Tak Banyak yang Tahu, Tenun Ikat Sintang Ternyata Laris Manis di Pasar Dunia

Tak Banyak yang Tahu, Tenun Ikat Sintang Ternyata Laris Manis di Pasar Dunia
info gambar utama

Di balik kisah legenda Bujang Beji dan Bukit Kelam, pesona Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat, ternyata belum habis sampai di situ. Kawan GNFI tentu tahu soal Bukit Kelam yang disebut-sebut sebagai batu monolit terbesar di dunia. Bahkan disinyalir mampu mengalahkan Ayyers Rock dari Australia.

Jika Kawan GNFI berkesempatan untuk berkunjung ke Bukit Kelam, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat, jangan beranjak pergi dulu! Karena Sintang masih punya pesona kekayaan budaya lainnya yang tak banyak orang tahu. Salah satunya adalah Tenun Ikat Sintang.

Pada 2015 lalu Tenun Ikat Sintang—atau kerap juga disebut sebagai Tenun Ikat Dayak Sintang—telah terdaftar sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia yang dikelola oleh Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, dalam kategori Kemahiran dan Kerajinan Tradisional.

Selain itu pernah juga mendapatkan penghargaan Upakarti dari Direktorat Jenderal Industri Kecil Menengah, Kementerian Perindustrian. Untuk diketahui, Penghargaan Upakarti diberikan sebagai penghargaan di bidang perindustrian yang diberikan kepada pihak yang berprestasi, berjasa, dan aktif melakukan pengembangan atau pembinaan industri kecil dan industri menengah.

Salah satu desa yang cukup terkenal sebagai sentra pengrajin Tenun Ikat Sintang adalah Desa Ensaid Panjang. Kualitas kain tenun dari sini terbukti berkualitas. Di regional kawasan Kabupaten Sintang, Desa Ensaid tercatat pernah memenangkan juara kain tenun selama tiga tahun berturut-turut.

Kualitas dan keindahan kain tenunnya ini kemudian terendus hingga ke mancanegara seperti Beijing, Filipina, Amerika Serikat, sampai Swedia. Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sintang, Siti Musrikah, pada Oktober 2019 lalu juga mengungkapkan bahwa dikalangan pencinta seni Eropa, Tenun Ikat Sintang selalu sukses membuat mereka terpesona. Terutama pencinta dari Belanda, Jerman, dan Italia.

Harga Tenun Ikat Sintang ini dibanderol mulai Rp30.000 untuk bentuk satu buah syal sederhana, hingga Rp1,5 juta untuk sehelai kain sebesar selimut standar. Para penggemar Tenun Ikat Sintang dari luar negeri itu sering tidak memedulikan harga sehingga tak jarang hingga kini para penenun masih terus mendapatkan permintaan.

Proses Panjang yang Miliki Makna Paling Dalam

Tenun Ikat Sintang
info gambar

Seorang jurnalis Detik, Akfa Nasrulhak, pernah bertemu dengan seorang pengrajin Tenun Ikat Sintang bernama Katerina Adriana. Akfa berkisah bahwa Adriana telah menggeluti kerajinan tenun sejak usia 15 tahun. Sehingga tak heran Adriana terlihat memesona saat jari jemarinya begitu cekatan membuat motif di antara celah-celah benang.

Ada salah satu motif Tenun Ikat Sintang yang memiliki makna khusus, salah satu yang popular adalah motif manusia. Katanya, motif ini ‘’tabu’’ dikerjakan oleh para wanita yang masih muda.

‘’Menurut nenek moyang dulu, kalau belum usia 50 tahun ke atas, itu belum bisa katanya. Makanya kami belum berani nyoba buat motif itu. Belum berani nanya orang tua karena bilang nggak bisa,’’ ungkap Adriana kepada Akfa yang tercantum pada tulisannya di Detik (28/8/2019).

Akfa pun tak bisa menggali secara mendalam tentang motif manusia dalam Tenun Ikat Sintang. Namun ia melihat proses pembuatan tenun yang dilakoni oleh Adriana dilakukan dengan cara sangat telaten. Diakui memang pembuatan tenun ikat ini cukup rumit dan membutuhkan waktu yang sangat panjang.

Untuk mengerjakan satu tenun ikat yang ukurannya sebesar selimut, butuh waktu hingga tiga bulan. Dimulai dari menyusun benang, mengikat dengan tali plastik, merendam dengan pewarna, menjemur, sampai pada proses menenun yang bisa dilakukan berulang kali agar menghasilkan kain yang indah.

‘’Pertama kita beli benang itu berbentung gulungan seberat 2 kg, kita pindahkan untuk disusun di alat seperti tangga pengebat. Terus kita buat motif dengan tali plastik (dengan) caranya diikat. Nah, kemudian kita kasih warna, caranya direndam semacam nyuci baju.’’

‘’Kurang lebih kita bolak balik itu satu jam. Setelah itu baru kita letakkan di tangga ini sekalian dijemur, tapi dijemurnya tak boleh kena sinar matahari,’’ jelas Adriana kepada Akfa.

Itu baru proses persiapan benangnya saja. Baru tibalah proses menenun yang cenderung menghabiskan banyak waktu.

7 Nilai Objek Pemajuan Kebudayaan

Tenun Ikat Sintang
info gambar

Tenun Ikat Sintang diketahui merupakan salah satu Objek Pemajuan Kebudayaan (OPK) jika mengacu pada Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan. Tenun ikat ini diketahui sudah mengakomodir 7 dari total 10 OPK yang tercantum pada UU tersebut.

Pertama, tradisi lisan. Kerajinan dan cara pembuatan Tenun Ikat Sintang diwariskan secara turun-temurun dengan menggunakan bahasa tutur dari nenek moyang ke anak cucu mereka. Ada beberapa bahasa dalam teknis pembuatan kain tenun yang khusus dijelaskan menggunakan bahasa lokal.

Kedua, tradisi adat istiadat. Tenun Ikat Sintang juga merupakan rangkaian adat istiadat yang mempunyai aturan-aturan tertentu yang dipercayai oleh semua penenun supaya tidak dilanggar sesuai dengan pakem-pakemnya. Contohnya seperti yang Adriana ungkapkan soal motif manusia yang tidak boleh dibuat oleh wanita yang masih muda.

Ketiga, ritual khusus. Diketahui dalam proses pembuatan tenun ikat, para penenun melakukan ritual saat persiapan, pelaksanaan, dan setelah menenun. Kepercayaan mereka adalah bahwa ikat tenun merupakan warisan nenek moyang yang memiliki arti sehingga hal ini dilakukan sebagai wujud penghormatan kepada nenek moyang.

Keempat, pengetahuan tradisional. Sudah diwariskan secara turun-temurun melalui bahasa tutur, rupaynya para penenun memiliki ilmu pengetahuan tradisional yang tidak pernah tercatat dalam buku. Pengetahuan itu masih tersimpan kuat dalam ingatan masing-masing dari nenek moyang hingga generasi penerusnya saat ini.

Kelima, teknologi tradisional. Pembuatannya yang lama dan penggunaan alat-alat sederhana tradisional masih dipelihara hingga saat ini. Para penenun enggan membuatnya menggunakan mesin produksi massal dengan alasan rentan akan hilangnya nilai-nilai budaya dari nenek moyang yang terkandung di setiap benang dan tenunannya.

Keenam, seni. Hal ini sudah tentu menjadi nilai yang paling berharga. Pembuatan Tenun Ikat Sintang buka hanya wujud karya, namun karsa dan cipta yang luar biasa yang dipenuhi makna dan cerita. Setiap helai benang dan sudutnya berisi petuah-petuah dari para leluhur untuk generasi muda penerus.

Ketujuh, bahasa. Poin ini sangat berhubungan dengan poin pertama. Pengajaran yang dilakukan dengan bahasa tutur membuat bahasa ibu para penenun juga terpelihara. Diketahui semua proses transfer ilmu pengetahuan menenun pada anak cucu mereka menggunakan bahasa ibu mereka.

--

Sumber: Kementerian Perindustrian | Kumparan | Detik | Antara

--

Baca Juga:

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini