Orang Boentoet, Legenda Manusia Berekor di Pedalaman Borneo

Orang Boentoet, Legenda Manusia Berekor di Pedalaman Borneo
info gambar utama

Manusia berekor Borneo? Terdengar aneh kawan. Tapi nyatanya, legenda manusia berekor asal Bornoe pernah mencuat dan memantik sebuah penelitian yang dilakukan orang asing.

Adalah Carl Alfred Bock, seorang naturalis dan pelancong kelahiran Kopenhagen, Denmark. Meskipun lahir di Denmark, Bock mengikuti kewarganegaraan orang tuanya, Norwegia. Ia penasaran akan legenda keberadaan manusia berekor asal pedalaman Kalimantan itu.

Awal penasaran Bock berasal dari cerita manusia berekor ini menghuni pemukiman Kesultanan Paser (Kalimantan Timur) dan tepian Sungai Teweh (Kalimantan Tengah). Ada juga yang menyebut ras manusia berekor sebagai ''Orang Boentoet''. Boleh jadi, kata ''boentoet'' itu bermakna ekor atau buntut.

Dalam National Geographic Indonesia disebut, Bock melakukan perjalanan ke pedalaman Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan pada 1879 utuk mencari manusia berekor tersebut. Kala itu usianya masih 30. Sebelum melakukan penelusuran ke pedalaman Kalimantan, Bock juga menjelajah di pedalaman Sumatra pada 1878.

Misinya di Kalimantan itu disebutkan sebagai pelaksanaan titah dari Gubernur Jenderal Johan van Lansberge. Memang, Bock kerap melaporkan kepada sang Gubernur soal peradaban suku-suku Dayak, terkait spesimen sejarah alam untuk museum di Belanda.

Nah, dari cerita Bock soal ras manusia berekor di Kalimantan itulah sepertinya sang gubernur penasaran dan mendelegasikan untuk menemukannya. Bahkan jika bisa, memboyongnya ke Belanda.

Titah dan sayembara

Cerita dimulai ketika seorang abdi kepercayaan Kesultanan Kutai meyakinkan Bock di depan Sultan dan pengeran bahwa dirinya pernah melihat Oerang Boentoet. Digambarkannya, Orang Boentoet memiliki ekor sekira 5-10 cm. Bahkan untuk duduk saja, mereka melubangi alas agar tak menjepit ekor mereka.

Orang Boentoet diceritakan tinggal berkelompok di dalam rumah yang memiliki lubang pada lantainya. Lubang tersebut sebagai tempat meletakkan ekor ketika duduk, agar mereka merasa nyaman.

Terpana dengan cerita itu, kemudian Sultan Kutai mengirimkan sang abdi menyambangi Kesultanan Paser dengan surat untuk sang Sultan Paser. Surat itu menyebutkan sebagai permintaan membawa sepasang Orang Boentoet ke Kesultanan Kutai.

Kesultanan Kutai
info gambar

Meski saat itu Bock kurang yakin dengan cerita sang abdi, Bock menjanjikan imbalan 500 gulden untuk sang abdi jika berhasil membawa ras manusia berekor itu ke Kesultanan Kutai.

Beberapa hari berlalu tanpa kabar. Bock kemudian melanjutkan perjalanan dari Tenggarong ke Banjarmasin. Saat di Banjarmasin, sang abdi pun menjumpainya. Ia kecewa karena tak berhasil membawa sepasang Orang Boentoet, meski telah menyampaikan surat ke Kesultanan Paser.

Atas kejadian itu, kemudian Residen Banjarmasin pun membantu Bock dengan kembali mengirimkan surat kepada Kesultanan Paser untuk menanyakan soal Orang Boentoet tersebut.

suku di pedalaman borneo
info gambar

Suku pengawal kesultanan dan pernyataan perang

Sebulan berlalu, surat balasan dari Sultan Paser pun sampai juga ke tangan Residen Banjarmasin, dan nampakya ada salah paham. Orang Boentoet yang dimaksud adalah sebutan para pengawal pribadi Sultan Paser, dan bukan ras manusia berekor.

Maka pantas jika Sultan Paser berang hingga mengancam perlawanan terhadap Sultan Kutai. Akibatnya, mereka mendirikan kubu pertahanan dan bersiap berperang melawan Kesultanan Kutai.

''Jika Sultan Kutai menginginkan Orang-boentoet saya, biarkan dia ambil sendiri,'' tulis Sultan Paser, seperti diceritakan Bock dalam bukunya The Head Hunters of Borneo yang terbit pada 1881.

Diakhir cerita itu kemudian nampaknya Bock tak tertarik lagi untuk lebih jauh mencari jawaban atas misteri ras manusia berekor di pedalaman Borneo.

Buku Head Hunters of Borneo
info gambar

Memang, selama petualangannya di Samarinda-Tenggarong-Banjarmasin dan pedalaman Kalimantan itu, Bock membuat jurnal yang kemudian ia tulis dalam buku petualangannya. Buku kisah Bock kemudian diterbitkan ulang seabad kemudian (1986) dengan judul serupa.

Isinya menurut The Independent merupakan pengembangan dari cerita Bock soal perjalanannya ke pedalaman Kalimantan dan pedalaman Sumatra. R.H.W. Reece adalah yang menceritakan ulang kisah itu.

Baca juga:

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini