Meski Penjualan Motor Semester I 2020 Anjlok, Ada Harapan Baru pada Periode Berikutnya

Meski Penjualan Motor Semester I 2020 Anjlok, Ada Harapan Baru pada Periode Berikutnya
info gambar utama

Kawan GNFI, pandemi Covid-19 nyata-nyata memengaruhi pola konsumsi masyarakat atas kendaraan roda dua, alias motor. Hal tersebut tergambar dalam laporan Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) yang melaporkan penjualan semester I 2020 anjlok 42 persen ketimbang periode yang sama tahun lalu.

Pada periode itu--Januari hingga Juni 2020--sekira tercatat total penjualan motor hanya 1.886.489 unit. jomplang dari penjualan motor periode yang sama tahun lalu yang sebanyak 3.226.619 unit. Pendek kata, selisihnya mencapai angka 1.340.130 unit.

Tren penurunan penjualan paling drastis di 2020, terjadi pada bulan April yang hanya mencatatkan 123.782 unit saja, Padahal pada Januari sampai Maret penjualan motor terpantau meningkat tiap bulannya di angka 400-an hingga 500-an ribu unit per bulan.

Perununannya pun tercatat hingga menyentuh angka 79,31 persen, yang kemudian dilanjutkan pada bulan Mei sebesar 96,10 persen, atau hanya laku sekira 21,8 ribuan unit saja.

penjualan motor semester 1 2020

Jika membandingkan antar-bulan di periode yang sama tahun lalu, sebetulnya pada 3 bulan pertama 2020 penjualan motor cenderung cukup baik.

Pada januari misalnya, penurunan jumlah hanya -18,65 persen saja (462,9 ribu unit), kemudian pada Februari bahkan penjualan naik ketimbang bulan yang sama tahun lalu, yakni naik 3,06 persen (548,1 ribu unit).

Lalu mulai Maret kembali turun, namun tak terlalu signifikan, yakni hanya -3,2 persen, atau sebanyak 561,7 ribu unit motor yang terkirim ke garasi konsumen.

Atas tren itu, Sekretaris Jenderal AISI, Hari Budiarto, mengatakan bahwa pada tahun 2020 boleh dibilang sebagai masa tersulit industri otomotif, terutama dampaknya pada penjualan kendaraan roda dua.

Masa PSBB dan tutupnya manufatur

Sejatinya, pada bulan April hingga Mei di tahun-tahun sebelumnya bahkan menjadi penjualan tertinggi motor pada semester itu. Hal itu terkait dengan hadirnya beragam pameran otomotif, seperti Indonesia Internasional Motor Show (IIMS) dan kebutuhan orang membeli motor untuk mudik lebaran.

Namun tahun ini dampak dari batalnya pameran dan pelarangan mudik, membuat pembelian motor jeblok hingga ke angka yang tak pernah terbayangkan.

Hal lain yang menjadi faktor turunnya penjualan motor adalah ketika diberlakukan masa PSBB yang memaksa manufaktur harus memberhentikan operasinya. Praktis, diler pun tak memiliki stok motor untuk dijual. Yang ada hanya sisa-sisa model pada tahun 2019.

Harapan timbul pada Juni 2020

Meski mengalami keterpurukan, namun kebangkitan kembali mulai terlihat pada bulan Juni 2020, dari data penjualan motor yang terkoreksi merangkak naik. Catatannya mencapai 167,9 ribu unit motor yang berhasil terjual. Ada kenaikan ketimbang bulan sebelumnya.

Meske begitu, angka yang diharapkan tentunya masih jauh dari target, apalagi jika dibandingkan dengan penjualan Juni 2019 yang mencapai 385 ribuan unit.

Gembar gembor transisi PSBB yang digaungkan pemerintah nyata turut berpengaruh bagi sebagain orang yang mulai jengah karena harus terus berada di rumah. Banyak dari mereka yang mulai keluar rumah untuk membuat dapur mereka tetap ngebul.

Di sisi lain, pemerintah pun berupaya untuk kembali memulihkan ekonomi.

Dalam catatan AISI lainnya, motor yang masih paling diminati oleh masyarakat adalah tipe skuter, terutama jenis skuter matik (skutik). Pada semester I 2020, market share-nya tercatat mencapai 87,9 persen, jauh melampai model-model lainnya, seperti motor sport maupun underbone/moped.

Motor terlaris semester 1 2020

Upaya perbaikan pada Semester II 2020

Kondisi yang penuh dengan ketidakpastian ini tentu membuat calon konsumen untuk hati-hati membelanjakan uangnya. Pendek kata, masyarakat lebih memilih prioritas lain ketimbang memaksakan diri membeli motor--meski sekadar untuk ngojek atau mengalihkan fungsinya sebagai kendaraan jasa ekspedisi.

Kata lainnya, konsumen akan lebih fokus untuk belanja kebutuhan pokok selagi prospek ekonomi belum benar-benar membaik.

Untuk memperbaiki roda ekonomi, Bank Indonesia (BI) selaku otoritas moneter telah memangkas suku bunga acuan sebesar 100 basis poin (bps) sepanjang tahun ini. Harapannya, agar mendorong masyarakat untuk berbelanja, meski secara kredit.

Hal tersebut tentunya sejalan dengan pola konsumsi masyarakat Indonesia yang menyenangi pola kredit untuk membeli kendaraan bermotor.

Pada sisi lain, fokus industri keuangan seperti bank dan perusahaan pembiayaan (leasing) juga berupaya untuk memberikan solusi dengan melakukan restrukturisasi kredit. Meski begitu, bank dan perusahaan pembiayaan pun tentunya harus lebih berhati-hati serta selektif dalam menyalurkan kreditnya.

Baca juga:

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Mustafa Iman lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Mustafa Iman.

Terima kasih telah membaca sampai di sini