Pulau Tulang, Tempat Horor yang Kini Jadi Tujuan Ekowisata

Pulau Tulang, Tempat Horor yang Kini Jadi Tujuan Ekowisata
info gambar utama

Namanya kurang moncer, bahkan tak karib terdengar dikalangan para pelancong. Tapi tidak dengan masyarakat Kampung Dufa-Dufa, Desa Gamsungi, Tobelo, Halmahera Utara, Maluku Utara. Adalah Pulau Tulang yang menjadi salah satu tujuan wisata untuk menikmati pemandangan sekaligus merasakan nuansa ekowisata pulau.

Padahal jika kita menarik sejarahnya, pulau ini boleh jadi horor dan mencekam. Pasalnya di era kolonial, pulau ini diperuntukkan sebagai tempat pembuangan warga yang dieksekusi, hingga banyak tulang belulang manusia bertebaran.

Bahkan sebelum itu, pulau itu juga dijadikan markas para perompak/bajak laut Tobelo untuk menyelesaikan beragam masalah. Tarung hingga putus nyawa pun mereka lakukan di sana.

Gimana? Horor bukan?

Hingga kemudian pada awal tahun 80-an, seorang kakek membersihkan kerangka manusia di Pulau itu. Sang kakek pun membaca mantera berupa doa, agar roh-roh pemilik tulang-belulang itu tak bergentayangan. Demikian kira-kira cerita Fahri (24 tahun) yang merupakan cucu kakek tersebut pada Mongabay Indonesia.

Kemudian sebagai generasi penerus, boleh jadi Fahri yang jebolan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Maluku Utara itu meneruskan cita-cita sang kakek untuk menjaga pulau dari sampah, hingga pulau tersebut nyaman dikunjungi dan ditinggali.

Menjadi pulau ekowisata

Fahri pun berupaya menjadikan pulau tersebut sebagai tujuan ekowisata. Sebagai tempat orang berlibur sekaligus mendapatkan edukasi soal beragam sampah plastik dan bahayanya. Tak heran, belakangan Pulau Tulang pun selalu ramai kunjungan, terutama pada musim libur.

Untuk sampai ke pulau itu, tak butuh waktu lama bagi pengunjung. Cukup 5 menit para pengunjung sudah bisa menapak di pulau itu dengan sebelumnya menumpang perahu dengan ongkos Rp5.000 untuk sekali jalan.

Bagi kalangan mahasiswa dan pelajar yang ingin berkunjung ke pulau itu, cukup membayar karcis masuk dengan sampah botol plastik. Dari pengumpulan botol plastik itu, Fahri dan para rekannya membangun dasar sebuah rumah panggung berlantai dua. Jika dihitung, bangunan itu berdiri dari 5.024 botol plastik yang dicampur semen.

bangunan panggung pulau tulang
info gambar

Dari bangunan dua lantai itu, Fahri membuat ruang membaca buku dan kamar untuk menginap para pengunjung. Fahri pun menyebut baru pada awal 2020 ia mengelola pulau itu agar terlihat bersih dan asri.

Pasalnya, sebelum pulau itu dikelola, banyak sekali para pemancing ilegal yang mengambil habitat ikan dan satwa laut di sana. Padahal, di sekitar pulau tulang terdapat salah satu hewan endemik yang tak ditemukan di belahan dunia lain, yakni Hiu berjalan atau walking shark.

Lain itu, akibat ulah para pemancing itu ekosistem terumbu karang terlihat rusak dan tak beraturan. Hilang sudah keindahan biota laut di sekitaran pulau.

''Kalau kita mancing ikan, sering dapat hiu berjalan. Kami lepas. Hiu jenis ini biasa kita temu di sebelah kiri pulau ini, hingga ke pulau tetangga, Pulau Kumo,'' ungkapnya.

Diakui pemuda yang pernah aktif di organisasi Walhi Maluku Utara ini, memang masih banyak kekurangan dalam pengelolaan pulau tersebut. Meski begitu ia akan terus belajar dan mengembangkan pariwisata pulau yang berbasis lingkungan.

Lain itu, ia juga membangun jaringan antar orang muda dari berbagai pulau. sasarannya tak jauh, dimulai dari pemuda di Pulau Kumo.

Pulau Kumo
info gambar

Membantu ekonomi warga desa

Selain mengelola pulau secara intensif dan menjadikannya sebagai pulau layak kunjung, Fahri juga berinisiatif untuk membantu ekonomi warga seberang pulau dari Desa Dufa Dufa dengan menerima titipan dagangan mereka, seperti jagung rebus hingga rujak.

Kedua jenis kudapan itu memang cocok disantap sambil menikmati panorama pulau, ditambah seduhan kopi panas.

Dalam sehari jika pengunjung ramai, maka Fahri bisa mengantongi hingga Rp1 juta bahkan lebih, dari gadangan-dagangan tadi.

Upaya mendapatkan perhatian pemerintah setempat

Apa yang dilakukan Fahri tentunya memiliki tujuan besar. Yakni pemerintah daerah setempat memerhatikan potensi ekowisata di sekitar wilayahnya. Pendek kata, ia ingin meyuarakan ada potensi kelautan yang bisa terkelola baik, tanpa harus reklamasi.

Soal wisata ekowisata laut yang dipikirkan tentu sejalan dengan data Badan Pusat Stastistik (BPS) 2020, yang menyebut bahwa luas wilayah Halmahera Utara adalah 3.891,62 kilometer persegi, yang 78 persennya merupakan lautan.

Pada 2016, BPS mencatat bahwa di kawasan itu memiliki sekira 216 pulau, dengan luas keseluruhan mencapai 22.507,32 kilometer persegi atau seluas 22 persen. Sisanya lautan yang mencapai luas 17.555,71 kilometer persegi.

Secara umum, wilayah ini dipengaruhi iklim laut tropis. Pada 2019 rata-rata suhu udara terendah tercatat pada 25,7o celsius dan rata-rata suhu udara tertinggi tertinggi 27,3o celcius. Sementara kelembaban udara di kawasan itu berkisar antara 83-91 persen.

Mendengar ceritanya, sepertinya layak kunjung kawan!

Baca juga:

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini