Sektor Pertanian Indonesia Terbukti Kebal Pandemi Covid-19

Sektor Pertanian Indonesia Terbukti Kebal Pandemi Covid-19
info gambar utama

Badan Pusat Statistik (BPS) akhirnya mengumumkan pertumbuhan ekonomi Indonesia selama triwulan kedua 2020 (Q2). Hasilnya, Indonesia memang menghadapi kontraksi perekonomian dengan angka pertumbuhan -5,32 persen secara year on year (yoy) atau jika dibandingkan dengan Q2 tahun 2019.

Selain itu secara kuartalan atau dibandingkan dengan Q1 2020, perekonomian Indonesia juga masih mencatat adanya kontraksi dengan angka pertumbuhan -4,19 persen.

Meski begitu, beberapa pengamat ekonomi sebelumnya sempat optimis bahwa kontraksi yang terjadi pada perekonomian Indonesia masih dalam kategori ‘’terkendali’’ alias masih ada kesempatan bagi Indonesia untuk lolos dari jurang resesi seperti yang terjadi di beberapa negara maju.

Salah satu sektor yang paling ‘’menyelamatkan’’ Indonesia dari ancaman resesi adalah sektor pertanian. Diketahui lapangan usaha sektor pertanian menjadi penyumbang terbesar pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia selama Q2.

Selain sektor pertanian, sektor informasi dan komunikasi, serta sektor pengadaan air, tercatat masih tumbuh secara positif.

Dari laporan BPS yang disiarkan pada 5 Agustus 2020, secara kuartalan lapangan usaha sektor pertanian tumbuh sebesar 16,24 persen, lapangan usaha informasi dan komunikasi tumbuh 3,44 persen, sedangkan pengadaan air tumbuh 1,28 persen.

Sedangkan secara yoy sektor pertanian juga masih memperlihatkan pertumbuhan sebesar 2,19 persen.

14 sektor lapangan usaha lainnya mengalami kontraksi, terlebih sektor transportasi dan pergudangan mengalami kontraksi yang paling dalam dengan angka mencapai -29,22 persen.

Yang Menyebabkan Pertanian Kebal Korona

Laju Pertumbuhan Lapangan Usaha Pertanian
info gambar

Kepala BPS, Kecuk Suhariyanto, mengatakan bahwa salah satu hal yang menyebabkan sektor pertanian Indonesia tumbuh dengan solid adalah karena pergeseran musim tanam pada tanaman pangan. Sehingga membuat puncak panen terjadi pada Q2 2020.

Selain itu, nilai ekspor pertanian Indonesia memang sudah terlihat meningkat sejak awal April lalu yang didapat dari empat subsektor unggulan, yaitu perkebunan, tanaman pangan, holtikultura, dan peternakan.

Nilai nominalnya mencapai Rp12 triliun atau mengalami peningkatan mencapai 7,42 persen sejak tahun 2019 sampai Maret 2020.

Kepala Badan Karantina Kementerian Pertanian, Ali Jamil, mengatakan bahwa salah satu alasan yang membuat ekspor pertanian mengalami pertumbuhan yang solid karena komoditas yang diekspor sudah tidak lagi berbentuk mentahan, melainkan sudah diolah menjadi makanan jadi.

‘’Sekarang, mengirim kelapa tidak hanya serabutnya saja, tetapi sudah diolah menjadi produk berkualitas. Untuk itu, sekarang kami sedang mengarah ke industri pengolahan,’’ katanya dikutip Kompas.com pada 30/4/2020.

Sedikitnya ada 166 jenis komoditas yang diekspor ke 43 negara di Asia dan Eropa melalui sembilan pintu. Kesembilan pintu utama itu adalah Lampung, Bandara Soekarno Hatta, Semarang, Belawan, Surabaya, Tanjung Priok, Denpasar, Balikpapan, dan Makassar.

Selain itu, peningkatan produksi seperti kelapa sawit, kopi, dan tebu juga mendorong angka pertumbuhan. Apalagi belakangan diketahui bahwa permintaan luar negeri akan komoditas olahan kelapa sawit seperti minyak kelapa sawit (Crude Palm Oil/CPO) juga tumbuh dengan positif.

Di Awal Q3, Sektor Pertanian Masih Menunjukkan Perkembangan Positif

CPO Indonesia
info gambar

Salah satu komoditas unggulan Indonesia yaitu CPO hingga awal Q3 atau bulan Juli 2020 ini diketahui terus menunjukkan perkembangan yang positif. Bahkan permintaan pasar ekspor ke sejumlah negara tujuan pun terlihat masih tinggi. Ini terlihat dari menguatnya harga CPO Indonesia.

Sebagai salah satu contoh, berdasarkan data DI\inas Perkebunan Sumatra Selatan, harga penetapan CPO pada periode I bulan Juli 2020 sudah mencapai harga Rp7062,47 per kilogram atau meningkat 1,64 persen dibanding periode terakhir Juni 2020.

‘’Permintaan dunia meningkat, kondisi itu dipengaruhi kondisi konsumsi (CPO) di China dan India mulai membaik,’’ ungkap Alex Sugiarto, Ketua Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Sumsel dikutip Bisnis pada 16/7/2020.

Permintaan tinggi terhadap CPO juga didorong oleh harga minyak nabati kedelai yang juga mulai tinggi. Sehingga membuat adanya peralihan penggunakan ke CPO.

Alex juga mengungkapkan ada pula pengaruh dari Malaysia.

‘’Persediaan CPO Malaysia pada akhir Mei turun dan juga adanya pelemahan mata uang ringgit terhadap dolar AS sehingga membuat ekspor CPO dari Sumsel pun jadi naik,’’ jelasnya.

Beralih ke komoditas gabah. Kepala BPS, Suhariyanto pernah menjelaskan bahwa harga gabah selama bulan Juli 2020 (Awal Q3 2020) tercatat meningkat sebesar 1,44 persen. Rata-rata harga gabah di tingkat petani mencapai Rp4.788 per kilogram, sedangkan harga di tingkat penggilingan sebesar Rp4.883 per kilogram.

Hal tersebut juga mendorong Nilai Tukar Petani (NTP) pada bulan Juli 2020 yang mengalami kenaikan signifikan. Angkanya mencapai 100,09 atau naik 0,49 persen jika dibandingkan dengan NTP Juni 2020.

Untuk diketahui, NTP adalah rasio antara indeks harga yang diterima petani dengan indeks harga yang dibayar petani. NTP merupakan salah satu indikator dalam menentukan tingkat kesejahteraan petani.

Di tengah krisis pandemi seperti ini, Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo, berulang kali menyampaikan bahwa sektor pertanian tidak pernah mengenal pandemi dan krisis. Pasalnya sektor ini yang menjadi sektor paling krusial untuk memenuhi kebutuhan pangan seluruh masyarakat Indonesia.

Indonesia sepatutnya bersyukur karena memiliki sumber daya pertanian yang melimpah dan menjadi kunci pertumbuhan ekonomi. Terbukti sektor pertanian kini yang menahan Indonesia ketika dilanda ancaman resesi.

--

Sumber: Badan Pusat Statistik | Kompas | Bisnis Indonesia | Warta Ekonomi

--

Baca Juga:

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini