BNPB Datangkan Dua Armada Helikopter untuk Bantu Tangani Bencana di Indonesia

BNPB Datangkan Dua Armada Helikopter untuk Bantu Tangani Bencana di Indonesia
info gambar utama

Kawan GNFI, bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menjadi salah satu persoalan di Indonesia. Terdapat dua faktor yang menyebabkan karhutla terjadi, faktor alam dan faktor manusia.

Faktor alam bisa dipicu oleh petir, lelehan lahar gunung api, gesekan antara pepohonan yang menimbulkan api. Namun, kasus karhutla di Indonesia lebih sering dipicu faktor manusia yang melakukan pembukaan lahan dengan cara membakar hutan.

Kasus karhutla terus berulang terutama pada musim kemarau. Arus Imbasnya kabut asap mengepul di sejumlah daerah di Indonesia bahkan di negara tetangga.

Mengutip dari Mongabay, selama 2019, karhutla di Indonesia sampai September mencapai 857.756 hektar. Ia terdiri dari 630.451 hektar lahan mineral dan 227.304 hektar di gambut. Angka ini naik meningkat 160% jika dibandingkan luasan bulan Agustus 2019 sekitar 328.724 hektar.

Kala itu Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Munardo mengatakan, data di lapangan menunjukkan lahan terbakar 80% berubah jadi perkebunan. Karena itu, bisa disimpulkan 99% karhutla karena ulah manusia.

Demi menanggulangi dan terlebih lagi mencegah bencana karhutla seperti tahun-tahun sebelumnya, BNPB mendatangkan helikopter dari luar negeri untuk mempermudah mobilisasi para petugas. Diharapkan helikopter ini bisa menjadi solusi jitu penanganan karhutla di Indonesia. Tak cuma karhutla, diharapkan helikopter ini sanggup dipakai dalam menjangkau pasien Covid-19 di daerah terpencil.

Helikopter Chinook

Dua armada helikopter didatangkan BNPB untuk mendukung penanganan bencana di Indonesia. Dua helikopter itu berjenis Chinook dan Black Hawk buatan Amerika Serikat.

BNPB menyewa armada tersebut untuk mendukung penanganan bencana, seperti karhutla, distribusi logistik dan Covid-19. Dalam konteks karhutla, helikopter Chinook dengan kode CH-47D dapat mengoptimalkan operasi udara water-bombing karena kapasitasnya mencapai 10.000 liter. Sebagai gambaran, muatan helikopter jumbo bernama Chinook ini mampu membawa 1 unit mobil PCR Lab Covid-19 dan 1 unit mobil ambulans.

Helikopter yang didesain multiguna ini dapat mendukung operasi pengiriman logistik ke wilayah terdampak bencana. Ruang interior badan helikopter yang luas dapat membawa sekelompok warga saat evakuasi maupun mendukung operasi pencarian dan pertolongan atau SAR.

Pada saat ini BNPB sedang melakukan uji coba selama satu bulan untuk penggunaan helikopter Chinook yang akan dioperasikan di enam provinsi prioritas mengalami karhutla. Selain itu, helikopter akan dioptimalkan untuk memberikan pelayanan laboratorium udara Covid-19 untuk daerah kepulauan yang selama ini sulit dijangkau.

Sesuai dengan ketentuan yang berlaku, yakni dalam upaya penanganan darurat, BNPB dapat memanfaatkan helikopter Chinook ini. Setelah selesai melakukan uji coba untuk berbagai operasi penanganan darurat, pemanfaatannya akan dievaluasi.

Helikopter Black Hawk

Sementara itu, BNPB juga menyewa helikopter jenis Sikorsky UH-60 Black Hawk. Helikopter ini merupakan armada udara serba guna. Helikopter dengan mesin ganda dapat mengangkut 11 personel atau 6 tandu. Helikopter jenis ini akan digunakan untuk mendukung operasi pengeboman air untuk karhutla.

Helikopter Black Hawk.
info gambar

Kedua jenis armada tersebut melengkapi armada yang selalu digunakan, khususnya operasi karhutla, yakni helikopter jenis Kamov dan Mi-8. Kapasitas kedua helikopter ini lebih sedikit dibandingkan kemampuan Chinook, sekitar 4.000 liter.

Dalam mempersiapkan upaya pencegahan dan kesiapsiagaan menghadapi karthula, BNPB mempersiapkan operasi teknologi modifikasi cuaca atau TMC serta pengerahan personel untuk mendukung Satuan Tugas (satgas) Darat yang terdiri dari unsur gabungan, seperti BNPB, TNI, Polri, KLHK, pemerintah daerah, dunia usaha dan unsur masyarakat di enam provinsi yang sering dilanda karhutla.

---

Referensi: Mongabay.co.id | Bnpb.go.id

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini