Mengenal Jew, Rumah Adat Suku Asmat untuk Lelaki Bujang

Mengenal Jew, Rumah Adat Suku Asmat untuk Lelaki Bujang
info gambar utama

Negeri Adidaya Bidang Budaya adalah julukan yang tepat untuk negara kita tercinta, Indonesia. Pasalnya, dari Sabang hingga Merauke terdapat berbagai macam keanekaragaman budaya dengan ciri khas daerahnya sendiri. Salah satu dari ragam budaya tersebut adalah Rumah Adat.

Rumah adat merupakan rumah tradisional yang menjadi simbol identitas dari setiap daerah. Di tanah Papua, misalnya. Pulau yang terletak di ujung timur Indonesia ini sejatinya memiliki berbagai jenis rumah adat. Kawan GNFI bisa menemukan beberapa rumah adat seperti Honai, Ebai, Kaki Seribu, Wamai, Kariwari, Rumsram, Korowai dan Jew. Dari delapan rumah adat tersebut, rumah adat Jew menjadi salah satu rumah yang paling unik karena diperuntukkan kepada para lelaki yang belum menikah.

Penasaran dengan rumah adat Jew? Simak ulasan berikut sampai akhir, ya.

Rumah adat Jew merupakan satu dari rumah adat milik suku Asmat yang mendiami Pulau Papua. Terletak di Distrik Agats, Kabupaten Asmat, rumah adat Jew sarat akan makna dan memiliki keunikan yang tidak dapat ditemukan di daerah lain.

Biasa disebut dengan Jew, ternyata rumah adat ini juga memiliki nama lain seperti Je, Jeu dan Yeu. Menurut bahasa Asmat, kata Jew sendiri memiliki arti ruh atau jiwa. Sehingga, Jew dapat dimaknai sebagai suatu atma (ruh) yang membangkitkan rasa keinginan pada diri manusia untuk saling bersatu padu dalam kehidupan bermasyarakat.

Dikenal sebagai Rumah Bujang

Kawan GNFI, rumah adat Jew ini dikenal luas sebagai Rumah Bujang. Bukannya tanpa alasan, sebab mayoritas yang tinggal di rumah Jew adalah lelaki bujang alias yang belum menikah.

— Good News From Indonesia (@GNFI) April 8, 2020

Kendati demikian, ternyata rumah Bujang tetap dapat dipakai oleh penduduk yang lain loh.

Syarat Pembangunan Rumah Adat Jew

Dalam tradisi suku Asmat, rumah Jew dianggap sebagai rumah adat yang sakral dan suci. Oleh karena itu, setiap desa harus memiliki satu rumah adat Jew. Adapun pembangunannya juga harus mempertimbangkan hal-hal tertentu serta mengikuti aturan yang berlaku.

Ada empat aturan yang harus ditaati dalam membangun rumah Jew ini. Yang pertama, rumah adat Jew harus menghadap ke arah matahari terbit atau sejajar dengan aliran sungai. Hal ini untuk memudahkan suku Asmat dalam memantau pergerakan musuh.

Yang kedua, jumlah tungku dan pintu pada rumah adat Jew disesuaikan dengan jumlah anggota keluarga suku Asmat. Jadi, semakin banyak anggota keluarga suku Asmat di daerah tersebut, maka semakin panjang pula rumah adat Jew.

Tampilan dalam rumah Jew yang didiami orang-orang suku Asmat.
info gambar

Yang ketiga, di dalam rumah adat Jew harus dilengkapi dengan benda-benda keramat. Misalnya, Noken (tas anyaman yang terbuat dari tumbuhan), tombak, panah, patung mbis (patung leluhur suku Asmat), serta totem (simbol).

Yang keempat, percaya kepada leluhur yang telah menjaga rumah adat Jew. Suku Asmat percaya bahwa leluhur akan selalu melindungi mereka, khususnya para lelaki bujang, dari pengaruh yang buruk dan jahat.

100% Dibangun dengan Bahan Alami

Suku Asmat adalah suku yang menganut animisme (kepercayaan terhadap ruh nenek moyang). Sehingga, mereka sangat menjunjung tinggi kekuatan magis dari ruh gaib.

Dalam pembangunan rumah adat Jew, suku Asmat menggunakan bahan-bahan alami yang diambil langsung dari alam. Mereka percaya bahwa para leluhur telah melebur bersama alam dalam menyediakan kebutuhan bahan selama pembangunan rumah adat tersebut.

Rumah Jew di distrik Tomor, Kabupaten Asmat.
info gambar

Atap dan dinding dari rumah Jew ini terbuat dari daun nipah dan sagu. Lalu, kayu yang dipilih sebagai pondasi bangunan adalah kayu besi yang terbukti kokoh. Uniknya lagi, rumah Jew ini tidak dibangun dengan paku besi sama sekali loh, melainkan hanya menggunakan tali dan akar rotan sebagai penyambung antar kayu. Tak heran jika rumah Jew kerap disebut dengan rumah adat yang tahan gempa. Keren sekali, ya.

Rumah Adat yang Memiliki Beberapa Fungsi

Kawan GNFI, rumah adat Jew alias rumah Bujang memiliki beberapa fungsi yang sangat berguna bagi kehidupan bermasyarakat suku Asmat.

Meskipun dikhususkan untuk lelaki yang belum menikah, rumah adat yang ini kerap dijadikan sebagai balai desa oleh mayarakat Asmat. Dimana di rumah Jew sering diselenggarakan acara berkumpul bersama para pemuka adat ataupun pemimpin dari suku Asmat. Dahulu, mereka sering mengadakan rapat untuk membahas strategi perang atau sebagai tempat untuk melakukan ritual sebelum/sesudah perang.

Namun, lambat laun, rumat adat Jew digunakan sebagai tempat untuk membahas segala hal yang berkaitan dengan kepentingan suku Asmat. Misalnya, rencana penyambutan tamu dan penyelenggaraan ritual atau pesta adat.

Adapun fungsi lain dari rumah Jew adalah sebagai tempat untuk melatih para bujang dalam berperang. Selain itu, mereka juga diajarkan cara memukul Tifa (alat musik tradisional milik suku Asmat) dan mencari ikan baik di rawa maupun sungai.

---

Sumber: indonesiakaya.com | seputarpapua.com | asmatkab.go.id | jeratpapua.org | id.papua.us

Catatan Redaksi:

Penulis merupakan peserta magang jurnalistik yang diselenggarakan GNFI untuk periode Agustus 2020.

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

IU
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini