Hampir Terlupakan, Warga Bandung Peduli Ibu Hamil Terdampak Covid-19

Hampir Terlupakan, Warga Bandung Peduli Ibu Hamil Terdampak Covid-19
info gambar utama

Di masa seperti ini, memenuhi kebutuhan hidup keluarga menjadi masalah serius. Ibu hamil adalah salah satu terdampak dalam pandemi ini, karena keadaan mereka yang lebih rawan memaksa mereka untuk tetap diam di rumah dan menyebabkan kesulitan dalam memenuhi kebutuhan hidup.

Misalnya belanja kebutuhan sehari-hari, seperti sayur mayur dan sembako. Belum lagi ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK) dan potong gaji yang menimpa kepala keluarga atau pasangan mereka, sehingga menyebabkan kesulitan dalam memenuhi kebutuhan diri mereka masing-masing beserta anak yang dikandung.

Mengingat asupan nutrisi atau gizi yang seimbang dan tercukupi sangat diperlukan dalam masa seperti ini, ibu dan bayi tentu harus selalu dalam keadaan sehat.

Rupanya ada beberapa daerah yang tidak segan menyambangi kediaman warga mereka untuk memberikan sembako dan kebutuhan hidup lainnya. Pada 26 Juli 2020 silam, diketahui bahwa warga “kota kembang” Bandung memutuskan untuk membagikan sembako kepada ibu hamil yang terdampak dengan menggantungkan sejumlah tas berwarna merah jambu di pagar pembatas sungai Cikapundung.

https://www.goodnewsfromindonesia.id/BBC Indonesia
info gambar

Semua ini didasari oleh inisiatif para warga RW 06 Kelurahan Gumuruh, Kecamatan Batununggal, Kota Bandung, Jawa Barat. Para warga bekerja sama untuk memenuhi kebutuhan para ibu hamil dari warga kalangan menengah ke bawah yang kesulitan dalam memenuhi kebutuhan mereka di masa pandemi.

Inisiatif warga ini muncul lantaran belum ada bantuan bagi ibu hamil dari pemerintah pusat maupun daerah. Meskipun Kementerian Sosial pernah mengklaim telah menggelontorkan bantuan kepada ibu hamil dan Anak Usia Dini (AUD) sebesar Rp3 juta untuk setiap ibu hamil/AUD selama setahun.

Kata Sofyan Mustafa selaku kepala RW.06 pemerintah hanya memenuhi kebutuhan lainnya dari berbagai sumber misalnya dari dinas sosial, tapi untuk bantuan makanan yang memadai pemerintah belum memberikan bantuan.

Menurut Sofyan sendiri beberapa warganya mengalami dampak buruk di bidang ekonomi dari masa pandemi ini sehingga sangat sulit bagi warganya untuk memenuhi kebutuhan pangan sehat mereka.

Untuk itu, kegiatan ini dilakukan sebanyak 8 kali selama masa pandemi oleh pihak RW setempat dan dibantu oleh Karang Taruna dengan mengumpulkan hasil dari mengepul sampah rumah warga.

Kokom Komariah selaku ketua Karang Taruna tidak ingin ada seorang warga dari desanya yang kelaparan seperti yang diberitakan di luar sana, karena kekhawatirannya sebagai warga dan dukungan dari Sofyan selaku ketua RW maka akhirnya kegiatan bantuan ''centelan'' pun terwujud.

Ditambah lagi kegiatan ini juga mendapat dukungan dari para anggota Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) berdasarkan seorang warga yang tengah mengandung dan hidup di bawah kesusahan. Warga tersebut mengatakan jika ia pun juga mendapat bantuan dari pihak lain, meski begitu bantuan tersebut tetap masih kurang cukup untuk dirinya dan keluarga.

Bantuan yang ia terima dari sebuah organisasi bernama Program Keluarga Harapan(PKH) hanya bertahan selama 10 hari. PKH sendiri merupakan sebuah organisasi yang bertujuan untuk membantu keluarga miskin sejak tahun 2007 silam.

Sedangkan untuk keluarga yang berhak mendapatkan bantuan atau manfaat dari PKH adalah keluarga yang memenuhi syarat karena manfaat tersebut merupakan bantuan bersyarat. Bantuan yang diterima biasanya berupa beras sebanyak 10kg, satu ekor ayam dan sayur mayur serta uang sebanyak 150.000 rupiah.

Contoh yang bisa kita ambil adalah cerita dari Ibu Yanti selaku warga. Beliau sendiri mengatakan sangat terbantu karena bantuan tambahan dari pihak RW, jika sebelumnya beliau tidak bisa menuhi kebutuhan panganan sehat untuk keluarganya, maka kini ia bisa walaupun saat ini keluarganya tengah berada di bawah kesulitan ekonomi.

Bantuan ini dirasa sangat meringankan bebannya dan beban suaminya selaku kepala keluarga yang juga harus mengurusi keperluan rumah tangga lainnya.

https://www.goodnewsfromindonesia.id/uploads/images/2020/08/2122172020-_113872637_cantelan4.jpg
info gambar

Memang berdasarkan survei dan data dari Badan Pusat Statistik(BPS) jumlah warga atau penduduk miskin di Bandung sudah menurun sejak Maret 2019. Jika sebelumnya di tahun 2018 angkanya sempat mencapai angka 89.930 dari total penduduk 2,5 juta jiwa pada tahun 2018.

Meski begitu tahun 2020 ini juga membawa kesulitan bagi beberapa warga karena kebijakan dari beberapa instansi yang mengharuskan pekerja mereka untuk ''di-rumah-kan'' seperti yang terjadi pada suami ibu Yanti.

Karena alasan tersebut pemerintah melalui Kementerian Sosial mengklaim telah berupaya agar ibu hamil dan Anak Usia Dini (AUD) tercukupi asupan gizinya pada masa pandemi Covid-19 melalui bantuan sosial Program Keluarga Harapan (PKH).

"Pada masa pandemi Covid-19 daya beli masyarakat menurun. Untuk itu PKH dicairkan setiap bulan agar ibu-ibu Keluarga Penerima Manfaat (KPM) tetap ada pemasukan. Uang bansos ini harus dimanfaatkan untuk membeli bahan pangan bergizi seperti telur, ikan, daging, sayur, dan buah-buahan," kata Menteri Sosial, Juliari P Batubara, dalam keterangan tertulis dikutip Antara, 22 Juli 2020.

Kementerian Keuangan pada pertengahan April juga telah mengucurkan bansos PKH melalui Kementerian Sosial sebesar Rp2,34 triliun yang akan digelontorkan bagi keluarga yang tidak mampu.

Jumlah bantuan untuk komponen ibu hamil dan AUD tahun ini masing-masing mendapatkan Rp3 juta ibu hamil/AUD per tahun, naik dibandingkan dengan tahun lalu yakni Rp2,4 juta per ibu hamil/AUD.

Berdasarkan data Direktorat Jaminan Sosial Keluarga (JSK) Kemensos, jumlah ibu hamil yang menerima PKH pada 2020 sebanyak 60.908 orang sedangkan jumlah AUD adalah 2,9 juta jiwa. Menyadari kenyataan tersebut warga RW.06 Gumuruh pun prihatin dan memutuskan untuk berinisiatif memberikan bantuan berupa sembako dan makanan sehat untuk para ibu hamil.

Hal ini juga menjadi kekhawatiran WHO karena ibu hamil merupakan salah satu kelompok yang rentan setelah manusia usia lanjut (manula). Selain itu berdasar data sementara Unicef ada 2,6 juta ibu menderita anemia di masa awal pandemi dan berdasar data BKKBN Jawa Barat, jumlah ibu hamil hingga Juni 2020 sebanyak 346.214 orang atau 3,58% dari jumlah pasangan usia subur yang berjumlah 9,6 juta pasangan.

Maka dari itu, bantuan sekecil apapun sangat disyukuri oleh warga terdampak dan kelompok yang rentan terhadap virus covid-19.

Sumber: BBC | Kemsos | Databoks | Pikiran Rakyat

Catatan Redaksi:

Penulis merupakan peserta magang jurnalistik yang diselenggarakan GNFI untuk periode Agustus 2020.

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

HD
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini