Potret Citra Perempuan Eropa di Hindia Belanda

Potret Citra Perempuan Eropa di Hindia Belanda
info gambar utama

Kaum laki-laki kolonial menggerakan istri dan anak-anak perempuan mereka untuk turut serta memikul beban mereka sebagai penggerak hierarki internal dan harga diri moral masyarakat kulit putih, tetapi akan serta merta meyalahkan perempuan atas semua kegagalan reputasi status kulit putih. Karena perempuan bertanggung jawab menjaga nilai-nilai kulit putih masyarakat eropa yang murni. Sementara laki-laki Belanda dapat dengan bebas hidup bersama perempuan pribumi seperti pembantu rumah tangganya tanpa kritik moral. Masyarakat kolonial cenderung mengucilkan perempuan Belanda yang terlibat seksual dengan laki-laki Indonesia.

Diambil dari buku Frances Gouda, Dutch Culture Overses : Praktik Kolonial di Hindia Belanda, ironi ini menunjukan bahwa ruang-ruang pribadi kulit putih perempuan tidak benar-benar pribadi. Karena para suami dan anak-anak mereka hampir selalu dapat masuk ke dalamnya kapan pun mereka suka. Sementara laki-laki Belanda tetap tidur atau menikah dengan perempuan Indonesia, atau perempuan berdarah campuran, tanpa tersentuh hukum hingga berakhirnya kekuasaan kolonial Belanda di kepulauan Indonesia.

"Jadi. perilaku seksual perempuan berkulit putih, sama halnya dengan perempuan peribumi di Hindia, dibangun berdasarkan, atau dihubungkan dengan, program-program resmi imperial," jelas Frances.

Di samping itu, karena para ayah dapat menerima kebijakan tahun 1898 yang memaksa perempuan Belanda untuk melepas status Eropanya yang suci apabila mereka terikat dengan laki-laki Indonesia. Sehingga kebijakan itu akan membuat para gadis kulit putih berpikir dua kali, meredam ketakutan masyarakat maskulin Belanda terhadap laki-laki Indonesia yang akan masuk ke keluarganya.

Meskipun demikian, perempuan-perempuan Belanda terkadang dipersalahkan karena berperilaku tidak sopan sehingga menjatuhkan martabat bangsa kulit putih. Meskipun jarang terjadi, setiap hubungan asmara antara perempuan Belanda dan laki-laki Indonesia akan membangkitkan gunjingan dan kekerasan. Pada tataran tingkat yang lebih umum, rumah-rumah orang Eropa di Hindia Belanda dianggap kurang memilki privasi hingga membuat banyak perempuan di dalamnya merasa terkespos dan tanpa pertahanan, bahkan ada di antara mereka yang menjadi pemarah dan sulit diatur.

"Di dalam pandangan para lelaki penjaga imperialisme Eropa udara panas atau kesepian mempengaruhi sejumlah perempuan kulit putih, yang seharusnya bersikap sopan ini, sehingga membuat perempuan-perempuan itu kurang menjaga busana dan perilakunya. Sedemikian rupa, perempuan-perempuan kulit putih, bahkan yang paling pemalu dan pendiam, dapat dengan ceroboh mencoba menggoda laki-laki pribumi, sehingga para laki-laki tersebut kehilangan kendali atas dorongan seksual mereka. Usaha pengendalian atas perilaku perempuan kulit putih di Indonesia, dilakukan dengan alasan untuk melindungi mereka dari ketakutan akan dinodai oleh seksualitas laki-laki pribumi dan juga menjaga nilai-nilai luhur kekuasaan kolonial Belanda," kata Frances.

Perempuan Kolonial Menikahi Pria Pribumi

Pernikahan lelaki pribumi terjumpa di Maluku dan Manado, mereka menikahi sesuai tradisi Kristen. Sebab VOC belum mengeluarkan hukum khusus tentang pernikahan lelaki bumiputra dengan perempuan Eropa. Maka konsekuensi status hukum pernikahan tersebut tak jelas. Misalnya bagaimana status suami dan istri, berikut pula pembagian hak dan kewajiban mereka dan keturunannya.

Memasuki abad ke 19, status hukum pernikahan lelaki Bumiputera dengan perempuan eropa mulai jelas. "Hukum sipil, untuk orang-orang Eropa telah menentukan bahwa laki-laki Indonesia yang menjadi pasangan resmi perempuan Belanda akan mendapat klasifikasi Eropa seperti istrinya melalui perkawinan," tulis Frances.

Tiga tahun setelah hukum terbit, Raden Saleh, pelukis senior bumiputera, menikah dengan perempuan Eropa,"Saleh memberikan contoh bagi generasi orang Indonesia berikutnya yang belajar Belanda dengan menikahi perempuan Eropa ketika pulang ke Indonesia," dikutip dari Historia.id.

Selama beberapa tahun ke depan, pernikahan serupa laku Raden Saleh mengemuka di Hindia Belanda. Jumlah tak tercatat pasti. Masih jauh lebih kecil daripada pernikahan lelaki eropa dan perempuan bumiputera. Tapi ini tetap membuat khawatir khalayak Eropa dan pemerintah kolonial. Mereka kini mulai mengubah pandanganya perihal pernikahanya itu.

Perkawinan semacam ini baru menjadi umum pada dasawarsa pertama abad ke-20. Van Marle menyebutkan sepuluhan perkawinan sejenis pada periode tersebut, di antaranya : Dr Abdul Rivai, Lukman Djajadiningrat, penyair Noto Suroto, Dr Radjiman, Dr. Ratu Langie, Sutan Sjahrir, Sukawati, Kolonial Surio Santoso, Dr Tjipto Mangunkusumo.

Saking seringnya pernikahan lelaki bumiputra dengan perempuan Eropa, media massa ikut membahasanya : "Soeara Perempoean di Padang Panjang. Soenting Melajoe di Padang dan Perempoean Bergerak, sudah banyak diperkatakan hal ini," tulis Bintang Hindia, 14 Februari 1925.

Perdebatan pun kembali mengemuka. Bintang Hindia menolak pernikahan antar ras di kalangan intelektual. "Jadi tiap perkawinan campuran kedua bangsa itu akan menguatkan ikatan Hindia Belanda kepada Belanda," tulis redaksi Bintang Hindia. Mereka meminta kaum intelektual memilih gadis bumiputera sebagai pendampingnya dalam biduk rumahtangga. toh, pernikahan campur terus berlangsung, tak habis-habis, tak sudah-sudah.

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini