53 Tahun ASEAN: Menjawab Tantangan Di Depan Mata

53 Tahun ASEAN: Menjawab Tantangan Di Depan Mata
info gambar utama

Beberapa hari lalu, saya mendapatkan undangan untuk menghadiri peringatan 53 tahun Asean dari ASEAN Secreatariat di Jakarta. Yang berbeda, tahun ini, peringatan akan diadakan secara online. ASEAN, bagaimanapun, sedang berduka. Sebuah kawasan yang sebelumnya menjadi hotspot pertumbuhan ekonomi di Asia, kini sedang bergulat dengan berbagai kesulitan yang disebabkan oleh pandemi Covid19. Sepuluh negara ASEAN yang sebelumnya riuh rendah saling membuka diri dan perbatasan, kini menutup diri, was was, dan dihantui resesi.

Tahun ini, suasananya begitu berbeda. Vietnam yang mendapatkan jatah menjadi Ketua ASEAN 2020, tak mampu berbuat banyak. Program-program yang sudah begitu rapi dan lama disusun, terpaksa tidak berjalan secara maksimal, juga karena pandemi. Meski begitu, ASEAN memang tetap berjalan, tetap berkoordinasi, dan tetap sebuah organisasi yang penting. Dan ini perlu terus dikabarkan dan difahamkan terutama kepada kaum muda, akan pentingnya ASEAN, dan kesempatan-kesempatan yang terbuka karena adanya ASEAN.

Indonesia juga tetap memandang penting ASEAN, pun ASEAN juga memandang Indonesia sebagai 'pemimpin' organisasi tersebut, meski ketuanya dipegang oleh negara-negara lain secara bergantian. Menurut hemat saya, Indonesia sudah cukup baik memainkan peranannya sebagai 'pemimpin de facto' ASEAN, dengan terus menjadi penyeimbang antara berbagai kepentingan masing-masing negara anggota. Dengan main memanaskan hubungan dua negara adidaya, Amerika Serikat dan China, Indonesia juga rasanya berhasil menempatkan diri secara baik tanpa perlu menunjukkan kecondongan ke salah satu pihak, seperti yang dilakukan oleh anggota-anggota ASEAN lain.

Pandemi ini juga menjadi katalisator baru kebijakan-kebijakan proteksionis di banyak negara. Sebagai sebuah organisasi yang menjunjung tinggi "Cohesiveness and Responsiveness” ASEAN perlu mempertegas kembali posisi ini dan menjadi contoh bagaimana seharusnya hubungan antar negara dibangun.

Terakhir, ASEAN harus terus menyesuaikan diri dengan perkembangan dunia di berbagai bidang, dan tetap menjadi sebuah organisasi besar yang relevan bagi kaum muda, penerus Asia Tenggara masa depan. Inovasi-inovasi yang memungkinkan anak-anak muda ASEAN mampu berkontribusi langsung maupun tidak langsung, akan membuatnya menjadi organisasi yang tak hanya penting bagi anak-anak muda itu, namun juga bisa menjadi guiding light mereka untuk memahami tantangan-tantangan global mulai dari kemiskinan, kesenjangan pendapatan, hingga perubahan iklim dan pemanasan global.

Selamat ulang tahun ke-53, ASEAN. Jayalah selalu

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini