Akhirnya Dialiri Listrik, Ini Rahasia Pulau ‘Surga’ Meti yang Jarang Diketahui

Akhirnya Dialiri Listrik, Ini Rahasia Pulau ‘Surga’ Meti yang Jarang Diketahui
info gambar utama

Kabar baik kali ini datang dari Pulau Meti, Kecamatan Tobelo, Kabupaten Halmahera, Maluku Utara. Pasalnya wilayah yang pernah dijuluki sebagai ‘Perawan Idola Tobelo Timur’ itu kini sudah bisa dialiri listrik oleh PLN.

Diwartakan Warta Ekonomi, akhirnya PLN berhasil mengaliri jaringan listrik ke Pulau Meti melalui jaringan listrik yang menyeberangi laut sepanjang 800 meter. Direktur Bisnis PLN Regional Sulawesi, Maluku, Papua, dan Nusa Tenggara, Syamsul Huda, menyampaikan bahwa sambungan listrik ini nantinya akan menerangi Pulau Meti yang dihuni 849 kepala keluarga itu.

Melihat kondisi geografis kepulauan tersebut, rupanya PLN membangun jaringan distribusi sebesar 20 kV dengan menggunakan tower transmisi yang diberi nama Meti Crossing.

Jaringan 20 kV ini nantinya akan menghubungkan listrik Desa Mawe di Pulau Halmahera ke Pulau Meti melalui Pulau Magaliho dan Pulau Gumilamo.

Dengan adanya dukungan listrik maka ini bisa mendongkrak geliat pariwisata dan ekonomi di Pulau Meti. Untuk diketahui, Pulau Meti merupakan surga tersembunyi lainnya yang dimiliki oleh Indonesia. Selain memiliki kekayaan wisata bahari yang sangat indah, di sini juga menjadi tempat saksi bisu peninggalan sejarah pada masa Perang Dunia II.

Lebih tepatnya, Kawan GNFI akan menemukan bekas markas Jepang untuk bertempur melawan sekutu yang saat itu mendirikan pangkalan di Pulau Morotai. Selain masih ada beberapa kendaraan yang pernah dipakai dalam berperang, konon masih banyak peninggalan pesawat tempur Jepang di dasar pulau tersebut.

Berwisata Sambil Beramal di Meti

Saat masih berjuang mengambil gelar Master of Business Administration di Jerman, Supriadi sudah tertarik dengan Maluku Utara. Dia ingin memajukan wilayah itu. Sampai akhirnya dia membangun Meti Cottage.

Sebuah konsep pariwisata yang berkelanjutan, ia membangun bisnis untuk bisa memajukan kualitas pendidikan dan lingkungan masyarakat setempat. Sebanyak 20 persen dari hasil pendapatan Meti Cottage, dia sisihkan untuk program pendidikan bagi anak-anak usia sekolah dasar dan menengah pertama.

‘’Saat ini, kami buat program belajar Bahasa Inggris, setelah itu Bahasa Jerman dan Prancis. Saya meyakini, pendidikan adalah solusi untuk anak-anak di daerah tertinggal,’’ ungkap Supriadi kepada Kumparan (26/6/2019).

Berkat semangatnya, kini sudah ada 100 anak di Pulau Meti yang belajar bahasa Inggris. Bahkan mereka juga diajarkan untuk mencintai lingkungan mereka dengan membiasakan membersihkan ‘surga’ mereka dari sampah plastik.

Jika Kawan GNFI pergi ke Pulau Meti, Kawan akan dimanjakan matanya oleh arsitektur Meti Cottage yang dibangun menggunakan limbah kayu yang terapung di laut. Jika senja tiba, suasana romantis langsung menyeruak ke seluruh pulau.

Jangan heran kalau pihak Meti Cottage, bahkan Supriadi sendiri akan menghampiri Kawan GNFI langsung di sana untuk bergabung menjadi relawan atau berdonasi bagi siapa saja yang peduli terhadap pendidikan anak-anak Pulau Meti.

Jadi bisa liburan sambil beramal sehingga bermanfaat untuk berkontribusi memajukan daerah-daerah yang tertinggal.

Meti Kei, Fenomena Laut Surut yang Unik

Pesona Meti Kei
info gambar

Agak bergeser ke Maluku Tenggara, keindahan sekitar dari Pulau Meti ini akan terasa lengkap jika Kawan GNFI juga mengunjungi Kepulauan Kei.

Kepulauan Kei merupakan gugusan pulau-pulau dengan pulau besar yaitu Pulau Kei Besar dan Kei Kecil. Ada banyak potensi wisata bahari disini ditemani dengan panorama pulau yang cantik dengan pasir putih yang eksotis.

Jika beruntung, Kawan GNFI akan melihat salah satu fenomena unik yang bisa dijumpai di sekitar Pulau Kei. Fenomena di mana air laut surut terbesar dan terluas akan terjadi di Kepulauan Kei. Fenomena ini disebut Meti Kei.

Rupanya ‘Meti’ merupakan bahasa Maluku yang berarti ‘kering kerontang’. Sesuai namanya, air laut surut terbesar dan terluas itu akan terjadi sehingga masyarakat akan menyebutnya dengan Meti Kei.

Biasanya fenomena ini terjadi selama dua bulan dalam setahun, yaitu pada Oktober-November, dan akan terjadi selama beberapa jam dalam sehari. Jika Meti Kei terjadi maka Kawan GNFI akan melihat luas pantai bisa bertambah hingga 500-700 meter ke arah laut.

Itu artinya, Kawan GNFI bisa ke tengah laut tanpa harus berenang ke sana. Beberapa wisatawan juga turut memanfaatkan momen ini untuk membantu para nelayan. Sebab, fenomena alam ini membuat para nelayan bisa dengan mudah menggiring tangkapan laut ke arah pantai. Kita pun bisa membantu dengan cara mengambil ikan yang tergeletak menggelepar di tempat yang surut.

Selain itu biasanya masyarakat dan pemerintah setempat juga akan memanfaatkan waktu ini untuk menggelar acara Festival Pesona Meti Kei yang dilaksanakan di pantai yang surut itu.

Pasti akan jadi pengalaman yang baru, bukan?

Tertarik untuk berkunjung ke Maluku?

--

Sumber: Warta Ekonomi | Kumparan

--

Baca Juga:

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dini Nurhadi Yasyi lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dini Nurhadi Yasyi.

Terima kasih telah membaca sampai di sini