwisata lokalnya.

Putaran pendanaan yang diterima oleh Traveloka diketahui dipimpin lembaga keuangan global, termasuk investor dari East Ventures.

Sebuah sumber yang tidak disebutkan oleh Reuters mengungkapkan bahwa investor utama pada putaran dana itu adalah Qatar Investment Authority (QIA), perusahaan holding milik negara Qatar. Baik dari Traveloka maupun QIA, keduanya tidak menanggapi mengenai kabar tersebut.

Untuk diketahui, sebelumnya Traveloka sudah mendapatkan dukungan dan genjotan dana dari perusahaan aplikasi perjalanan daring raksasa di Amerika Serikat seperti Expedia, peritel daring China yaitu JD.Com, serta wealth fund Singapura GIC Pte Ltd.

New Normal Sektor Pariwisata di Indonesia

New Normal Pariwisata
info gambar

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Wishnutama Kusubandia, pernah mengatakan bahwa lebih dari 7.000 hotel di Indonesia tidak beroperasi di tengah pandemi. Beberapa ada yang masih mencoba bertahan, namun dengan okupansi di bawah 5 persen.

Industri penerbangan sudah tidak perlu ditanya. Destinasi pariwisata ditutup, otomatis akan sangat berimbas pada ratusan pesawat terbang yang kerap dipilih para pelancong untuk bepergian.

Seiring dengan dilonggarkannya pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di Indonesia dan dimulainya percobaan pembukaan tempat-tempat pariwisata, Wishnutama mengatakan bahwa sudah saatnya sektor pariwisata berimprovisasi dan memanfaatkan kecanggihan teknologi dalam skema bisnisnya.

‘’Membuat strategi bisnis model dengan kondisi new normal dengan mengeksploitasi teknologi digital agar dapat hidup,’’ tegasnya dikutip Alinea.

Ke depannya sektor pariwisata harus dilengkapi sertifikat program yang kini tengah digodok oleh pemerintah, yaitu program cleanliness, health, and safety (CHS). Sebuah program kolaborasi antara Kemenparekraf dan Kementerian Kesehatan.

Implementasinya memang butuh waktu karena butuh persiapan, simulasi, sosialisasi, dan percobaan.

Untuk menjalankan program ini, Bali dipilih menjadi ‘’pilot project’’ sebelum nantinya diterapkan ke destinasi wisata lainnya.

‘’Selain sebagai magnet utama wisatawan, baik nusantara maupun mancanegara, Bali juga merupakan salah satu provinsi di Indonesia dengan penyebaran Covid-19 yang terkendali,’’ ungkap Sekretaris Kemenparekraf, Badan Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif, Ni Wayan Giri Adnyani, dikutip Alinea.

Bali sendiri diketahui sudah membuka kembali resor-resor untuk wisatawan lokal sejak akhir Juli lalu. Sedangkan untuk wisatawan internasional akan dibuka pada 11 September mendatang.

Salah satu alasan penerapan program ini adalah tentu saja untuk mendorong percepatan pemulihan sektor pariwisata dengan meningkatkan kepercayaan wisatawan terhadap destinasi dan industri pariwisata Indonesia usai pandemi.

Siap-siap saja bagi para pemegang bisnis di sektor pariwisata nantinya akan melewati sebuah protokoler dan administrasi terbaru, yaitu dengan melakukan verifikasi, audit, dan sertifikasi CHS yang melibatkan lembaga sertifikasi.

Siapa yang sudah nggak kuat untuk jalan-jalan?

--

Sumber: Reuters | New York Times | Nikkei Asian Review | Kontan | CNN Indonesia | Alinea

--

Baca Juga:

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini