Penutupan Simposium Internasional ke-12 Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) DUNIA

Penutupan Simposium Internasional ke-12 Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) DUNIA
info gambar utama

Penutupan SI Online PPI Dunia 2020 Diisi dengan Webinar dan Sosialisasi Seputar Pembangunan Nasional Pascapandemi COVID-19

Penutupan Simposium Internasional Online PPI Dunia 2020 telah berlangsung pada Ahad (30/08). Setelah sebelumnya melalui rangkaian acara yang dilaksanakan selama 15 hari dan dimulai pada Sabtu (15/08). Simposium Internasional Online PPI Dunia ini dilaksanakan melalui mdia daring Zoom disiar luaskan melalui kanal Youtube PPI TV.

Sebagai bagian dari rangkaian acara penutupan, diadakan sosialisasi Gerakan Pakai Masker (GPM) serta webinar yang diisi oleh Menteri BUMN serta Deputi Bidang Pembangunan Manusia, Masyarakat, dan Kebudayaan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional. Selain itu, diselenggarakan pula PPID Awards serta Pidato Kebangsaan yang akan dibawakan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, Nadiem Makarim.

Sebagai pembuka, diadakan sosialisasi Gerakan Pakai Masker dengan tema “Indonesia Peduli, Gaungkan pada Dunia” oleh Sigit Pramono selaku Ketua Umum Gerakan Pakai Masker, Taufan Akbari selaku Coordinator Campaign Director Millenial Cluster, Fadhlan Muzakki selaku Koordiantor PPI Dunia 2019/2020, Elza Firdiani selaku Ketua PPI Jepang, dr. Putri Halley Sari Hadi, dan drg. Irfanda Mulyaningsih.

Taufan menyampaikan bahwasanya sebanyak 3,308 kasus baru Covid-19 dalam kurun waktu 25 jam, menandakan bahwa perjuangan kita melawan covid-19 belum selesai. Gerakan Pakai Masker ini didukung oleh orang-orang dari berbagai lini serta memiliki tujuan untuk merespon masalah kesehatan dengan cara mengedukasi masyarakat dan juga menciptakan citra Indonesia yang baik dalam menangani covid-19 di mata dunia.

“Kita bukan gerakan bagi-bagi masker. Kita memiliki program untuk kampanye publik mengisi peran kosong yang harusnya ditangani pemerintah. Tapi Alhamdulillah, 3 bulan belakangan ini mulai ada edukasi masyarakat yang diisi oleh pemerintah,” ungkap Sigit.

Selain itu, menurutnya keragaman yang terlalu banyak di Indonesia merupakan salah satu faktor penghambat penangan covid-19 yang seharusnya butuh kecepatan dan kesatupaduan, penyebaran berita hoax juga menjadi salah satu faktor penghambat penanganan covid-19. Dari itu, dirasa perlu melakukan Rebranding untuk menaikkan rating Indonesia di posisi 10 besar dari posisi ke 97 sebaga negara paling aman dari Covid-19.

“Ketika Indonesia berada di urutan 10 besar, akan menarik minat wisatawan asing untuk berkunjung. Sehingga dengan adanya wisatawan asing yang berkunjung akan meningkatkan perekonomian Indonesia. Dan Indonesia pasti bisa meraih peringkat 10 ini,” tambah Sigit.

Selanjutnya Elza Firdiani dari PPI Jepang yang tengah menempuh studi doctoral terkait pelajaran menular. Dalam kesempatan ini, Elza menyampaikan terkait penanganan Covid-19 di Jepang, dan salah satu yang paling ditekankan ialah dengan menekan angka kematian.

“Pemerintah Jepang menekankan karantina demi menekan jumlah penularan Covid-19 ini. Masyarakatnya dilarang keluar dari prefektur (provinsi) tempat tinggalnya, karena selama ini banyak kasus terjadi akibat penularan dari orang yang baru saja pulang dari kota besar. Dan masyarakatnya juga nurut. Selain itu juga riset terkait covid-19 ini bukan sekedar mencari vaksin, tapi juga mengenai hal-hal teknis penularan covid-19,” papar Elza.

Kampanye yang digalakkan oleh pemerintah Jepang ialah kampanye Shimitsu (menghindari 3C) yaitu, menghindari closed place, crowded place, dan menghindari bertemu secara face to face. Memakai masker di Jepang ini memang merupakan suatu budaya untuk menghindari alergi musiman. Dan pemakaian masker ini sangat efektif untuk mengurangi penularan penyakit lewat droplets.

Selanjutnya sosialisasi dilanjutkan dengan penekanan pentingya penggunaan masker, cuci tanga, dan jaga jarak oleh dr. Ervanda. Dan sebagai tambahan dr. Putri menyampaikan untuk memperhatikan durasi waktu keluar di tempat umum yang tidak terlalu lama, pentingnya mencuci tangan dengan benar sebelum memakai masker.

Memasuki sesi webinar yang diisi oleh Menteri BUMN, Erick Thohir dan dimoderatori oleh Ahmad Ghiyats Fawwaz dari HPMI Yordania. Webinar pada sesi ini megangkat tema, ‘Peran Generasi Muda dalam Kebangkitan Nasional Pascapandemi Covid-19’. Menurut Erick, era pandemic ini waktunya generasi muda berinovasi dan berupaya, begitu juga BUMN yang ada di Indonesia agar terjadinya kesinambungan peran untuk menangani Covid-19 ini.

Dalam hal penangan covid-19 sendiri, BUMN mengambil peranan diantaranya dengan menyediakan rumah sakit khusus covid-19 di RSPJ Cempaka Putih dan RSPP Simprug dan juga penambahan jumlah tempat tidur di seluruh rumah sakit BUMN sebanyak 2,703 beds dan 307 ruang ICU. Selain itu juga diadakan vaksin melalui perusahaan Bio Farma dan Kimia Farma, dimana Bio Farma sendiri telah mendapatkan komitmen dari SINOVAC untuk penyediaan bahan baku vaksin sebanyak 20 juta dosis pada akhir tahun 2020 dan Kimia Farma pada akhir tahun 2020 akan menyediakan 10 juta dosis vaksin. Selain itu juga pengadaan bantuan dari mulai subsidi listrik hingga penangan ekonomi melalui pengefektifan sarana simpan pinjam dilaksanakan BUMN dimana hal-hal ini berkaitan dengan 5 prinsip kementerian BUMN.

“Komite sendiri memiliki komitmen ‘Indonesia Sehat, Indonesia Bekerja, Indonesia Bertumbuh’ tidak bisa dibalik urutanya ini. Kesehatan memang menjadi prioritas pertama. Tidak mungkin Indonesia tumbuh tanpa adanya Indonesia Sehat. Indonesia sehat tidak mungkin terlaksana tanpa adanya dukungan dari masyarakat dengan memperhatikan protocol kesehatan yang ada. Jadi mari kita sayangi diri kita sendiri,” ungkap Erick.

Selain itu, Erick memotivasi generasi muda untuk menjadi entrepreneur karena dirasa generasi muda lebih mampu untuk beradaptasi dengan era teknologi dan meningkatkan jumlah pengusaha swasta di Indonesia. Erick juga berharap PPI Dunia mampu menjadi tempat untuk generasi muda membangun kedisiplinan, serta membentuk pola pikir baik, perjuangan, dan tempat berinovasi.

Webinar selanjutnya diisi oleh Subandi Sardjoko sebagai Deputi bidang Pembangunan Manusia, Masyarakat, dan Kebudayaan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional dengan tema, ‘Peran Generasi Muda dalam Kebangkitan Nasional Menjelang 10 Tahun Target Tujuan Pembangunan Berkelanjutan Indonesia 2030’.

Subandi mengungkapkan, saat ini Indonesia dituntut untuk tetap produktif tapi harus berhati-hati terhadap covid-19, sehingga memperhatikan protocol kesehatan adalah hal yang harus diutamakan. Juga, dipaparkan bahwasanya strategi pemulihan ekonomi pascapandemi melalui penguatan sektor kesehatan, perluasan program perlindungan sosial, pembangunan infrastruktur yang mendukung kawasan pariwisata

“Kita membagi dampak covid-19 ini menjadi 4 pilar besar, yakni, pilar sosial, ekonomi, lingkungan, dan governments. Sebagai upaya untuk menangani empat pilar ini, pembangunan nasional adalah cara untuk tetap menegakkan stabilitas yang ada,” papar Subandi.

Selain itu Subandi juga memaparkan dampak pandemi bagi pendidikan, perempuan, generasi muda secara khusus. Dan menekankan para generasi muda untuk meningkatkan essential skills yang bertujuan mendorong kemajuan bangsa,.

Sebagai penutupan, Pidato Kebangsaan dibawakan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim. Menurut Nadiem Mkaarim, Simposium Internasional kali ini spesial karena dilaksanakan dengan lancar meskipun sepenuhnya daring dan juga bertepatan dengan 75 tahun kemerdekaan Indonesia.

Nadiem menyampaikan bahwasanya nasionalisme akan tumbuh lebih besar ketika berada di luar negeri.

“Kekayaan Sumber Daya Alam kita di Indonesia tidak bisa mengolah dirinya sendiri agar mendatangkan manfaat bagi bangsa Indonesia. Sumber Daya Manusia adalah kuncinya. Kalian yang belajar di luar negeri merupakan 0,1% dari 200 juta jiwa yang ada di Indonesia. Privilege yang kalian miliki ini harus dapat dimanfaatkan dengan sebaik mungkin untuk mencari ilmu, menimba pengalaman, membuat network pertemanna seumur hidup, memperkenalkan budaya Indonesia. Satu permintaan saya, kemabalilah ke Tanah Air, karena dampak yang bisa teman-teman lakukan di Indonesia begitu luar biasa,” ungkap Nadiem.

Selain sosialisasi dan webinar diselenggarakan pula PPI Awards untuk mengapresiasi seluruh kinerja yang dilakukan di masing-masing PPI Negara. Diantara yang mendapatkan penghargaan ialah PPMI Mesir sebagai PPI Negara Terinspiratif juga sebagai nominasi inovasi dan teknologi, Perpika Korea Selatan mendapat nominasi pendidikan, PPMI Pakistan mendapat nominasi sosial, PPI Turki mendapat nminasi publikasi dan media, PPI Tiongkok kategori budaya, dan kategori penanggulangan covid-19 diraih oleh PPI Malaysia.

Diadakan pula sosialisasi PANDI, dengan tema, “Merajut Nusantara melalui Digitalisasi Aksara” bersama Yudho. Pada periode 2019/2020 ini PPI Dunia berhasil mengadakan rumah digital PPI Dunia dan salah satu programnya merupakan ‘Merajut Nusantara melalui Digitaslisasi Aksara’ akan menghadirkan aksara Jawa di ranah digital agar bahasa ini tidak hilang. Serta sambutan-sambutan yang diisi oleh Koordinator PPI Dunia periode 2019/2020, Fadhlan Muzakki dari PPI Tiongkok dan KOordinator PPI Dunia 2020/2021, Choirul Anam dari PPI Ceko.
Penulis : Hilda Humeyra Pengurus Perhimpunan Pelajar Inondonesia (PPI) Dunia 2019/2020



Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini