Sejarah Hari Ini (10 Agustus 1867) - Jalur Kereta Api Pertama di Pulau Jawa Dibuka

Sejarah Hari Ini (10 Agustus 1867) - Jalur Kereta Api Pertama di Pulau Jawa Dibuka
info gambar utama

Kebutuhan transportasi umum yang lebih modern dicoba digalakkan pemerintah kolonial di Hindia Belanda (sekarang Indonesia).

Transportasi umum sangat dibutuhkan dalam berbagai sektor di antaranya ialah perekonomian dan mobilisasi militer.

Berdasarkan berbagai usulan yang masuk ke Pemerintah Belanda, akhirnya diputuskan bahwa pihak swasta akan diberi kesempatan untuk ikut serta mengembangkan jaringan kereta api di Hindia Belanda khususnya Pulau Jawa.

Pada 31 Oktober 1852, Pemerintah Belanda mengeluarkan surat keputusan nomor H22 yang menetapkan pemberian kemudahan bagi kalangan swasta yang bermaksud mendapatkan konsesi pembukaan jaringan transportasi kereta api di Jawa Tengah.

Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij (NISM atau NIS) pimpinan J.P. de Bordes yang menyerahkan konsesi akhirnya diberikan izin membuka jalur kereta api dari Semarang menuju Solo/Surakarta atau saat itu disebut Vorstenlanden (wilayah kerajaan-kerajaan bangsawan Jawa, daerah yang produktif hasil pertanian, tetapi sulit dijangkau).

Pada 17 Juni 1864, pencangkulan pertama pembangunan jalur dilakukan di Desa Kemijen oleh Gubernur Jendral Hindia Belanda Mr. L.A.J Baron Sloet van de Beele.

Suasana kesibukan pembangunan jalur kereta api Semarang-Tanggung. (Sumber: Koleksi Album NISM)
info gambar

Tenaga upahnya saat itu berasal dari Blora, Rembang, dan Jepara.

Barulah pada Sabtu, 10 Agustus 1867, jalur kereta api Kemijen, Semarang (saat itu disebut Samarang) sampai Tanggung, Grobogan, diresmikan.

Stasiun Tanggung merupakan stasiun kereta api tertua kedua di Indonesia yang kini terdaftar sebagai aset PT KAI.
info gambar

Pembukaan jalur yang jauh dari kemeriahan itu dibuka oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Ary Prins.

Adapun jalur tersebut berjarak 25 kilometer dengan lebar sepur 1.435 milimeter.

Lokomotif kereta yang dipakai pada saat itu memakai kereta bertenaga uap yang diproduksi di Pabrik Borsig, Berlin, Jerman.

Sebelum jalur dibuka, NISM sudah memesan dua lokomotif dari pabrik tersebut sejak tahun 1863.

Foto yang diambil pada 1990 ini merupakan foto lokomotif kereta api generasi pertama di Jawa yang dipesan NISM.
info gambar

Dua tahun sebelum jalur diresmikan, dua lokomotif dengan nomor seri NIS 1 dan NIS 2 dioperasikan guna membantu mempercepat pemasangan rel sekaligus melatih para masinis mengoperasikan lokomotif.

Referensi: Komunitas Sejarah Perkeretaapian Indonesia, "Buletin Bersama Media Komunikasi & Literasi Sejarah Perkeretaapian Indonesia" | Joko Darmawan, "Sejarah Nasional: Ketika Nusantara Berbicara" | Purnawan Basundoro, "Arkeologi Transportasi: Perspektif Ekonomi dan Kewilayahan Keresidenan Banyumas 1830-1940an" | Prita Ayu Kusumawardhani, "Kereta Api di Surabaya 1910-1930" | Hermanto Dwiatmoko, "Peran Transportasi Perkeretaapian: Dalam Pembangunan Nasional Melalui Analisis Input-Output Edisi Pertama"

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini