Sejarah Hari Ini (24 Agustus 1961) - Pemancangan Tiang Pertama Masjid Istiqlal

Sejarah Hari Ini (24 Agustus 1961) - Pemancangan Tiang Pertama Masjid Istiqlal
info gambar utama

Ide membuat Masjid Istiqlal yang terletak di ibu kota Indonesia, Jakarta, tercetus oleh Presiden Republik Indonesia (RI) pertama, Sukarno.

Keinginan membuat Masjid Istiqlal sudah terpikirkan olehnya pada 1944.

Sukarno saat itu mengajak para ulama membuat masjid yang megah dan bisa tahan lama.

"Marilah kita membuat masjid jami yang benar-benar tahan cakaran masa, seribu tahun, dua ribu tahun, dan untuk itu kita harus membuatnya dari besi, dari beton, pintunya dari perunggu, dari batu pualam, dan lain-lain sebagainya," kata Sukarno pada saat itu.

Dengan gaya khasnya, Sukarno juga pernah mengatakan: "Keinginan saya, dan juga komunitas Islam di sini adalah mendirikan sebuah Masjid Jumat yang lebih besar daripada Masjid Mohammad Ali (Kairo), lebih besar dari Masjid Salim (Damaskus). Lebih besar! Kenapa? Karena kita adalah bangsa yang besar!"

Mimpi membangun masjid tersebut baru dimulai dengan dibentuknya Yayasan Masjid Istiqlal pada 1954.

Sukarno sendiri menjadi Departemen Teknik pembangunan masjid tersebut.

Pada 1955, sebuah sayembara membuat maket Masjid Istiqlal diedarkan lewat sejumlah surat kabar.

Sayembara desain Masjid Istiqlal, Jakarta.
info gambar

Sebanyak 22 dari 30 arsitek lolos persyaratan.

Sukarno sebagai Ketua Dewan Juri mengumumkan nama Friedrich Silaban dengan karya berjudul "Ketuhanan" sebagai pemegang sayembara arsitek masjid itu.

Silaban, arsitek asal Bogor yang merupakan penganut Protestan itu, lalu dijuluki By the grace of God (Diberkati oleh Tuhan/Dengan Rahmat Tuhan) oleh Sukarno.

Maket Masjid Istiqlal
info gambar
Istiqlal buldoser
info gambar

Bertepatan pada hari Maulid Nabi Muhammad atau pada 24 Agustus 1961, pemancangan tiang Masjid Istiqlal dilakukan dan dipimpin oleh Sukarno.

"Harus belajar menjadi bangsa yang besar. Bangsa yang besar tidak boleh memiliki sebuah masjid kayu beratap genteng; untuk kota besar seperti Jakarta yang menjadi pusat Indoensia, diperlukan masjid yang semewah mungkin, (masjid) yang menjadi tempat ibadah lima puluh ribu, enam puluh ribu, tujuh puluh ribu orang, dan menggunakan bahan bangunan yang akan bertahan selama ratusan, bahkan ribuan tahun," kata Sukarno dalam pidatonya.

Masjid Istiqlal dibangun di atas tanah bekas Benteng Prins Frederik, benteng pertahanan kota Batavia yang berdiri pada 1830.

Oleh orang Jakarta pada saat itu, benteng tersebut biasa dikenal dengan nama Gedung Tanah yang dikelilingi taman bernama Taman Wilhelmina.

Pembangunan Masjid Istiqlal sendiri baru selesai 17 tahun kemudian atau delapan tahun setelah berpulangnya Sukarno.

Presiden RI kedua, Suharto, lalu meresmikan Masjid Istiqlal pada 22 Februari 1978.

Sukarno dan Friedrich Silaban.
info gambar

Dikutip dari surat kabar Kompas edisi 21 Februari 1978, enam tahun setelah Masjid Istiqlal selesai dibangun, F. Silaban mengatakan: "Arsitektur Istiqlal itu asli, tidak meniru dari mana-mana, tetapi juga tidak tahu dari mana datangnya."

"Patokan saya dalam merancang hanyalah kaidah-kaidah arsitektur yang sesuai dengan iklim Indonesia dan berdasarkan apa yang dikehendaki orang Islam terhadap sebuah masjid," lanjut dia.

---

Referensi: Star Weekly | Kees van Dijk, "Masa Lalu dalam Masa Kini: Arsitektur di Indonesia"

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini