Menelisik Kondisi Generasi Milenial Indonesia yang Kerap Disalahpahami

Menelisik Kondisi Generasi Milenial Indonesia yang Kerap Disalahpahami
info gambar utama

Ada sembilan perilaku utama generasi milenial Indonesia: kecanduan internet, loyalitas rendah, cashless, kerja cerdas dan cepat, multitasking, suka jalan-jalan, cuek dengan politik, suka berbagi, dan kepemilikan terhadap barang yang rendah.

Sembilan perilaku itu bukan asal bunyi, namun sudah melewati sebuah kajian yang dilakukan oleh Alvara Research Center dengan judul Indonesia Millennial Report 2019.

Dari sembilan perilaku itu, mana yang punya kesan positif dan negatif? Mana yang lebih dominan, perilaku positif atau negatif?

Kajian soal generasi muda yang menjadi mayoritas masyarakat Indonesia ini memang menjadi bahan kajian yang "seru" untuk dibahas dan dikaji. Tidak bisa satu kali dan tidak bisa berbatas waktu tertentu untuk bisa mendapatkan. Kenyataannya pergerakan mereka selalu dinamis, tak terprediksi, mengejutkan, dan "aneh".

Sayangnya, perilaku yang dianggap "baru’’ dan "tak biasa" itu kerap dimanfaatkan dan dipandang sebagai pasar pemenuhan hasrat keuntungan ekonomi berbagai produk. Sifat mereka yang selalu suka nongkrong, gengsi, dan konsumtif, hanya dipandang sebatas pasar empuk bagi para pengusaha dan pemilik produk.

Di sisi lain tugas berat harus diemban oleh generasi ini. Bonus demografi menanti, masa depan Indonesia di tangan mereka.

Mereka Bukan Stereotip Generasi Milenial Dunia

Milenial Indonesia Berbeda
info gambar

Muhammad Faisal, pendiri Youth Laboratory Indonesia, pernah mengaku bahwa kajian tentang generasi milenial Indonesia sebelumnya pernah dipandang skeptis. Faisal menceritakan ini di pengantar buku hasil risetnya berjudul Generasi Phi (2017).

"Pada 2009 sendiri kajian terhadap milenial masih cukup langka, tak hanya di Indonesia, tetapi juga di dunia," akunya.

"Berbekal riset preliminary di Jakarta dan Bandung saya mencetak hasil riset perdana saya dalam bentuk CD (compact disc) yang saya bagi-bagikan secara gratis ke berbagai lembaga dan perusahaan. Lagi-lagi reaksinya sangat skeptis, bahkan beberapa perusahaan cenderung menceramahi saya karena dianggap tidak sesuai kaidah riset yang umum."

Uniknya, Faisal enggan menyebut generasi "milenial" Indonesia sebagai Generasi Milenial, sebuah istilah yang dipandang hanya cocok untuk menggambarkan situasi generasi muda di Amerika Serikat dan negara maju lainnya, bukan di Indonesia.

Untuk diketahui, Istilah Generasi Milenial muncul setelah William Strauss dan Neil Howe dalam bukunya Generations: The History of America’s Future (1991), membagikan batas-batas sebuah generasi. Termasuk pembagian Generasi Milenial yang disebutkan mereka terdiri dari individu-individu yang lahir antara tahun 1982-2004. Atau individu-individu yang mencapai kedewasaan pada transisi abad ke-21.

Sedangkan Pew Research Center membagi batasan bahwa Generasi Milenial adalah mereka yang lahir antara tahun 1981 sampai 1996.

Salah satu alasan terkuat Faisal enggan menyebut generasi muda dalam rentang waktu tersebut sebagai Generasi Milenial adalah karena Indonesia menjalani peristiwa politik yang berbeda dan timeline penetrasi digital yang tidak sama dengan negara maju.

"Batas kohort generasi yang paling kuat pengaruhnya di Indonesia adalah peristiwa transisi politik dan transisi budaya. Misalnya, dari masa Hindu-Buddha ke Islam, kerajaan ke republik, Orde Lama ke Orde Baru, dan Orde Baru ke Reformasi. Dalam konteks yang lebih kecil, ada beberapa peristiwa gerakan pemuda yang memengaruhi nuansa dan karakter sebuah generasi," jelasnya.

Atas alasan tersebut, Faisal dengan sebutan Generasi Phi-nya sempat mencuat dan menjadi perbincangan banyak kalangan.

Dalam buku Generasi Phi, Faisal memang mengkaji generasi muda di Indonesia dengan pendekatan yang digunakan Strauss dan Howe, namun Faisal pada akhirnya membagi batas usia untuk generasi ini yaitu mereka yang lahir pada 1989 sampai 2000.

Bukan tanpa alasan, Faisal baru menjelaskan pemilihan batasan ini pada bukunya yang berjudul Generasi Kembali ke Akar (2020).

Generasi Milenial Indonesia
info gambar

Faisal menjelaskan, tahun 1988 menjadi tahun penentu kelahiran sebuah generasi yang akan menjadi bagian dari bonus demografi Indonesia pada 2030. Selain itu, pada 1998, terdapat sebuah generasi yang belum mencapai usia remaja dan kematangan berpikir.

"Generasi tersebut belum sempat mengalami indoktrinasi berbagai nilai-nilai utama di masa Orde Baru. Mereka tumbuh menjadi remaja di masa transisi kekuasaan, sistem politik, kebebasan pers, desentralisasi pemerintaha, penghapusan dwifungsi ABRI, pembaharuan paradigma ekonomi dan pendidikan," lanjut Faisal.

16 tahun pertama pasca reformasi, Faisal juga menilai bahwa masa tersebut bagai masa "kekosongan" narasi pemuda.

Sesuai dengan pengertiannya, phi disebut sebagai golden ratio yang menyimbolkan harmoni dan kesempurnaan. Menurut Faisal, generasi "milenial" di Indonesia saat ini dipandang memang menampilkan dua sifat itu.

Terkait dengan representasi phi sebagai angka irasional, Faisal mengatakan bahwa angka ini juga mewakili generasi "milenial" Indonesia yang kerap dianggap irasional dalam bertindak. Seperti mendahulukan passion dibandingkan karir.

"Generasi phi juga memiliki peran penting dalam lingkaran siklus generasi, karena generasi phi akan menyempurnakan siklus dari generasi pengubah Indonesia yang pertama,’’ jelas Faisal dalam bukunya.

Di balik segala jenis potensi dan "keindahan" yang dimiliki oleh generasi muda Indonesia itu, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, Rhenald Kasali, memberikan sebutan khusus pula kepada mereka. Tak secara eksplisit dia menyebut generasi milenial, melainkan ia memberikan penggambaran bahwa generasi muda yang mendominasi Indonesia kini merupakan "generasi stroberi."

"Dari bentuk dan warnanya, stroberi itu menawan. Namun, di balik keindahannya, ia ternyata begitu rapuh. Cobalah pakai sikat gigi untuk menyikat stroberi. Pasti bagian luar stroberi tersebut mudah rusak. Padahal, sikat gigi itu cukup lembut untuk gigi kita.’’

"Itu adalah ilustrasi dari strawberry generation. Sebuah subset dari suatu generasi yang rapuh meski terlihat indah,’’ jelas Rhenald dalam bukunya Strawberry Generation (2017).

Tak ayal, Rhenald juga mengakui keindahan sifat stroberi di dalam diri generasi muda Indonesia. Dia mengakui bahwa generasi ini tak melulu dikonotasikan sebagai generasi yang "banyak negatifnya."

"Mereka kreatif. Di dalam benaknya tersimpan banyak sekali gagasan, termasuk yang paling liar sekalipun, kritis, dengan kemampuan connecting the dots yang begitu luwes. Banyak anak muda yang kakinya jauh lebih ringan ketimbang generasi saya yang banyak beban dan lebih besar rasa malunya untuk tampil,’’ aku Rhenald.

Kultur Nongkrong. Produktif, Sia-Sia, atau Konsumtif?

Kultur Nongkrong Generasi Muda
info gambar

Perlu Kawan GNFI ketahui, budaya nongkrong anak muda Indonesia rupanya pernah masuk dalam salah satu kolom The New York Times, Amerika Serikat. Mereka mendefinisikan ungkapan nongkrong dengan, ‘’Nongkrong is a word for sitting, talking, and generally doing nothing.’’ Hal ini diungkap oleh Faisal dalam bukunya Generasi π.

Di tengah merebaknya kedai kopi kekinian, bisa jadi nongkrong dan ngopi jadi satu kesatuan yang tak bisa dipisahkan. Bentuk "warung kopi"-nya pun tidak melulu harus di tengah kota dengan tempat yang Instagramable dan koneksi internet gratis. Bermodal lampu remang, camilan, beratap langit malam, maka jadilah angkringan yang kerap digandrungi.

Tak tanggung-tanggung, survei Lifepal membuktikan bahwa mayoritas anak muda kelas menengah di Jakarta saja berani mengeluarkan biaya hingga Rp3.266.000 per bulannya. Dan 23,3 persen dari jumlah tersebut "dialokasikan" untuk nongkrong di kafe.

Alih-alih Faisal menampik definisi yang disebutkan The New York Times tersebut, dia pun mengamini bahwa nongkrong tidak harus memiliki satu tujuan yang konkret.

Saat ia membantu seseorang peneliti di Amerika Serikat, yang bekerja untuk sebuah biro riset, Flamingo Group, butuh waktu dua jam Faisal untuk menjelaskan filosofi nongkrong yang ia dapat dari penelitian etnografisnya.

"Nongkrong adalah sebuah archetype dari perilaku anak muda Indonesia. Archetype adalah konsep yang menjelaskan dorongan bahwa sadar kolektif pada suatu generasi tertentu. Satu generasi memiliki ciri berperilaku dan berpikir yang seragam, itu karena mereka memiliki pola berpikir bawah sadar atau archetype yang sama," jelas Faisal.

Tidak perlu tujuan konkret memang, tapi nongkrong memiliki fungsi utama untuk mempertegas eksistensi diri, posisi, peran, dan identitasnya di dalam satu komunitas. Sambil mengulas, membahas isu-isu aktual yang ada di sekitar kehidupan anak muda.

Budaya Nongkrong Anak Indonesia
info gambar

Dalam kajian dan survei yang dilakukan Faisal, budaya nongkrong generasi phi merupakan karakter komunalitas yang sangat kuat. Perlu diingat bahwa inisiatif Sumpah Pemuda 1928 juga didorong oleh perkumpulan anak muda.

Filosofi nongkrong generasi phi ini juga memuat aspek empati, terutama di kalangan anak muda yang masih kental akan budaya lokalnya yang kuat.

"Teman-teman pembaca perlu ingat bahwa salah satu aspek penting dalam filosofi nongkrong adalah empati. Bagi para pembaca yang berasal dari generasi lebih senior, tentu ini akan menuntut kesabaran ekstra. Karena perbedaan filosofi dan cara pandang yang ekstrem terhadap segala sesuatu dari generasi π sering kali menggemaskan," ungkap Faisal.

Dikaji dari bidang pendidikan, Rhenald pun tak menampik bahwa generasi ini telah mengubah tempat belajar yang utama.

"Dulu, 80 persen pusat belajar adalah lembaga, sekolah, kampus, kursus. Sekarang, 80 persen pusat belajar itu justru ada di masyarakat, tempat kita menghabiskan waktu terbanyak,’’ ungkapnya dalam Strawberry Generation.

Itu artinya kebiasaan nongkrong memiliki makna yang lebih dalam karena telah menciptakan dunia informal. Dunia yang terbukti menciptakan para social entrepreneur untuk membangun komunitas-komunitas pembelajaran yang kini memiliki gengsi tinggi karena dampaknya yang besar.

"Anak-anak muda, datangi tokoh-tokoh idola Anda dan tagihlah komitmen mereka. Kalian bisa sekadar numpang tidur di sana, tetapi bayarlah dengan kesungguhan dan kerja keras. Jangan berpikir masa depan hanya ada di dunia formal," pesan Rhenald, "kalau kita mau hidup enak, ya kita harus belajar terus, tidak boleh ada tamatnya meski tidak ada ijazahnya."

Fenomena Bonus Demografi

Bonus Demografi di Tangan Milenial
info gambar

Faisal dalam bukunya Generasi Kembali ke Akar (2020) menilai kondisi bonus demografi yang akan terjadi di Indonesia ini masih akan tetap ramai diperbincangkan hingga beberapa puluh tahun ke depan.

Bahkan tidak bisa dipungkiri "peristiwa ini meresahkan kalangan industri, sekaligus menghantui kalangan orangtua. Peristiwa ini juga dapat memicu momentum kebangkitan generasi atau justru membawa kekacauan (chaos)," jelas Faisal.

Mengapa?

Presiden Joko Widodo pernah mengatakan bahwa kondisi bonus demografi seolah seperti dua mata pisau. Di satu sisi menguntungkan, tapi di sisi lain malah jadi bumerang bagi Indonesia jika tidak siap menghadapi kondisi tersebut. Salah satunya mengenai ketersediaan lapangan kerja.

Pada Media Keuangan dari Kementerian Keuangan Edisi Agustus 2017 silam, Nufransa Wira Sakti, Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Informasi, Kementerian Keuangan, menjelaskan bahwa kondisi bonus demografi ini sebenarnya disebabkan oleh laju pertumbuhan penduduk yang tidak dikendalikan.

Jika tidak dimanfaatkan, dapat menimbulkan kesenjangan dan berdampak pada kemiskinan. Penyebabnya adalah antara jumlah penduduk dengan lapangan pekerjaan, jumlah pangan dan nutrisi, serta kesempatan menempuh pendidikan, tidak sebanding jumlahnya.

Akibatnya semua tidak dapat terpenuhi, terjadi ketimpangan, dan berakhir pada semakin melebarnya jurang antara si kaya dan si miskin.

Sekretaris Umum Ikatan Praktisi dan Ahli Demografi Indonesia (IPADI), Turro Wongkaren, pernah menjelaskan bahwa Indonesia sudah memasuki puncak bonus demografi pada periode 2020-2024 dan akan berakhir pada 2035-2038 mendatang. Artinya, puncak itu kini sedang dilalui oleh Indonesia.

"Kita harus mempersiapkan SDM (sumber daya manusia) dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Dengan jumlah penduduk yang besar, persiapan SDM untuk keseluruhan tidak bisa dilakukan dengan pendekatan yang seragam," kata Torru dalam seminar "Indonesia Demographic Outlook 2020" dikutip Antara.

Hal yang diungkapkan Torru sebenarnya sejalan dengan hasil penelitian etnografis Faisal pada 2012 silam. Dia dan tim menemukan persepsi terhadap pekerjaan di kalangan kaum muda yang akan mendominasi Indonesia ini nantinya.

"Saya menemukan bahwa persepsi terhadap pekerjaan kembali mengalami tren pergeseran. Fakta itu didukung dengan semakin banyaknya jumlah responden yang menjawab kerja kreatif sebagai pilihan utama," ungkap Faisal dalam buku Generasi Phi.

Faisal melihat bahwa mereka akan semakin bergerilya untuk bisa menggapai pekerjaan impiannya dengan kecenderungan untuk mengklaim ruang kreasi dan kebebasan mereka. Hal itulah yang kita kenal dengan passion.

Jika awalnya industri kreatif dipandang tidak mampu memenuhi kebutuhan finansial secara stabil, maka di masa depan, Faisal melihat akan ada perubahan tatanan profesi anak muda yang menggandrungi industri kreatif.

Namun, pergeseran tren itu bukan berarti tanpa risiko. Salah satunya adalah kemungkinan turunnya minat mereka pada pendidikan tinggi. Terutama bila mereka menyadari bahwa bidang-bidang yang menarik passion mereka tidak sejalan dengan yang disediakan di pendidikan tinggi.

Passion Generasi Muda
info gambar

Dalam bukunya Generasi Kembali ke Akar, Faisal melanjutkan terkait penerjemahan passion bagi generasi muda. "Kejarlah apa yang membuat kita bahagia, bila tidak bahagia, tinggalkanlah!"

"Pola pikir 'check in, chek out' tersebut tidak sejalan dengan antisipasi perubahan peta demografi yang tengah terjadi. Mengejar passion seharusnya mengarah pada kegigihan, kesabaran, dan kemampuan beradaptasi dalam pergulatan mengejar cita-cita hingga tuntas," jelas Faisal.

Untuk mengantisipasi hal tersebut, Faisal kembali membawa permasalahan ini pada kondisi ketersediaan fasilitas yang diberikan. Mengacu pada riset Youthful City Global Index pada 2015, sebaiknya kultur suatu kota perlu mengakomodasi tiga aspek kebutuhan generasi muda, yaitu life, work, dan play.

Life, mencakup suasana lingkungan, fasilitas kesehatan, akses digital, dan akses keterlibatan bagi warga sipil. Work, mencakup ketersediaan lapangan kerja, pendidikan kewirausahaan, dan fasilitas lembaga keuangan. Play, mencakup ketersediaan ruang "bermain," seperti ruang publik, tempat makan, tempat berolahraga, hingga tempat berkreasi seni dan musik.

Dari sisi pendidik, Rhenald dalam buku Strawberry Generation menegaskan bahwa orangtua adalah guru hidup yang paling berarti bagi masa depan mereka.

"Saya ingin katakan, sesungguhnya anak-anak Anda sama seperti saya. Kita semua sebenarnya rajawali bukanlah burung dara yang sayapnya diikat (dikodi) serta tidak pernah bisa terbang tinggi, diberi kandang yang sempit agar selalu dekat dengan tuannya," jelas Rhenald.

Di satu sisi janganlah memaksa anak untuk berbuat sesuatu yang hanya dianggap oleh orangtua. Di sisi lain masuk ke universitas terkemuka, bukan berarti orangtua juga lepas tangan dengan asumsi masa depannya akan terjamin.

Membebaskan mereka untuk menghadapi tantangan, disebut Rhenald adalah salah satu cara agar mereka tidak cepat rapuh. Layaknya buah stroberi yang rapuh hanya karena sikat gigi lembut.

"Ketidakmampuan keluar dari zona nyaman ini bukanlah monopoli kaum muda. Kebanyakan orangtua yang hidupnya mapan dan merasa sudah pandai pun terperangkap di sana," tulis Rhenald.

--

Sumber: Muhammad Faisal, Generasi Phi: Memahami Milenial Pengubah Indonesia (2017) | Muhammad Faisal, Generasi Kembali ke Akar (2020) | Rhenald Kasali, Strawberry Generation (2017) | Media Keuangan, Kementerian Keuangan Republik Indonesia, "Membangun Generasi Berkualitas" (Agustus, 2017) | Alvara Research Center, Indonesia Gen Z and Millenial Report 2020: The Battle of Our Generation (Januari, 2020) | Pew Research Center | Lifepal | Antara News

--

Baca Juga:

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini