4 Langkah Bangun Tim Kerja yang Solid

4 Langkah Bangun Tim Kerja yang Solid
info gambar utama

Dalam sebuah organisasi, komunitas, ataupun sebuah perusahaan, membangun tim kerja yang solid bukanlah hal yang mudah. Apalagi jika tim tersebut dalam lingkup organisasi dan komunitas yang notabennya memiliki kegiatan lain di luar itu.

Tidak mudah tentunya untuk menyatukan pikiran dan tenaga pada masing-masing anggota tim. Akan ada tantangan dan rintangan yang harus dilewati untuk membuat tim yang solid. Mau bagaimanapun, perlu usaha dan kemauan dari tiap anggota. Bukan hanya peran seorang pemimpin, anggota pun juga ikut berperan.

Marsya Nurmaranti selaku Executive Director dari Indorelawan membagikan hal menarik yang ia pelajari dari John C. Maxwell, seorang pembicara dan penulis asal Amerika. Menurut Marsya, ada pelajaran menarik yang bisa diambil dari John, yaitu sebelum bisa memimpin tim, maka harus bisa memimpin diri sendiri atau istilahnya self-leadership.

Tak hanya itu, Marsya juga membagikan pengalamannya bahwa ia sudah sering sekali mewawancarai banyak kandidat untuk menjadi anggota dalam organisasi yang ia kelola.

“Sebenarnya dari pengalaman wawancara, akhirnya menemukan formula ketika sudah beberapa kali melakukan wawancara dan prosesnya juga jadi lebih baik dalam menyeleksi,” tutur Asa, sapaannya.

Selanjutnya, pada Kelas GNFI ke-22 bertajuk "How to Build & Maintain Your Team Performance", Marsya pun menjabarkan ada 4 langkah yang ia lakukan untuk bisa membangun sebuah tim kerja yang solid yang ia sebuat 4R.

Recruit

Ilustrasi rekrutmen | Foto: freepik.com
info gambar

Dalam proses recruit atau rekrut ada tiga hal yang perlu diperhatikan, yaitu attitude, motivation, dan personality yang semuanya termasuk pula melihat kemampuan dan juga pengalaman si kandidat anggota. Ketika merecrut orang, sebisa mungkin untuk merincikan ingin mencari orang yang seperti apa.

"Ketika proses rekrutmen, bayangkan juga apakah dia akan cocok dengan tim yang ada sekarang. Bayangkan dari hasil wawancaranya baik dari personality, attitude, hingga pengalaman yang sudah dia jalani," Kata Asa.

Regulate

Saat mengatur tim, penting untuk mengkomunikasikan bagaimana cara kerjanya bagi anggota tim yang baru masuk. Komunikasikan budaya organisasinya seperti apa. Mau santai, tegas, santai tapi tegas, dan sebagainya itu harus ditentukan di awal.

Komunikasikan juga cara kerja dan kebiasaan kerja. Kemudian beri arahan ketika akan mencapai tujuan. Ketika punya program tujuannya untuk apa, bagaimana cara tim bisa mencapai tujuan, beri juga peningkatan kapasitas, seperti ada pelatihan dan bantuan mentoring. Dan terakhir, aturlah ekspetasi supaya tim yang diberikan instruksi paham.

Rock the job

Ilustrasi team work | Foto: freepik.com
info gambar

Pada proses ini, anggota tim sudah masuk ke organisasi, sudah menjadi bagian, dan sudah beberapa lama di organisasi. Di sini jiwa kepemimpinan seorang pemimpin akan dipacu dan diuji. Dalam proses kepemimpinan, kenalilah tim dengan baik, buat standar organisasi supaya menjaga kualitas kerja anggota, dan menjadi contoh bagi anggota.

Kemudian, komunikasikan ekspetasi dan tujuan yang jelas, bertanya, dan dengarkan anggota. Beri apresiasi, gunakan kata maaf apabila salah, ucapkan terima kasih dan kata-kata penyemangat lainnya.

“Jangan lupa minta maaf kalau ada sesuatu yang merepotkan, minta tolong, terima kasih kalau mereka sudah mengerjakan. Jangan malu untuk memberikan apresiasi sebagai leader untuk bilang good job, well done, lo keren banget tadi, itu akan ngeboost mereka tapi jangan lupa kasih masukan. Penting untuk mengapresiasi," jelas Asa.

Report

Buatlah evaluasi project dengan membuat dokumen laporan yang penting, meeting evaluasi, dan pelatihan. Adapula evaluasi kerja berupa monthly report dan quarterly report.

Bisa juga dengan memberikan feedback satu satu ke para anggota tim. Setelah itu, lakukan 360 degree evaluation, untuk evaluasi seluruh tim dengan tujuan untuk mengetahui hal apa saja yang perlu diperbaiki dan menjadi bahan penilaian di akhir tahun.

“Bikin tim senyaman mungkin, buat kegiatan rutin di komunitas, kantor, atau organisasi. Bikin kegiatan yang rutin,” ujar Asa.

Selain itu, Asa juga berpesan supaya dapat berempati dan harus menunjukkan kepedulian di luar tanggung jawab tim dan berusaha memahami tim. (Des)

--

Baca juga:

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini