Bagurau Merah Putih : Untuk Indonesia Menuju Dunia, Tradisi Bagurau Dari Sumatera Barat Digelar Virtual 24 Jam Nonstop

Bagurau Merah Putih : Untuk Indonesia Menuju Dunia, Tradisi Bagurau Dari Sumatera Barat Digelar Virtual 24 Jam Nonstop
info gambar utama

Peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia selalu disambut dengan penuh suka cita oleh seluruh masyarakat Indonesia. Berbagai kegiatan dilaksanakan untuk memperingati dan memaknai serta melanjutkan hasil dari perjuangan para pendahulu sehingga lahir bangsa yang hari ini dikenal dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia, menyatu dari berbagai keanekaragaman dan kemajemukan yang menjadi kebanggaan dan kekuatan tersendiri bangsa ini.

Hal ini juga direspon oleh Tim Gerakan Bagurau Owek Owek, sebuah gerakan kolaborasi pelaku budaya di Sumatera Barat yang lahir dalam kondisi pandemi COVID-19 dan mensiasati pengembangan budaya melalui perkembangan teknologi serta media sosial hari ini. Dengan melaksanakan Bagurau virtual 24 Jam Non Stop yang dimulai pada tanggal 16 Agustus 2020 pukul 20.00 dan berakhir pada tanggal 17 Agustus 2020 pukul 20.00 bertempat di Laga - laga Taman Budaya Sumatera Barat, Padang. Kegiatan ini melibatkan pelaku tradisi kesenian Minangkabau seperti pelaku saluang, rabab dan dendang serta didukung penampilan puisi dari penyair Minangkabau yang berkarir di Jakarta.

"Kegiatan ini dalam rangka memeriahkan HUT RI yang ke 75 tahun, Sebuah makna yang kita harus pahami bersama, bahwa ini adalah sebagai bentuk kemerdekaan dari seniman seniman tradisi Minangkabau dalam berekspresi dan berbuat. Dan sebagai bentuk bahwa kepedulian utk seni tradisi tak harus berasal dari pelaku seni tradisi itu sendiri, semua pihak bisa mengambil tempat dan peran masing masing" ujar Joni Andra seorang Koreografer Tari Sumatera Barat yang menjadi salah satu perintis gerakan Bagurau Owek - Owek.

Bagurau (bahasa Indonesia: bergurau), kadang disebut pula badendang (bahasa Indonesia: berdendang) adalah sastra lisan Minangkabau yang tersebar luas di hampir wilayah Minangkabau. Sastra lisan ini berbentuk pendendangan pantun-pantun lepas dengan iringan alat musik Minangkabau saluang atau rabab. Sesuai namanya, tujuan bagurau adalah untuk bergurau atau berkelakar dengan tema-tema meliputi: keluh-kesah, kedukaan, sindiran, ajakan, dan rayuan. Irama dalam bagurau disebut lagu. Dalam bentuk pertunjukkan, bagurau dilakukan oleh dua orang atau lebih: satu orang pemain saluang dan satu atau dua orang pendendang. Dalam pertunjukkan ini, pendendang menciptakan pantun-pantun tersebut secara spontan. Selain sebagai pertunjukkan, bagurau juga dilakukan oleh orang-orang sepergaulan yang sedang bekerja bersama-sama. Mereka berdendang saling bergantian. Karena bukan sebagai pertunjukkan, kegiatan bagurau ini kadang diiringi saluang dan kadang tidak.Di pertunjukkan bagurau, kita akan menemukan unsur-unsur yang saling berkaitan satu sama yang lainnya. Misalnya saja penonton dengan penampil tentu saling saling memenuhi keduanya. Jika si penonton tidak ada di lapangan, maka ppertunjukkan bagurau bisa saja tidak terlaksana dengan baik. Tidak hanya itu saja, pemusik dan pedendang pun menjadi hal penting dalam pertunjukkan bagurau. Untuk lanjutnya akan dibahas satu persatu, sebagai berikut:Penampil atau yang sering disebut pedendang merupakan orang yang berperan. Penampil dalam pertunjukkan bagurau terdiri dari empat penampil atau bisa lebih dan kurang. Mereka mempunyai kelebihan dan saling mendukung agar terjalannya pertunjukkan. Penampil tentu telah siap mental dan fisik untuk bisa menjalankan pertunjukkan yang berlangsung cukup lama dari selesai Isya’ sampai menjelang Subuh. Tentu saja, penampil sudah cukup mempunyai stamina. Untuk itu, penampil tentu saja telah siap dalam segala hal, yang membuatnya bisa berguarau sampai usai.

Kegiatan bagurau merah putih 24 Jam Non Stop ini didukung oleh UPTD Kementerian Pendidikan Dan kebudayaan Republik Indonesia melalui Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat , Dinas Kebudayaan Provinsi Sumatera Barat, UPTD Dinas Kebudayaan Provinsi Sumatera Barat melalui Taman Budaya Sumatera Barat hingga penggemar malam bagurau yang banyak berasal dari kalangan perantau Minangkabau.

"Kegiatan Malam Bagurau adalah sebuah aktivitas budaya yang mempunyai nilai positif dan patut ditiru oleh Komunitas atau masyarakat budaya didaerah lain ditengah pandemi COVID-19, aktivitas ini memberikan warna dan nuansa tradisi untuk masyarakat Sumatera Barat baik diranah maupun dirantau.Harapan kedepannya lebih dapat meningkatkan keragaman konten dan berkolaborasi dengan bentuk kesenian lainnya" Ujar Ilfitra, Kepala Bidang Kesenian dan Diplomasi Budaya Dinas Kebudayaan Provinsi Sumatera Barat.

Dilain sisi Joni Andra selaku salah satu perintis gerakan dan kegiatan ini menyampaikan setidaknya seniman tradisi saluang dendang, telah berbuat dan melakukan catatan sejarah, walau tak mampu mencatatkan kedalam rekor MURI, namun setidaknya, semua mengakui bahwa ini adalah rekor dunia dibuktikakan dengan Nonstop Pertunjukan Kesenian Tradisi virtual.

Gerakan bagurau owek owek yang awal bernama malam bagurau ayo lawan karona merupakan gerakan yang lahir dari keinginan bersama Hasanawi Langkok Grup (Pelaku Tradisi), Joni Anda (Koreografer Tari) dan Asro Sikumbang Minangkabau (Pengamat, pemerhati dan pecinta kebudayaan) untuk mengangkat tradisi melalui perkembangan teknologi dan media sosial. Gerakan ini muncul ketika wabah covid melanda yang turut memberi dampak langsung kepada pelaku kebudayaan khususnya pelaku tradisi. Selain itu gerakan ini juga menjadi media sosialisai pencegahan covid dimasa pandemi, ruang ekspresi pelaku tradisi, ruang promosi dan publikasi kesenian tradisi, serta hiburan untuk masyarakat Minangkabau di berbagai penjuru khususnya dan masyarakat luas umumnya. Kegiatan malam bagurau owek owek dilaksanakan hingga saat ini setiap rabu dan sabtu pukul 20.00 hingga pukul 23.00.

Sebagai upaya pengembangan, gerakan ini terus berbenah untuk dapat terus bergerak. Upaya pengembangan terus dilakukan diantaranya mengembangkan materi - materi yang mampu memberi manfaat kepada masyarakat. Salah satunya pengembangan melalui media youtube. Konten yang telah dikembangkan melalui media youtube diantaranya vlog tentang perjalan tim malam bagurau owek - owek, kesenian, kebudayaan dan cerita perjalan lainnya. Podcast POD BUNGO yang menjadi ruang informasi, edukasi, motivasi yang menghadirkan sosok - sosok inspiratif disumatera barat dari berbagai kalangan. Konten carito bagarah merupakan konten ketiga yang dikembangkan, kemudian telah hadir juga ulasan kuliner. Selain konten, juga dihadirkan karya populer salah satunya lagu Minang produksi Tim malam bagurau owek owek.

Gerakan ini terus berjalan hingga hari ini serta diupayakan terus berjalan dan berkembang oleh karena respon berbagai pihak yang sangat baik. Mulai dari Instansi Pemerinthan hingga masyarakat khususnya penggemar live malam bagurau yang hadir dari berbagai penjuru didunia terutama masyarakat Minangkabau Perantauan. Salah satu bentuk dukungan dan respon baik adalah viewer setiap siaran langsung selalu diatas 300 orang bahkan beberapa kali mencapai 1000 orang. Kalkulasi penonton hingga saat ini telah mencapai 1 juta lebih dan telah ratusan ribu dibagikan versi pemirsa facebook. Selain itu bentuk dukungan dan respon baik masyarakat adalah terus adanya donasi yang diperuntukkan untuk seniman tradisi khususnya pelaku yang terlibat. Selain itu donasi yang pernah dilakukan adalah menghimpun dana untuk seniman tradisi yang membutuhkan diantaranya Alm. Eri Guru (Pelaku Tradisi Minangkabau di Jakarta) dan Alm. Sawir Sutan Mudo (Maestro Seni Tradisi Dendang).

Bagurau Owek - Owek merupakan sebuah gerakan yang bertujuan untuk menghidupkan dan memperkenalkan salah satu bentuk kebudayaan yaitu kesenian tradisi melalui teknologi dan media sosial ditengah perkembangan perkembangan zaman.


(Sumber Data Tentang Bagurau Dikutip Dari : https://id.wikipedia.org/wiki/Bagurau )

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan. Artikel ini dilengkapi fitur Wikipedia Preview, kerjasama Wikimedia Foundation dan Good News From Indonesia.

Terima kasih telah membaca sampai di sini