Seolah ‘’Bangkit’’ dari Kepunahan, Harimau Jawa Terlihat di Hutan Jawa Tengah

Seolah ‘’Bangkit’’ dari Kepunahan, Harimau Jawa Terlihat di Hutan Jawa Tengah
info gambar utama

Didik Raharyono, Direktur Peduli Karnivor Jawa (PKJ) tak serta merta melaporkan langsung temuannya itu ke publik. Bahkan temuannya ini harus ia rahasiakan dari Ganjar Pranowo, Gubernur Jawa Tengah, dua tahun lamanya.

Meski begitu, foto dokumentasi yang sebagai satu-satunya bukti keberadaan hewan ini bukanlah milik Didik seutuhnya.

‘’Foto itu berasal dari warga lokal. Mereka punya komunitas pemburu babi hutan. Komunitas ini agak tertutup, dia tidak mau disebutkan namanya,’’ ungkap Didik dikutip Detikcom, Kamis (13/8/2020).

Foto itu adalah dokumentasi yang berhasil menangkap keberadaan Harimau Jawa atau Panthera tigris sondaica. Harimau yang sudah dinyatakan punya sejak 1970 lalu. Seolah bangkit dari kepunahan, itulah sebabnya Didik harus menyimpan rahasia ini selama dua tahun sebelum ia publikasikan kepada khalayak.

Harimau Jawa Masih Hidup
info gambar

Lebih tepatnya foto itu diambil pada September 2018 silam. Anggota komunitas pemburu babi hutan itu langsung menghubungi Didik. Baru pada 3 Desember 2018, Didik mendatangi lokasi tempat ditemukannya harimau jawa itu.

‘’Saya sudah klarifikasi lokasi, fotonya, kejadiannya seperti apa, siapa saja saksinya, bagaimana kronologinya, kita lihat background tanahnya,’’ ungkap Didik.

Untuk lokasi tepatnya, Didik pernah menyampaikan hasil temuannya ini pada forum webinar Global Tiger Day 2020 yang digelar PP Kagama Lingkungan Hidup dan Penanggulangan Bencana, pada 9 Agustus 2020. Kala itu Ganjar Pranowo pun hadir.

Hanya saja Didik cuman menyebutkan bahwa lokasi penampakan harimau jawa ada di wilayah administrasi Ganjar Pranowo tanpa memerinci lokasi spesifik lebih lanjut.

‘’Saya hanya bilang di Jawa Tengah karena teman-teman nanti pada sensitif. Khawatir nanti ada orang berbondong-bondong ke lokasi,’’ ungkapnya.

Untuk diketahui, harimau jawa telah dinyatakan punah oleh The Union for Conservation of Nature (IUCN) dalam situs resminya sejak tahun 1970an. Hal ini juga dikuatkan dengan klaim World Wildlife Fund (WWF) pada 1996 yang menyatakan hewan ini punah. Penyebab utamanya adalah perburuan, kehilangan hutan sebagai habitat, dan kehilangan mangsa.

Gigih Ingin Menemukan Kembali Harimau Jawa

Didik mengaku memang dia ingin memperkuat analisis tanda kehadiran harimau jawa sejak 1997 silam. Foto yang ia pegang saat ini merupakan bukti paling otentik dan paling jelas yang meyakinkan dia bahwa harimau jawa masih punya kesempatan berkeliaran dan masih hidup.

Apalagi kala itu dia seolah masih memiliki harapan ketika harimau jawa masih tercantum dalam lampiran Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 1999 mengenai jenis-jenis tumbuhan dan satwa yang dilindungi. Itu artinya dua tahun setelah dinyatakan punah.

Namun pada Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.20/MENLHK/SETJEN/KUM.1/6/2018, harimau jawa tidak ada lagi dalam daftar satwa yang dilindungi. Tapi bukan berarti Didik menyerah.

Bagi dia opini ‘’punah’’ yang sangat kuat membuat banyak kesaksian yang dinihilkan. Padahal menurutnya banyak bukti tanda kehadiran diabaikan yang berdampak tidak maksimalnya pengelolaan hutan dan ekosistemnya di Jawa.

‘’Klaim punah itu menurut saya malah membuat para pemburu bebas membunuh harimau jawa. Ini karena mereka berpikir, apa dasar hukumnya melarang berburu harimau jawa,’’ kata Didik kepada Detikcom.

Setahun sebelum menerima foto, sekitar tahun 2017, Didik pernah membantu peliputan Animal Planet untuk mencari tahu tentang harimau jawa. Kala itu tim menggunakan drone yang dilengkapi kamera pendeteksi suhu tubuh berhasil merekam pergerakan di dalam Hutan Permisan, Meru Betiri, Jawa Timur.

Namun Didik sangat menyayangkan tim Animal Planet tak berani menyimpulkan objek tersebut sebagai harimau jawa. Kendati Didik sendiri sangat yakin bahwa itu adalah sosok harimau jawa.

‘’Saya heran, kenapa mereka tidak berani bilang itu sebagai harimau, tapi menyebutnya sebagai mamalia besar,’’ ungkapnya.

Foto Harimau Jawa
info gambar

Pada tahun yang sama juga, tim investigasi Balai Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) juga sudah mempersiapkan segala amunisi untuk memperjelas keberadaan si karnivor terbesar yang sudah dianggap punah ini. Kala itu tim sudah mengumpulkan bahan feses yang diduga ‘’kucing’’ jawa, lalu ada 15 video trap yang dipasang di lintasan satwa dan sumber air.

Tiga tim yang diturunkan Balai TNUK yang bekerjasama dengan World Wildlife Fund (WWF) kala itu bekerja selama 7 hari. Semua analisis dikumpulkan. Mulai dari temuan pertama di Cidaon sampai ke arah timur ke Talanca, Cikuya, dan sekitarnya.

Wilayah Curug Cikembang di Gunung Cirame, lalu Cijengkol, Cibunar, sampai Gunung Payung, yang masih satu wilayah di semenanjung Ujung Kulon pun dijajal oleh mereka.

Namun sayang, WWF sendiri meragukan dugaan penemuan harimau jawa di TNUK. Dari analisis gambar foto yang didapat, hampir dipastikan kucing besar tersebut bukan jenis harimau. Analisis ini melihat dari ukuran kepala dan ekor, hewan tersebut secara morfologi bisa dipastikan jenis macan tutul.

Hingga kini, penemuan harimau jawa itu pun masih dalam tahap kajian Didik. Namun, ia menegaskan, ‘’Saya bisa meyakinkan publik bahwa itu adalah harimau jawa. Karena saksi melihat tidak hanya saat dia mengambil foto itu, tapi saksi juga melihat pada momen sebelum dia berhasil mengambil foto itu.’’

Dia pun menepis keraguan bahwa itu bisa saja harimau sumatra yang dilepas di hutan Jawa. Alasannya adalah harimau sumatra tidak bisa dilepas begitu saja karena akan kesulitan beregenerasi. Lagi pula bentuk fisik harimau jawa dan harimau sumatera berbeda.

‘’Pola loreng wajah harimau jawa lebih tipis dan jarang jia dibanding harimau sumatra. Moncong harimau sumatra juga lebih pendek,’’ ungkap Didik.

Apakah Kawan GNFI percaya bahwa harimau jawa masih hidup?

--

Sumber: Elaborasi beberapa berita dari Detikcom | Peduli Karnivor Jawa | Taman Nasional Ujung Kulon

--

Baca Juga:

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini