Peradaban Tambora yang Terkubur

Peradaban Tambora yang Terkubur
info gambar utama

Sebelum April 1815, lubang Kaldera Gunung Tambora adalah bebatuan yang menjulang dengan ketinggian 4.200 meter dari permukaan laut (mdpl). Letusan hebat telah melenyapkan nyaris separuh tubuh gunung, menyisakan ketinggian Tambora menjadi hanya 2.751 mdpl.

Sebagian besar kepuluan Indonesia diselimuti kegelapan selama tiga hari, akibat dari banyaknya jumlah erupsi abu. Suara ledakan disertai letusan, bahkan terdengar sampai ke Sumatera.

Letusan dahsyat tersebut dipicu oleh kondisi geologi sekitar Tambora yang kompleks. Ahli geologi, Jelle Zellinga de Boer dan Donald Thedore Sanders, dalam buku mereka, Volcanoes in Human History (2001), menyebutkan bahwa Tambora berada di dua zona sesar yang bersilang, yaitu Sesar Jawa dan Sesar Sumba.

Tumpukan Lempeng Indo-Australia yang bergerak ke arah utara dengan Lempeng Indo Australia yang bergerak ke arah utara dengan Lempeng Eurasia yang bergerak ke arah timur menjadi penyebab munculnya sesar itu.

"Celah yang terbentuk di zona sesar inilah yang menjadi jalan bagi magma untuk naik dari bawah bumi ke permukaan. Letusan Tambora merupakan penanda sejarah tentang sejarah tentang begitu labilnya kondisi geologi Nusantara, di mana Nusantara berada di zona Cincin Api dunia dan diimpit tiga lempeng benua yang bertubrukan, yaitu Indo-Australia dari sebelah selatan, Eurasia dari utara, dan Pasifik dari timur," dikutip dari buku Ahmad Arif, Tambora Mengguncang Dunia.

Gunung Tambora meletus sekitar tanggal 11-14 April 1815, sehingga mengubur kerajaan yang terdapat di daerah tersebut, yakni Kerajaan Tambora dan Pekat. Tim peneliti yang dipimpin oleh ahli Botani Swiss, Haraldur Sigurdsson dari Rhorde Island University, USA, bekerja sama dengan Direktorat Vulkanologi Indonesia menentukan sejumlah bukti kehidupan masyarakat Tambora tahun 1815 Masehi.

Penelitan tahun 2007 oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional menemukan antara lain atap bangunan, anyaman bambu, buli-buli keramik, tali tambang, pisau, pemecah pinang, tikar lampit dan padi. Dari catatan sejarah, sebelum Gunung Tambora meletus, terdapat tiga kerajaan di sekitar wilayah tersebut, yakni Kerajaan Tambora, Pekat, dan Sanggar.

Pasca Letusan Tambora dan Peradaban yang Terdampak

Secara geografis, situs Tambora terletak di barat lereng Gunung Tambora, dan secara administratif masuk wilayah Dusun Oi Bura, Desa Tambora, Kecamatan Tambora, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat.

Letusan Gunung Tambora tahun 1815 mengakibatkan porak-porandanya kawasan yang sebelumnya subur menjadi kering akibat timbunan abu dan bebatuan serta hempasan panas Gunung Tambora. Lebih dari itu, letusan gunung ini menyebabkan perubahan iklim dunia, satu tahun berikutnya (1816) sering disebut sebagai tahun tanpa musim panas karena perubahan drastis dari cuaca Amerika Utara dan Eropa akibat awan panas yang dihasilkan dari letusan Tambora ini.

Ditemukannya artefak istimewa pada ekskavasi situs Tambora antara lain berupa komponen atap rumah, keramik dengan berbagai ragam hias, cincin-cincin permata dan tiang petaka mengindikasikan bahwa barang-barang jenis tersebut umunya tidak dimilki orang kebanyakan.

Permasalahan yang kemudian muncul adalah benarkah temuan-temuan yang ada di situs Tambora mengindikasikan pernah adanya kerajaan yang terkubur?

Menurut I Made Geria, Menyingkap Misteri Terkuburnya Peradaban Tambora dari temuan sisa bangunan yang ada, dapat diidentifikasi arsitektur bangunan situs Tambora pada masa itu. Pengaman pada sejumlah temuan komponen memperlihatkan bahwa bangunan tersebut diduga merupakan bangunan arsitektur biologis dengan menggunakan konstruksi kayu dan bambu seperti umumnya bagunan arsitektur Nusantara pada masa itu.

"Diperkirakan bentuknya seperti rumah adat di pulau Sumbawa, yakni semacam rumah panggung dengan ukuran yang tidak terlalu besar. Atap rumah umumnya terbuat dari bambu dan alang-alang dengan tali pengikut, sementara bagian reng, iga-iga, penjepit atap, dan lis plang terbuat dari kayu. Keberadaan umpak dari batu kali dimaksudkan untuk menahan beban konnstruksi tiang bangunan," jelas I Made.

Dari bukti-bukti artefaktual diketahui bahwa karakter masyarakat Tambora bukanlah agraris, tapi lebih berpola pada kegiatan dagang atau industri. Pola-pola kebudayaan yang dimiliki ini dipengaruhi oleh hubungan dengan pihak luar mengingat secara geografis letak wilayah Kerajaan Tambora yang strategis tidak jauh dari lalu lintas laut.

Perkenalan warga Tambora dengan masa lalu Gunung Tambora hanya terbatas pada pecahan keramik, tembikar, koin, dan perhiasan yang digali dari dalam tanah. Hampir semua warga Tambora pernah menemukan artefak masa lalu itu. Barang-barang temuan itu biasanya disimpan warga, terkadang dijual kepada kolektor yang datang dari kota, bahkan dari luar negeri.

"Sigurdsson menggali di Oi Bura, tak seorang warga pun menyadari bahwa mereka hidup di atas tulang-belulang penduduk Kerajaan Tambora. Jejak petaka ini tidak terekam jelas dalam ingatan warga Pulau Sumba. Mereka hanya mengingatnya sebagai "zaman hujan au (abu)", tetapi tidak pernah secara langsung mengaitkannya dengan letusan Tambora," jelas I Made Geria.

Berbagai literatur menyebutkan bahwa letusan Gunung Tambora menjadi akhir dua kerajaan, yaitu Pekat dan Tambora. Satu kerajaan di lereng timur Tambora, yaitu Sanggar disebut-sebut berhasil bertahan. Lolosnya Sanggar dari bencana dahsyat ini tetap menyisakan kepedihan, ketidakpastian, dan teka-teki sejarah.

Apalagi, menurut catatan Siti Maryam, kerajaan Sanggar kemudian dihapus Belanda pada tahun 1926 dan diserahkan kepada Kerajaan Bima untuk menggantikan wilayah pemerintah Bima di Manggarai (Flores Barat). Di Sanggar, kini hanya ada segelintir orang yang mampu menuturkan bahasa Kore. Bahasa Kore sangat berbeda dengan bahasa Bima yang dominan di daerah itu.*

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini