Pakubuwono X, Raja Pemilik Mobil Pertama di Indonesia

Pakubuwono X, Raja Pemilik Mobil Pertama di Indonesia
info gambar utama

Mobil pertama yang dimiliki oleh orang Indonesia, Benz Victoria Phaeton, segera dipulangkan. Mobil milik Raja Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, Pakubuwono X, itu kini disimpan di Museum Louwman, Belanda. Benz Victoria Phaeton merupakan mobil roda empat pertama yang dimiliki oleh orang pribumi. Pakubuwono X memesan mobil tersebut dari Eropa dengan harga 10.000 Gulden pada 1894. Mobil tersebut merupakan salah satu yang paling mewah pada zamannya. Sebab, kendaraan sultan dan pejabat di masa kolonial Belanda mayoritas menggunakan kereta kuda.

Pakubuwono X memang merupakan sosok yang eksentrik, selain memiliki mobil, ia pun terkenal sangat dermawan. Pakubuwono X memiliki nama asli Raden Mas Gusti Sayyidin Malikul Kusna yang lahir pada tahun 29 November 1866. Dirinya merupakan putra mahkota dari Susuhunan Pakubuwono IX dan Gusti Kanjeng Ratu Pakubuwuno. Rakyat yang mendengar dentum meriam ikut berbahagia sebab menurut pandangan orang jaman dulu kelahiran putra mahkota atau Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom akan menjamin kesejahteraan dan kemakmuran negara.

Ketika memasuki usia remaja, Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom dikenal memiliki keterampilan orasi yang baik. Ia sudah menjadi buah bibir dimasyarakat karena begitu mempesona menggunakan bahasa Melayu dengan perkataan yang begitu jelas, tuntas dan tepat. KGP Adipati Anom mulai diberikan kewajiban memimpin jabatan dipengadilan kabupaten Anom pada tahun 1886. Setahun kemudian beliau sudah mulai mengenakan bintang pusaka di kadipaten. Sekitar setahun menjelang meninggalnya Pakubuwono IX yaitu pada 16 Maret 1893, KG Adipati Anom dipanggil ayahandanya di Jongringsalaka, untuk mendengar wejangan. Barulah pada 20 Maret 1893 KGP Adipati Anom dinobatkan menjadi raja.

Strategi Dua Muka untuk Hadapi Kolonialisme

Pakubuwono X adalah raja dalam arti sebenar-benarnya, ia bergelimang harta dan hidup bermewah-mewahan. Pendamping hidupnya pun amat banyak, tercatat PB X punya 2 permaisuri dan 39 selir. Dari 41 istrinya itu, Sang Susuhunan dikaruniakan 63 orang anak. Zaman PB X berkuasa adalah masa-masa tenang. Pergolakan fisik terhadap Belanda mulai berkurang, berganti perlawanan dengan cara lain, yaitu mulai berorganisasi. Pakubuwono X cukup jeli melihat perkembangan situasi ini Ia pun memasang dua wajah untuk menjalani kehidupannya sebagai raja di negeri yang masih dikuasai bangsa asing.

Kejelian PB X ini membuatnya menjadi raja paling istimewa dalam dinasti Mataram Surakarta. Pada masanya, hanya Surakarta yang bisa mengibarkan panji bendera gula kelapa merah putih secara bebas sementara daerah lain hanya bisa mengibarkan bendera Belanda. Selain itu, pada masa pemerintahnya kondisi negara stabil dan nyaris tanpa kendala sehingga mampu meningkatkan kesejahteraan pada rakyatnya.

Belanda memang awalnya menganggap Pakubuwono X lemah dan tidak cakap, apalagi beliau suka hidup mewah,suka makan enak, dan mengenakan busana kebesaran berlebihan dilengkapi lencana dan bintang kehormatan. Bahkan karena kedekatannya dengan pihak kolonial, dirinya mendapat seabrek dari pemerintah Hindia Belanda, dilansir dari buku Keraton Surakarta, penghargaan prestisius yang pernah diterimanya adalah gelar Sri Maharaja dari Ratu Wilhelmina berupa Grootkrius in de Nederlendse Leeuw.

Relasi bagus dengan Ratu Wilhelmina ini jelas menguntungkan bagi keraton. Di puncak masa kekuasaannya, ia menggalakkan pembangunan Surakarta. Menurut Djoko Darmawan dalam Mengenal Budaya Nasional Trah Raja-raja Mataram di tanah Jawa (2017), Pasar Gede Harjonagoro, Stasiun Jebres, Stasiun Balapan, Kebun Binatang, dan Jembatan Jurug, rumah pemotongan hewan, rumah singgah bagi Tunawisma, juga merintis stadion dan Taman Sriwedari serta Museum Radyapustaka. Fasilitas publik lain yang ia bangun di antaranya Gereja St Antonius dan Rumah Sakit Kadipolo.

Namun, pada sisi lain PB X juga mendedikasikan untuk mendukung perjuangan para aktivis pergerakan nasional. Saat Boedi Oetomo (BO) didirikan di Batavia pada 20 Mei 1908, PB X memberikan apresiasi. PB X juga menganjurkan agar kerabat keraton menjadi pengurus organisasi Boedi Oetomo. Sikap serupa diberikan kepada Serikat Islam (SI), salah satu dukungan yang diberikan adalah sama-sama membendung aktivitas misionaris Kristen di Surakarta.

PB X pun sangat dicintai oleh rakyatnya, hal ini karena sikap dermawannya. Setiap hari kamis PB X, menetapkan sebagai hari dimana raja membagi sedekah langsung kepada rakyatnya. Rakyat miskin atau kaya berduyun-duyun mengharap berkah dari raja yang dicintainya, pada masa itu tujuan rakyat bukan semata-mata ingin mendapat uang lebih tapi ngalap berkah dari pemberian sang raja. Nah karena berharapnya berkah itu dihari Kamis (Kemis dalam bahasa Jawa) sehingga mereka menyebutnya ngemis (mengharap berkah di hari kemis) sedangkan orangnya disebut pengemis (para pengharap berkah di hari kemis).

PB X berhasil bertahan selama 46 tahun sebagai Raja Surakarta, dengan berbagai dinamika di tengah kehidupan kolonial. Melalui strategi ganda, ia sanggup melewati era pemerintah 10 Gubernur Jenderal Hindia Belanda dan 13 Residen Surakarta. PB X wafat pada 22 Februari 1939 dalam usia 72 tahun, rakyat Surakarta menyematkan julukan baginya, Ingkang Sinuwun Minulya saha Ingkang Wicaksana yang berarti Paduka yang Mulia dan Bijaksana. Pada 2011, pemerintah RI memberi gelar Pahlawan Nasional kepada Susuhunan Pakubuwono X.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini