Legenda Brawijaya V, Misteri dan Keindahan Gunung Lawu

Legenda Brawijaya V, Misteri dan Keindahan Gunung Lawu
info gambar utama

Gunung Lawu terkenal sangat angker. Gunung yang berada di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur ini konon menjadi tempat moksanya Raja Brawijaya V. Cerita soal keangkeran gunung ini konon berasal dari berakhirnya masa kerajaan Majapahit, yakni pada tahun 1400 masehi.

Kala itu, orang yang menduduki kursi kerajaan adalah Brawijaya V. Ia adalah raja terakhir Kerajaan Majapahit. Brawijaya V lahir sekitar tahun 1413 masehi, di mana raja yang bernama asli Bre Kertabhumi mulai memerintah tahun 1468 dan wafat pada tahun 1478 masehi.

Pada saat itu, Majapahit harus menghadapi peperangan dengan kerajaan Keling (Kediri) yang dipimpin oleh Raja Girindra Wardhana pada tahun 1748. Lantaran terdesak, Brawijaya V menyingkir ke Gunung Lawu dan menghadapi sisa hidupnya sebagai petapa.

Petilasan terakhir sang raja dikenal sebagai Pringgondani. Ada pula yang menyebut alasan Brawijaya V menyepi ke Gunung Lawu adalah karena ia mempunyai firasat bahwa Majapahit di ambang keruntuhan dan sulit diselamatkan. Ditambah lagi, Brawijaya V risau karena putranya, Raden Patah memeluk Islam dan mendirikan kerajaan baru di Demak.

Keberadaan Candi Sukuh dan Candi Cetho seolah menjadi penanda bahwa Gunung Lawu terhubung dengan kerajaan Majapahit. Sebelum naik ke Gunung Lawu, Prabu Brawijaya V bertemu dengan dua orang pengikutnya, yaitu kepala dusun dari wilayah kerajaan Majapahit, masing-masing dari mereka adalah Dipa Menggala dan Wisa Menggala.

Mereka berdua tidak tega melihat Prabu Brawijaya V berjalan sendirian ke Gunung Lawu. Setelah sampai di puncak Hargo Dalem, Prabu Brawijaya V berkata kepada 2 pengikut setianya. Selesai mengucapkan kalimat, Prabu Brawijaya V pun menghilang. Hingga kini, jasadnya tidak pernah ditemukan.

Misteri dan Keindahan Gunung Lawu

Potret Gunung Lawu di Jawa Tengah | Foto: kompas.com
info gambar

Kisah misteri Gunung Lawu menjadi daya tarik tersendiri bagi para pendaki gunung, di samping panorama alamnya yang indah. Gunung yang terkenal dengan Seven Summit of Java (Tujuh Puncak Pulau Jawa) ini pun kerap dikunjungi pendaki yang ingin berziarah maupun menggelar ritual di puncak Gunung Lawu meski suhu di sana bisa mencapai minus lima derajat celcius.

Gunung Lawu yang memiliki tiga puncak, yaitu Hargo Dalem, Hargo Dumilang, dan Hargo Dumilah yang diyakini dijaga oleh dua mahluk gaib, yakni Dipa Menggala dan Wisa Menggala. Karena kesetiaannya saat menemani Prabu Brawijaya V, Dipa Menggala diangkat menjadi penguasa Gunung Lawu membawahi mahluk gaib.

Selain ketiga puncak yang sering dikunjungi pendaki, ada dua tempat lainnya, yakni Sendang Panguripan dan Drajat yang kerap didatangi para peziarah.

Sendang Panguripan dan Sendang Drajat pun airnya sering dimamfaatkan oleh para peziarah dengan melakukan ritual. Konon juga, airnya memiliki kekuatan untuk menyembuhkan berbagai penyakit.

Selain itu, para pendaki pun mengetahui bahwa ada larangan untuk berbicara sembarangan ketika sedang dalam perjalanan menuju puncak. Seperti kebanyakan gunung, Lawu diyakini memiliki pasar setan. Sebuah pasar yang tidak terlihat dengan kasat mata. Hanya terdengar suara ramai saja, namun tidak semua orang bisa mendengarnya.

Namun, selama pendaki memiliki tujuan positif seperti untuk mendekatkan diri kepada Tuhan, mencari ketenangan, dan menikmati keindahan alam, maka niscaya hasilnya pun akan baik.

Lagipula, Gunung Lawu yang misterius dan dingin ini memiliki segudang keindahan untuk dinikmati. Padang Edelweis merupakan salah satu kecantikan yang dimiliki gunung ini. Hamparan bunga Edelweis akan terlihat jelas jika pendaki melewati jalur pendakian Candi Cetho.

Pendaki juga dapat menikmati keindahan panaroma Telaga Kuning, jika sudah berhasil mencapai puncak Hargo Dumila. Saat sampai pukul 4 sore, pendaki dapat memanjakan mata dengan pemandangan lautan awan dan matahari terbenam. Sesaat sebelum matahari terbenam, warna langit pun akan nampak seperti gulali, yaitu warna merah muda keunguan.*

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini