Tak Pantang Menyerah, Berikut Pahlawan Penegak Literasi di Indonesia

Tak Pantang Menyerah, Berikut Pahlawan Penegak Literasi di Indonesia
info gambar utama

Kegiatan belajar mengajar saat ini harus berpindah ke rumah masing-masing dan beralih ke dunia digital dimana guru memberikan materi dan tugas melalui media sosial di ponsel seluler orang tua. Hal ini menyebabkan kegiatan belajar kurang diawasi dan anak-anak mulai lebih memperhatikan hiburan lain seperti internet daripada membaca.

Meskipun saat ini kegiatan belum bisa pulih seperti halnya tahun lalu, terutama dalam kegiatan belajar mengajar, hal ini tidak menjadi alasan untuk tidak mencari dan memperdalam ilmu dan pengetahuan. Literasi, yakni kemampuan serta ketrampilan untuk mengilhami dan mengolah informasi saat individu membaca dan menulis harus tetap meningkat walaupun tidak pergi ke sekolah.

Dalam hasil riset dari Program for International Student Assessment (PISA) tahun 2019, Indonesia mendapatkan peringkat bawah dalam pelajaran membaca, matematika, dan sains. Peringkat Indonesia cenderung sama dalam dekade terakhir. Namun hal ini tidak mematahkan semangat Indonesia untuk bangkit mengangkat tingkat literasi di Indonesia. Serangkaian kegiatan dilakukan pemerintah untuk meningkatkan literasi di Indonesia khususnya untuk masa depan Indonesia, yaitu anak-anak.

Pembenahan mulai dilakukan oleh Nadiem Anwar Kariem selaku Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) dengan beberapa langkah untuk menjadikan Indonesia lebih unggul di Sumber Daya Manusia (SDM). Tak hanya dari pemerintah, usaha dari pihak lain untuk menegakkan literasi di pelosok negeri ini juga berperan besar dalam meningkatkan daya minat anak-anak dalam membaca.

Membantu Tingkatkan Literasi Anak-anak Papua

Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang ditempatkan di Papua dan Papua Barat mampu menarik perhatian sobat literasi. Tak hanya bertugas sebagai penjaga perdamaian dan stabilitas diantara kedua provinsi, mereka juga mereka juga tinggal dan berbaur dengan masyarakat dan memahami kilas balik tantangan yang dihadapi penduduk lokal dalam kehidupan mereka sehari-hari. Dilansir GNFI dari Antaranews.com (12/08/20), kedua provinsi tersebut mengalami kekurangan tenaga pengajar karena tempat tinggal mereka yang terpencil dan cenderung sulit dijangkau. Akibatnya, perkembangan Sumber Daya Manusia (SDM) diantara kedia provinsi menjadi tantangan sulit daripada provinsi yang lain di Indonesia.

Menghadapi tantangan permasalahan di Provinsi Papua dan Papua Barat, para komandan menugaskan tentara, terutama tentara yang ditempatkan diantara perbatasan dekat Indonesia – Papua Nugini untuk menjadi guru untuk anak-anak di sekolah. Pada Juli 2019, mereka telah memberikan bantuan sukarela kepada lebih dari 12 sekolah dasar di beberapa kecamatan di Papua. Para tentara menjadi guru yang mengajarkan matematika, membaca, dan menulis kepada anak-anak sekolah dasar.

Para siswa di perbatasan Indonesia-Papua Nugini memanfaatkan perpustakaan keliling. (Foto: Penerangan Divisi 2 Kostrad)
info gambar

Tak hanya mengisi kesenjangan kekurangan guru di sekolah-sekolah, pasukan TNI juga menyediakan layanan transportasi untuk para siswa yang kesulitan mengakses jalan untuk berangkat ke sekolah. Meski saat pandemi Covid-19 melanda, dimana para siswa dipersilahkan untuk belajar di rumah, tak membuat para Tentara Indonesia tidak kehabisan ide untuk tetap membantu meningkatkan literasi pelajar Papua.

Untuk menggelitik rasa penasaran dan minat membaca pada anak-anak, pasukan TNI di perbatasan Indonesia – Papua Nugini menyediakan layanan perpustakaan keliling. Perpustakaan keliling ini diharapkan dapat menggugah para siswa untuk mengembangkan kebiasaan membaca dan memperluas ilmu dan pikiran mereka.

Tumbuhkan Semangat Literasi di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu

Kisah mengharukan datang dari Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Kedua siswi kelas IV Sekolah Dasar (SD) Dinamika Indonesia ini dapat menginspirasi sobat literasi untuk tetap gemar membaca.

Dikutip GNFI dari Republika.co.id (19/08/20), kedua siswi yang bernama Nadia dan Anisya ini selalu menjadi pengunjung setia perpustakaan sekolah. Lahir dengan latar belakang keluarga yang sama, yaitu orang tua mereka ada yang bekerja sebagai pemulung di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST). Meski bukan berasal dari keluarga yang berpendidikan tinggi, hal itu tidak berhenti membakar semangat mereka untuk menuntut ilmu.

Taman baca yang diberi nama Albert Einstein di sekolah dasar Dinamika Indonesia berhasil merebut perhatian anak-anak untuk menjadi tempat berkumpul dan membaca buku-buku yang ada di taman baca sederhana tersebut. Anisyah selaku staf perpustakaan SD memaparkan bahwa minat para siswa membaca sangat besar meskipun mereka masih kesulitan untuk mengeja huruf. Rata-rata siswa di sekolah tersebut memang berasal dari keluarga pemulung. keinginan para siswa untuk bisa membaca sangat kuat karena variasi buku-buku yang tersedia.

Taman baca ini berdiri dengan hasil kerjasama sekolah dengan Taman Baca Inovator (TBI) untuk menyediakan tempat khusus untuk perpustakaan dan berbagai buku anak - anak. Pihak dari Sekolah Dasar Dinamika Indonesia merasa sangat bersyukur karena dengan adanya kerja sama dari TBI, antusias membaca anak – anak meningkat.

---

Referensi: Infobekasi.co.id | Papua.Antaranews.com | Detik.com | Javasatu.com

Catatan Redaksi:

Penulis merupakan peserta magang jurnalistik yang diselenggarakan GNFI untuk periode Agustus 2020.

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

SS
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini