Yuk, Ziarah ke Makam-Makam Raja Tallo dan Gowa

Yuk, Ziarah ke Makam-Makam Raja Tallo dan Gowa
info gambar utama

Kawan GNFI, jika melancong ke Kota Makassar, Sulawesi Selatan, belum paripurna rasanya jika belum mengunjungi makam para raja Tallo dan Gowa.

Makassar memang dikenal sebagai salah satu kota yang kaya peninggalan sejarah. Diceritakan, pada masa pemerintahan Raja Gowa VI, yakni Tunatangkalopi, kerajaan itu kemudian dibagi menjadi dua, yakni Gowa dan Tallo. Kedua kerajaan itu kemudian membentuk suatu persekutuan.

Raja Gowa menjadi Sombaya (raja tertinggi), sedangkan Raja Tallo menjadi Tumabicara buta (perdana menteri), yang saat itu sangat berpengaruh di wilayah Indonesia bagian timur.

Dipugar agar mirip aslinya

Secara umum, makam para raja Tallo berlokasi di Jalan Sultan Abdullah Raya, Kelurahan Tallo, Kecamatan Tallo, atau sekitar delapan kilometer sebelah utara titik nol (0) kota Makassar. Dari kawasan seluas 9.225 meter persegi itu sepenggal sejarah kota Makassar dapat kawan GNFI lihat masih berdiri cukup kokoh.

Dalam paparan Merdeka.com disebutkab bahwa kompleks makam yang dibangun sekitar abad ke-17 itu, merupakan tempat pemakaman para raja Tallo abad ke-17 hingga abad ke-19.

Pada kurun 1974-1975 dan 1981-1982, kompleks makam kerajaan ini dipugar oleh pemerintah setempat melalui Ditjen Kebudayaan, Direktorat Perlindungan, Pembinaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala, serta Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Tujuan dilakukan pemugaran adalah agar bangunan makam yang menjadi situs wisata dan budaya itu secara fisik dapat mendekati bentuk aslinya. Saat ini, kompleks makam bisa kawan lihat tampak asri, tertata apik dengan pepohonan yang rindang.

Pada situs ini, seperti ditulis Tribun Timur, juga terdapat sejumlah makam utusan kerajaan dari luar Sulawesi Selatan. Anda juga dapat melihat sisa-sisa bangunan mirip benteng pada sisi barat, utara, dan selatan.

Secara fisik, makam yang serupa dengan bentuk bangunan candi itu terbuat dari batu cadas dan batu bata dari tanah liat yang direkatkan satu sama lain. Umumnya, dari 78 makam para Raja Tallo dapat dibagi menjadi tiga tipe yang dilengkapi beragam ornamen, yakni tipe kubah, tipe papan batu, dan tipe susun timbun.

Tipe terakhir juga disebut dengan istilah jiret semu yang lazim dijumpai di daerah Sulawesi Selatan. Biasanya makam jenis ini teruntuk raja, pejabat, atau pembesar istana.

Indentifikasi makam secara intensif

Dari ke-78 makam di situs ini, baru sekitar 20 makam yang dapat diidentifikasi. Di antaranya adalah:

  • Makam Sultan Mudhafar (Raja Tallo k-7),
  • makam Karaeng Sinrinjala (saudara Sultan Mudhafar),
  • Makam Syaifuddin (Sultan ke-12),
  • Makam Siti Saleha (Raja Tallo ke-12),
  • Makam La Oddang Riu Daeng Mangeppe (Sultan ke-16),
  • Makam I Malingkaang Daeng Manyonri, yang merupakan Raja Tallo pertama yang memeluk agama Islam dan berjasa menyebarkan Islam di wilayah Buton, Ternate, dan Palu.
  • Makam Raja Daeng Manyori, yang berjuluk Macan Keboka ri Tallo (Macan Putih dari Tallo), dan
  • Karaeng Tuammalianga ri Tomoro (Raja yang berpulang di Timur).

Untuk megunjungi makam para raja itu, dari pusat kota Makassar makam para raja Tallo dapat dengan mudah di akses, karena posisinya dekat dengan pintu tol Tallo, jalur tol Ir Sutami, dan jalan tol Pelabuhan. Situs ini cukup mudah diakses dari bandara Sultan Hasanuddin.

Selain menggunakan kendaraan pribadi, kawan GNFI juga bisa menggunakan jasa petepete yang merupakan angkutan kota di Makassar.

Jika puas mengunjungi situs ini, maka kawan pun dapat bertolak ke makam para raja Gowa, yang terletak di puncak bukit Tamalate, Jalan Pallantikang, Kelurahan Katangka, Kecamatan Somba Opu, Kabupaten Gowa. Jaraknya hanya 3,3 kilometer dari kota Makassar.

Cagar budaya yang juga disebut sebagai kompleks makam Sultan Hasanuddin tersebut dikelola oleh Badan Pelestarian Cagar Budaya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Di kompleks makam seluas 12.666 meter persegi itu kawan akan mendapati 21 makam. Tujuh di antaranya makam raja-raja Gowa, serta makam Sultan Alauddin, yang merupakan Raja Gowa yang pertama menyebarkan ajaran Agama Islam di Kerajaan Gowa. Selain tujuh Raja Gowa, ada pula makam Raja Tallo ke-6 yang berada di kawasan itu.

Seperti di situs makam Raja Tallo, di kompleks pemakaman ini terbagi dalam tiga tipe makam. Yaitu punden berudak, dengan teknik susun timbun sebagai cungkup makam, makam berkubah, dan makam dengan bentuk sederhana berupa jirat atau kijing. Semua itu memiliki ornamen bercirikan Islam.

Nah, jika bosan mengunjungi makam, tak jauh dari sana seperti ditulis Indonesia Kaya, kawan juga dapat menyambangi benteng sejarah Kerajaan Gowa.

Gimana kawan, seru bukan?

Baca juga:

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini