Tadashi Meida, Laksamana Jepang Pendukung Kemerdekaan RI

Tadashi Meida, Laksamana Jepang Pendukung Kemerdekaan RI
info gambar utama

Laksamana Muda Tadashi Maeda adalah perwira tinggi Angkatan laut Jepang, salah satu orang yang berjasa dalam proses kemerdekaan Indonesia. Ia mempersilakan tempat tinggalnya di Jalan Imam Bonjol No. 1, Jakarta Pusat sebagai tempat penyusun naskah proklamasi oleh Ir. Soekarno, Mohammad Hatta, Achmad Soebardjo, dan juru ketik naskah Sayuti Melik.

Maeda sendiri lahir pada 3 Maret 1898 di Kagoshima Jepang. Ia adalah perwira tinggi Angkatan Laut Kekaisaran Jepang di Hindia Belanda saat berkecamuknya perang pasifik. Pada masa pendudukan Jepang di Indonesia, ia menjabat sebagai Kepala Penghubung Angkatan Laut dan Angkatan Darat tentara Kekaisaran Jepang.

Banyak peristiwa penting terjadi saat detik-detik menuju kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945. Kalahnya Jepang pada Perang Dunia II di laut pasifik, ditambah luluh lantahnya kota Nagasaki dan Hiroshima membuat Jepang akhirnya menyerah tanpa syarat kepada sekutu. Berita kekalahan Jepang ini kemudian terdengar sampai ke Indonesia.

Penculikan Soekarno dan Hatta ke Rengasdengklok adalah salah satu aksi proaktif dari para pemuda. Achmad Soebardjo, yang saat itu bekerja di kantor penasihat Angkatan Darat Jepang, kemudian mendapat informasi bahwa Soekarno-Hatta diculik ke Rengasdengklok. Ia pun segera ke sana dan bernegoisasi untuk melepaskan Soekarno-Hatta. Kemudian, para pemuda setuju dengan syarat kemerdekaan Indonesia tanpa campur tangan Jepang.

Setelah menerangkan bahwa Maeda akan membantu pelaksanaan Proklamasi Kemerdekaan, Soebardjo pun membawa Soekarno dan Hatta ke Jakarta. Kemudian, pada malam 16 Agustus 1945, Soekarno, Hatta, Soebardjo, dan anggota PPKI lainya mulai menyusun teks proklamasi.

Keesokan harinya, pukul 10.00 WIB, teks proklamasi dibacakan oleh Soekarno. Menurut, Menteri Luar Negeri Pertama RI, Ahmad Soebardjo mengaku memiiki kenangan tersendiri terhadap sosok Tadashi Meida yang ia tuangkan dalam bentuk tulisan berjudul "In Memoriam Tadashi Meida".

Kenangan tersebut ia tulis saat meninggalnya Meida pada 14 Desember 1977 dalam usia 79 tahun. Ia menyebut Maeda memiliki sifat samurai yang rela berkorban demi bangsa Indonesia.

"Pada detik-detik terpenting dalam melaksanakan proklamasi kemerdekaan Indonesia, Laksamana Maeda menunjukan sifat samurai Jepang, yang mengorbankan diri demi tercapainya cita-cita luhur dari rakyat Indonesia,yakni Indonesia merdeka," tulis Soebardjo, dikutip dalam buku Seputar Proklamasi Kemerdekaan: Kesaksian, Penyiaran dan Keterlibatan Jepang, terbitan KOMPAS.

Diberi Penghargaan di Indonesia, Dicaci di Negaranya

"Nasib saya sendiri tidak penting, yang penting adalah kemerdekaan Bangsa Indonesia," ucap Maeda kepada tentara sekutu yang memenjarakannya karena membantu kemerdekaan Indonesia.

Maeda sendiri menjelaskan, sebelum 15 Agustus 1945, sudah dua kali meminta Jepang untuk memerdekakan Bangsa Indonesia. Namun, hingga Jepang kalah dengan sekutu, Maeda belum menerima jawaban yang diharapkan.

Kemudian Maeda berpendapat, Indonesia harus merdeka dengan usahanya sendiri. Oleh sebab itu, dirinya tidak menghalangi saat PPKI menyusun teks proklamasi di kediamannya pada 16 Agustus 1945. Menurutnya, tidak hanya Angkatan Laut Jepang yang mendukung kemerdekaan Indonesia, tapi juga Angkatan Darat.

Tiba di negaranya, Maeda tidak sama sekali mendapatkan penghormatan layaknya pahlawan sehabis pulang perang. Ia dikecam dan mendapat perlakuan hina di Jepang. Meskipun secara hati nurani bangsa Jepang mendukung kemerdekaan Indonesia, namun kepatuhan mereka kepada negara merupakan hal yang paling utama.

Ini adalah soal kehormatan dan harga diri bangsa. Tidak aneh, setelah pulang semua akses ditutup untuk Maeda dan ia mendapat kesulitan luar biasa selepas dari dinas militer dan meninggal dunia dalam kondisi melarat.

Atas jasa Maeda tersebut, pada 1973, ia diundang pemerintah Indonesia untuk menghadiri perayaan kemerdekaan Indonesia. Dirinya menerima Bintang Jasa Nararya dari pemerintah Indonesia.*

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini