Mongol Si Penguasa Dunia yang Kocar-kacir di Tanah Jawa

Mongol Si Penguasa Dunia yang Kocar-kacir di Tanah Jawa
info gambar utama

Didirikan oleh Jengis Khan pada tahun 1206, Kekaisaran Mongolia menyatukan seluruh Eurasia menjadi sebuah pemerintah yang terpusat. Di bawah kepemimpinan Ogadai Khan, anak ketiga dari Jengis Khan, pasukan Mongol melibas hampir seluruh Keivan Rus, Polandia, hingga Hungaria.

Eropa Barat pun berada di ujung tanduk dengan kekalahan di Leignitz. Namun, belakangan tepat sejengkal menjejakan kaki di Eropa Barat pasukan itu tiba-tiba berhenti. Pendapat umum menyebutkan kematian Ogadai menjadi penyelamat Eropa dari kebinasaan pasukan Mongol.

Sepeninggal Ogadai, wilayah Mongol yang menguasai tiga seperempat dunia itu dibagi kepada masing-masing keturunan Jengis Khan, yaitu Batu Khan menguasai Rusia dan Kaukasia, Chagatai Khan di Turkistan, Hulagu di Persia, dan Khubilai Khan di Timur Asia.

Hulagu meneruskan warisan Ogadai dengan menyerang Baghdad dan membuat kota tersebut rata dengan tanah. Sementara itu Khubilai Khan mentasbihkan dirinya menjadi Kaisar China dengan mendirikan Dinasti Yuan.

Dirinya meluaskan kekuasan Dinasti Yuan dengan menyerang Jepang dan Korea. Sukses menguasai Asia Timur, dirinya pun mulai mengarahkan kekuasaannya ke Asia Tenggara untuk menjamin rute laut yang membentang dari India hingga Mediterania.

Kerajaan Champa adalah yang pertama diserbu. Namun sayangnya, gagal dalam penyerbuan pertama, pasukan Mongol pun mengerahkan pasukan ke Annam (Vietnam) pada tahun 1282.

Setelah datangnya gelombang kedua pada tahun 1287, Hanoi pun akhirnya berhasil dihancurkan. Kemudian berturut-turut, Kerajaan Burma dan Champa dilumat oleh pasukan Mongol.

Jawa juga tidak luput dari perhatian pasukan Mongol, pada tahun 1280, 1281, 1286, Khubilai Khan mengirim pasukan ke Jawa. Namun, utusan Mongol yang dikirim ke Kerajaan Singosari malah dirusak wajahnya. Akibatnya angkatan perang Mongol berlayar menuju Jawa pada tahun 1292 dipimpin oleh Shi Bi, Ike Mese, dan Gao Xing.

Bantu Serang Kediri, Dipukul Mundur Raden Wijaya

Potret Raden Wijaya | Foto: idntimes.com
info gambar

Armada itu berangkat dari Quanzhou di selatan Cina dan menyusur pantai Dai Viet, serta Champa menuju Jawa. Negara-negara kecil di pesisir Malaya dan Sumatra langsung menyerah dan menyatakan tunduk.

Tak hanya membawa prajurit, armada perang itu juga membawa 40.000 batang perak, 10 lencana harimau, 40 batang emas, 100 lencana perak, 100 gulung sutra. Tentara Mongol pun sampai di Jawa pada tahun 1293.

Sebelumnya, mereka mendarat di Tuban dan mendirikan perkemahan di tepi sungai Brantas. Ike Mese mengirim tiga orang perwiranya ke perkemahan baru Majapahit untuk menyampaikan pesan kepada Raden Wijaya untuk tunduk dan mengakui kekuasaan Khubilai Khan.

Raden Wijaya dengan siasat menyanggupi permintaan dari perwakilan Mongol, namun meminta mereka membantu menyerang Jayakatwang yang telah membunuh Raja Singosari Kertanegara. Puncaknya, pada 20 Maret 1293, tentara gabungan Majapahit dan Mongol mengepung Jayakatwang. Mereka kocar-kacir dan terjun ke sungai Brantas.

Lebih dari 5.000 pasukan mati terbunuh. Jayakatwang mundur ke Istana bersama pengikutnya. Namun, dia berhasil dikepung. Sorenya, Jayakatwang menyerah.

Setelah menang melawan Jayakatwang, Raden Wijaya pamit kepada para Jenderal Mongol yang ketika sedang berpesta pora. Raden Wijaya mengatakan ingin kembali untuk mempersiapkan upeti dan gadis cantik sebagai simbol penyerahan kaumnya.

Singkat cerita, pasukan Mongol yang mengikuti perjalanan ke Desa Majapahit. Lalu ketika sampai suatu tempat, Raden Wijaya pun menyuruh pasukan untuk menumpas tentara-tentara Mongol.

Taktik ini berhasil dan Raden Wijaya pun menyerang balik ke pasukan yang tengah berpesta pora. Setelah sampai, tanpa ampun ia menyerang pasukan Mongol yang tengah berpesta. Karena tidak siap, pasukan Mongol akhirnya sekitar tiga ribu tentara terbantai.

Kegagalan penyerbuan militer di Jawa itu menjadi ekspedisi terakhir Khubilai Khan. Sementara itu Raden Wijaya perlahan-lahan membangun desa Majapahit menjadi sebuah kerajaan besar.*

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini