Sejarah Hari Ini (7 Agustus 1669) - Penyerangan Loji Belanda oleh Rakyat Padang

Sejarah Hari Ini (7 Agustus 1669) - Penyerangan Loji Belanda oleh Rakyat Padang
info gambar utama

Kota Padang awalnya adalah kampung nelayan yang terletak di daerah yang sekarang dikenal sebagai Muaro.

Sejak abad 15, keberadaan kota Padang semakin dikenal sebagai bandar perdagangan.

Hal ini terjadi karena Kerajaan Aceh berusaha menguasai pantai barat Sumatra untuk membuka jalur perdagangan melalui Selat Sunda setelah Portugis menaklukkan Kesultanan Malaka dan memblokade jalur perdagangan di Selat Malaka.

Pelaburan Muaro, Padang, sekitar 1895.
info gambar

Banyak peristiwa yang terjadi di daerah tersebut sehingga kapan kota Padang benar-benar terbentuk menjadi bahan diskusi selepas masa penjajahan dan kemerdekaan Indonesia.

Pada 1974, Drs Hasan Basri Durin, Wali Kota Padang (lalu menjadi Gubernur Sumatra Barat), memulai diskusi penetapan hari jadi kota Padang.

Setelah melalui proses yang panjang, tahun 1980 dilakukan rapat dan diskusi yang melahirkan makalah dan tulisan.

Pemerintah juga menghubungi Institut Voor de Tropen, Amsterdam, dan Arsip Nasional Republik Indonesia, Jakarta, untuk menerjemahkan Keputusan Gubernur Jenderal yang berhubungan dengan pembentukan Gemeente Padang.

Medio 1985, panitia mencoba memancing pendapat masyarakat, ilmuwan, dan tokoh sejarah untuk mengumpulkan beberapa gagasan baru.

Berbagai tanggal dan tahun peristiwa untuk penetapan hari jadi keluar di antaranya ialah:

  • 13 Februari 1667 yaitu ketika perundingan Verenigde Oost-Indische Compagnie (VOC) dengan Raja Pagaruyung yang mengakui kedaulatan Raja Pagaruyung di Pesisir Barat Minangkabau
  • 18 September 1667, orang Kayo Kaciak diangkat sebagai Panglima oleh Raja Pagaruyung
  • 30 April 1666, Pasukan Belanda yang menyerang Pauh dihancurkan oleh Rakyat Pauh
  • 13 Desember 1700, pasukan Belanda menyerang Pauh dihancurkan oleh rakyat Pauh
  • 1 Oktober 1892, peresmian Pelabuhan Teluk Bayur
  • 1 Maret 1906, Status Gemeente Kota Padang
  • 7 Agustus 1669 rakyat Pauh dan warga kota lainnya menghancurkan benteng/loji Belanda di Padang

Akhirnya Tim Perumus yang diketuai Dr Mochtar Naim menyarankan agar tanggal 7 Agustus 1669 dijadikan hari jadi Padang.

Pada masa itu Belanda memonopoli perdagangan rempah-rempah di pantai barat Sumatra.

Belanda pun mulai membangun loji atau benteng di sekitar Muaro.

Benteng VOC di Muaro Padang.
info gambar

Masyarakat Nagari, Koto Tangah, Nagari Pauh, dan juga masyarakat di sekitar Muaro yang kesal lalu menyerang loji-loji Belanda tersebut.

Akibatnya, Belanda mengalami kerugian besar mencapai 28 ribu gulden.

Peristiwa penyerangan loji Belanda pada hari tersebut pun dipilih karena adanya segi patriotisme dan punya kepastian sejarah yang dapat dipertanggungjawabkan.

Setelah melalui berbagai pertimbangan dan diskusi, pada 31 Juli 1986, DPRD Padang dengan suara bulat menyetujui tanggal 7 Agustus 1669 sebagai hari jadi kota Padang.

Adapun selain ada nilai sejarah dan patriotisme, peristiwa pada tanggal tersebut menunjukkan adanya kesatuan di antara rakyat Padang dalam menentang penjajahan.

Daerah pesisi kota Padang pada 2017.
info gambar

Kota Padang merupakan kota paling besar di pantai barat Sumatra dan ibu kota Sumatra Barat di mana beberapa kali mendapatkan penghargaan kota terbersih (Adipura) di Indonesia.

Padang mendapat piala Adipura untuk pertama kalinya pada tahun 1986 dari Presiden Suharto.

Selanjutnya pada tahun 1991 kota ini juga memperoleh Adipura Kencana.

Adipura Kencana adalah bentuk penghargaan yang secara khusus diberikan kepada kabupaten atau kota yang dinilai telah memenuhi syarat dalam mengelola kebersihan dan lingkungan secara berkelanjutan serta sebelumnya telah menerima penghargaan Adipura minimal tiga kali secara berturut-turut.

Hingga tahun 2009 Kota Padang telah mendapat 17 kali piala Adipura selama 4 periode penilaian.

Delapan tahun setelah bencana alam gempa bumi 2009 yang menghancurkan sarana dan prasarana kota, Padang kembali menerima piala Adipura untuk ke-18 kalinya pada tahun 2017.

Referensi: Drs. Mardanas Safwan, Drs. Ishaq Taher, Drs. Gusti Asnan, Drs. Syafrizal, "Sejarah Kota Padang" | Fisra Afriyanti, "Don't Stop Exploring West Sumatra" | Didik Pradjoko, Bambang Budi Utomo, Direktorat Sejarah dan Nilai Budaya, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kemdikbud RI, "Atlas Pelabuhan-Pelabuhan Bersejarah di Indonesia"

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini