Mengenal 6 Jenis Kalender Lokal yang Masih Digunakan di Indonesia

Mengenal 6 Jenis Kalender Lokal yang Masih Digunakan di Indonesia
info gambar utama

Secara umum atau bahkan di dunia internasional, untuk menentukan waktu tertentu kita akan mengacu pada penanggalan Kalender Masehi. Kalender ini mempunyai perhitungan 12 bulan dalam satu tahun dan tujuh hari dalam sepekan.

Dilansir Encyclopaedia Britannica (2015), penghitungan hari yang kerap disebut sebagai Kalender Matahari ini ditetapkan dan mulai diberlakukan sejak penguasa Kerajaan Romawi tahun 47, Julius Caesar. Cara penghitungannya berdasarkan peredaran bumi mengelilingi matahari.

Yang diputuskan bahwa dalam satu tahun Kalender Masehi adalah lamanya bumi mengelilingi matahari, yaitu 365 hari, 5 jam, 48 menit, 46 detik.

Selain Kalender Masehi, ternyata masyarakat Indonesia juga diketahui masih mengacu pada kalender-kalender lokal dari berbagai etnis di Indonesia. Biasanya kalender-kalender lokal ini digunakan untuk penentuan hari-hari ‘’baik’’ dalam melaksanakan segala kegiatan manusia.

Pengacuan pada kalender lokal ini juga hingga kini kerap dikaitkan dengan representasi identitasi dan jati diri etnis tertentu. Selain itu, kalender-kalender lokal ini juga erat kaitannya dengan kesakralan akan momen tertentu.

Berikut enam jenis keragaman kalender lokal yang diketahui masih digunakan oleh masyarakat lokal di beberapa daerah di Indonesia.

Kalender Sunda

Kalender Sunda
info gambar

Kalender Sunda sebenarnya masih mirip dengan Kalender Masehi. Hanya saja dalam Kalender Sunda penamaan hari, minggu, dan bulannya berbeda.

Urutan bulan menurut Kalender Sunda yaitu Kartika, Margasira, Posya, Maga, Paliguna, Setra, Wesaka, Yesta, Asada, Srawana, Badra, dan Asuji. Untuk setiap bulannya, ada yang memiliki 29 dan 30 hari sebagaimana Kalender Masehi.

Kalender Hijriyah

Kalender Hijriyah
info gambar

Meski bukan termasuk dalam kalender lokal etnis tertentu, namun Kalender Hijriyah termasuk jenis kalender yang umum digunakan di Indonesia. Pasalnya Kalender Hijriyah digunakan oleh penganut agama Islam dan Indonesia adalah negara penganut agama Islam terbesar di dunia.

Kalender HIjriyah dihitung berdasarkan sistem peredaran bulan yang dimulai dari peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad saw dari Mekkah ke Madinah pada 622 Masehi. Hingga kini, penggunakan Kalender Hijriyah masih menjadi acuan untuk menentukan tanggal atau bulan yang berkaitan dengan ibadah atau hari-hari penting Islam.

Kalender Saka

Meski berasal dari India, namun diketahui beberapa etnis lokal masih menggunakan Kalender Saka. Penanggalannya sendiri dimulai pada tahun 78 Masehi dan banyak digunakan oleh masyarakat Indonesia bagian barat sebelum masuk ajaran Islam ke Nusantara.

Sistem penanggalan pada Kalender Saka menggabungkan antara penanggalan matahari dan bulan. Kalender Saka juga kerap dikenal sebagai Kalender Syamsiah-Kamariah. Sejarah mencatat sebenarnya Kalender Saka hadir untuk mengakomodasi kepentingan masyarakat Jawa yang kala itu sudah mulai mengenal ajaran Islam.

Sehingga tak heran jika nama bulan dan jumah hari dalam setahun kerap sama dengan Kalender Hijriah, namun angka tahun Saka dipertahankan.

Kalender Jawa

Kalender Jawa
info gambar

Kalender Jawa merupakan salah satu kalender lokal yang juga umum digunakan oleh masyarakat Indonesia, mengingat etnis suku Jawa merupakan etnis terbesar di Indonesia. Kalender Jawa diyakini merupakan perpaduan antara budaya Islam, Hindu, Budha, Jawa, dan sentuhan budaya barat.

Sistem penanggalan yang digunakan pada Kalender Jawa mengacu pada aturan Kesultanan Mataram yang dipimpin Sultan Agung sejak tahun 1625. Hingga kini, Kalender Jawa masih kerap menjadi basis penghitungan untuk menentukan hari baik dan hari buruk.

Penghitungan Kalender Jawa menggunakan dua siklus yaitu siklus mingguan yang terdiri dari tujuh hari dan siklus pekan pancawara yang terdiri dari lima hari.

Kalender Saka Bali

Kalender Saka Bali

Terlihat dari namanya, Kalender Saka Bali pada umumnya digunakan oleh masyarakat Hindu di Bali dan Lombok. Kalender Saka Bali merupakan pengembangan dari Kalender Saka yang sudah dimodifikasi oleh budaya-budaya kedaerahan.

Uniknya, sistem penanggalan Kalender Saka Bali hingga kini bersifat konvensi atau kompromistis yang artinya tidak ada aturan baku untuk sistem penanggalannya. Ini karena jenis penanggalannya memadukan posisi matahari dan bulan. Sedangkan perputaran atau posisi matahari dan bulan tidak selalu sama.

Kalender Batak

Kalender Batak

Kalender Batak sering disebut dengan Porhalaan yang terdiri dari 12 bulan dan masing-masing bulan terdiri dari 30 hari. Sebenarnya Kalender Batak bukanlah sistem penanggalan dalam arti konvensional seperti kalender lokal lainnya.

Ini karena Porhalaan sebenarnya merupakan salah satu naskah kuno masyarakat Batak Toba yang salah satu isinya tentang almanak untuk mengetahui waktu. Suku Batak Kuno juga sebenarnya tidak pernah mengetahui angka tahun karena mereka tidak pernah menghitungnya.

Porhalaan lebih digunakan untuk tujuan ‘’meramal’’ hari baik atau disebut panjujuron ori, yang kerap digunakan untuk penentuan hari pesta pernikahan. Selain itu, diketahui suku Batak Toba juga memanfaatkan Porhalaan untuk memaknai kejadian-kejadian alam dan masalah-masalah yang terjadi pada manusia dalam waktu-waktu tertentu.

--

Sumber: Indonesia.go.id | Seputar Gunung Kidul | Wikipedia

--

Baca Juga:

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dini Nurhadi Yasyi lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dini Nurhadi Yasyi.

Terima kasih telah membaca sampai di sini