Semoga, Jalan Tol Jogja - Solo Benar Rampung di 2022

Semoga, Jalan Tol Jogja - Solo Benar Rampung di 2022
info gambar utama

Yogyakarta adalah kampung halaman saya, saya lahir, sekolah, dan kuliah di kota itu. Kemudian, sejak lulus kuliah, saya merantau ke berbagai kota di Indonesia dan luar negara, hingga akhirnya saya memilih tinggal di Surabaya, hingga sekarang. Tentu, saya harus sering pulang kampung ke Jogja, toh Surabaya Jogja "tidak terlalu jauh".

Namun, sebelum tahun 2017, perjalanan pulang kampung dari Surabaya ke Yogyakarta adalah sebuah perjuangan 'panjang', berat, dan melelahkan, menelusuri jalanan padat yang melintasi Jawa Timur bagian tengah yang penuh dengan lampu merah, melewati pasar, persimpangan kereta, dan jalan dua jalur yang sempit, berebutan dengan truk-truk besar dan bis-bis antar kota yang nekad-nekad. Perjalanan diteruskan memasuki memasuki Sragen, Solo, dan Klaten di Jawa Tengah, sebelum akhirnya masuk ke Prambanan di Yogyakarta. Sebuah perjalanan panjang bahkan hingga 9 jam jika perjalanan darat dilakukan pada akhir pekan atau waktu libur panjang. Rekor saya adalah 16 jam saat pulang dari Yogyakarta kembali ke Surabaya, pada musim lebaran 2013.

Kini, kondisi jelas berbeda. Jalan tol Trans Jawa yang kini sudah menghubungkan Probolinggo (Jawa Timur) hingga Merak (Banten) di ujung barat Jawa. Tentu saya terbantu sekali ketika harus sering pulang pergi Surabaya - Jogja - Surabaya karena suatu keperluan. Yang dulunya 7-8 jam, terpangkas 'hanya' 5 jam. Lima jam...bukan sebuah waktu yang pendek juga sebenarnya. Mengapa?

Yang membuat perjalanan masih cukup lamac, adalah perjalanan keluar dari pintu tol Kartasura hingga ke Yogyakarta sejauh 60-an kilometer yang masih melewati jalan biasa, bukan jalan tol. Seringkali, perjalanan dari dan ke dua titik tersebut, lebih lama dibandingkan waktu tempuh dari dan ke pintu tol Kartasura, hingga rumah saya di Surabaya, yang berjarak 260 km.

Saya selalu bertanya-tanya, mengapa Yogyakarta belum ada tol? Mengapa gubernur Jogja (dulu) menolak tol? Pertanyaan-pertanyaan itu menggelayut dan berubah menjadi 'kemangkelan' saat jalan Solo-Jogja macet. "Yogya perlu tersambung tol. Segera!" teriak saya dalam hati.

Maka ketika ada kabar bahwa artinya Sri Sultan HB X menyetujui Yogyakarta untuk dibangun tol, setiap saat saya selalu menunggu updatenya. Tol Apalagi, bandara Yogyakarta sudah pindah dari Maguwoharjo ke Temon (Kulon Progo) yang berarti hampir 70 kilometer dari rumah saya di Yogyakarta. Sebuah jarak yang begitu jauh untuk sebuah bandara dari kota terdekat. Saya selalu merasa, bahwa Kuala Lumpur International Airport (KLIA) di Sepang (Malaysia), yang berjarak 50 km dari pusat kota Kuala Lumpur, adalah bandara yang begitu jauh. Perlu waktu 1 jam dari bandara ke kota, dan itupun melalui jalan raya lebar bebas hambatan. Sementara, belum ada satu pun ruas tol di Yogyakarta. Bayangkan berapa jam jika orang dari Pakem (Sleman) harus ke YIA, bisa berjam-jam baru sampai.

Sekali lagi, jalan tol, adalah sebuah kebutuhan mendesak bagi propinsi Yogyakarta.

Perlu diingat, hadirnya tol Trans Jawa telah memunculkan titik-titik wisata baru yang populer dan sangat bagus, di sepanjang jalan raya tersebut. Para pelancong akan memilih tempat-tempat yang mudah diakses, waktu tempuh yang pendek, dan bisa mengoptimalkan waktunya untuk bersantai di tempat wisata, bukan di jalan. Inilah mengapa, tempat-tempat seperti Probolinggo, Pasuruan, Madiun, Bawen, dan lainnya (yang dilewati tol), mereguk keuntungan tersebut. Bayangkan saja, liburan ke Bawen (sebuah kawasan pegunungan yang begitu indah di dekat Semarang), pelancong dari Surabaya bisa memanfaatkan libur akhir pekan (berangkat Sabtu pagi, pulang minggu Sore), dengan waktu tempuh hanya 2.5 jam. Saya akan berpikir dua kali jika liburan ke Jogja, jika hanya memanfaatkan Sabtu dan Minggu.

Selain itu, adanya jalan tol di Jogja, menurut saya, adalah pembangunan yang sifatnya natural yang cepat atau lambat akan dibutuhkan. Pembangunan, utamanya di Pulau Jawa, sudah berkembang dengan begitu pesat di bagian barat dan timur. Jika Yogyakarta "sulit" diakses, maka tentu akan makin tertinggal dari kawasan-kawasan lain di Pulau Jawa.

Kembali menyegarkan ingatan kita, bahwa tol Jogja ini nanti akan menyambungkan yogyakarta ke dua titik tol Trans Jawa yang sudah beroperasi, yakni di Kartasura, dan di Bawen. Dari Kartasura, tol akan menyambungkan Yogyakarta dengan Jawa Tengah dari arah timur, sedangkan dari Bawen, Jawa Tengah akan tersambung ke Yogyakarta dari utara. Keduanya akan bertemu, dan diteruskan hingga bandara baru Yogyakarta Int'l Airport (YIA).

Lalu sampai mana perkembangan terkininya? Nantinya pembangunan dimulai dari wilayah Yogyakarta terlebih dahulu, lalu segera dikerjakan secara paralel di wilayah Jawa Tengah (Solo), dan akan bertemu di wilayah Klaten.

Pembangunan tol Jogja-Solo akan dilakukan melalui tiga tahap, yang dimulai dari wilayah Solo-Purwomartani, Sleman, DI Yogyakarta. Dikutip dari Suara.com, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Satker Pelaksana Jalan Bebas Hambatan (PJBH) Tol Jogja-Solo Wijayanto menjelaskan bahwa mulai September 2020 verifikasi dan identifikasi tanah diharapkan bisa selesai. Dengan begitu, pada November-Desember bisa segera dilakukan pembayaran (ganti untung). Wijayanto juga mengungkapkan, jika pada 2020 pengadaan tanah dan pembayaran selesai, pembangunan tol trase Jogja-Solo dimulai pada awal 2021. Dan, seperti dikutip dari Jawa Pos, jika semua berjalan sesuai rencana tanpa ada hambatan berarti, maka ruas tol ini akan bisa beroperasi pada pertengahan atau akhir 2022. Semoga.

Bagi mereka yang kampung halamannya ada di Yogyakarta, tentu berita ini menggembirakan. Jika benar 2022, Yogyakarta sudah terhubung tol, saya berpendapat bahwa propinsi ini (setidaknya) akan 'menengguk' kembali berbagai keunggulan kompetitifnya, karena akses yang jauh lebih nyaman.

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini