Selain Markas ''Avengers'', Ini Destinasi Menarik Lainnya di Merauke

Selain Markas ''Avengers'', Ini Destinasi Menarik Lainnya di Merauke
info gambar utama

Tahukah kawan GNFI bahwa di Pulau Papua, tak hanya bagian baratnya saja--Provinsi Papua Barat--yang eksotis dengan pesona alamnya, tapi juga pada bagian lain di pulau itu--Provinsi Papua--juga memiliki pesona yang tak kalah menakjubkan.

Di Merauke, Provinsi Papua misalnya, banyak objek wisata yang bisa jadi pilihan ketika kawan GNFI berlibur ke Indonesia bagian timur tersebut.

Berikut kami sarikan beberapa kawasan wisata menarik di Provinsi Papua, atau jika dikerucutkan di seputar wilayah Kota Merauke.

Monumen Kapsul Waktu

Salah satu lokasi yang menarik adalah Monumen Kapsul Waktu, atau publik lazim menyebutnya dengan markas ''Avengers''.

Bentuknya memang mirip dengan markas pasukan Avengers di Menara Stark dalam film-film superhero besutan Marvel Studio. Monumen ini ramai diperbincangkan setelah Presiden Joko Widodo berpidato dalam acara World Economic Forum di Vietnam.

Seperti disebut Detik Travel, disebut Monumen Kapsul Waktu karena di bagian dalam kapsul berisi tulisan, mimpi, dan harapan, anak-anak muda Indonesia soal harus jadi apa Indonesia pada masa mendatang.

Sebelum dipasang di sana, kapsul tersebut telah dibawa secara estafet mulai dari Aceh ke seluruh provinsi, kemudian berakhir di Merauke.

Lokasi Monumen Kapsul Waktu berada di depan Kantor Bupati Merauke, dan tak jauh dari Bandara Mopah. Monumen seluas 2,5 hektare terdiri dari 1 hektare area monumen dan 1,5 hektare lagi digunakan sebagai alun-alun. Tak heran jika kawasan itu jadi landmark baru di Kota Merauke. Jika pesawat akan mendarat di bandara, maka monumen ini akan memberikan pemandangan yang menakjubkan.

Arsitektur bangunan ini mengadopsi unsur budaya Papua, menempatkan monumen pada bagian atas tugu yang terinspirasi dari menara perang Suku Dani. Ada lima akses masuk yang melambangkan lima suku asli Merauke, yakni Malind, Muyu, Mandobo, Mappi, dan Auyu, yang diibaratkan penjaga Monumen Kapsul Waktu.

Secara dimensi, monumen ini memiliki ukuran lebar 17 meter, tinggi 8 meter, dan panjang 45 meter. Angka-angka itu diambil dari tanggal kemerdekaan Republik Indonesia, yakni 17 Agustus 1945.

Tugu Kembar Sabang-Merauke

Tugu ini terletak di Kampung Sota, sebuah kampung perbatasan antara perbatasan RI dan Papua New Guinea. Secara geografis masih masuk Kabupaten Merauke, dengan jaraknya sekira 80 km dari pusat kota Merauke.

Dalam Merauke Tourism digambarkan bahwa perjalanan menuju kampung ini dapat ditempuh dengan kendaraan mobil atau motor dengan waktu tempuh sekitar 2 jam. Kondisi jalan sangat baik karena melalui jalan Trans Papua yang beraspal.

Jika kawan GNFI letih dengan perjalanan, di sekitar Tugu terdapat banyak warung-warung makanan yang dikelola oleh para pendatang, umumnya berasal dari Pulau Jawa. Sementara di dekat tugu juga berdiri pos yang dijaga oleh personil TNI dan POLRI.

Tugu kembar Sabang-Merauke dibangun sebagai simbol kesatuan Negara Republik Indonesia dari Sabang hingga Merauke. Kembaran tugu ini juga berada di ujung Wilayah Barat Indonesia, Sabang (Nanggroe Aceh Darussalam).

Pada bagian puncak monumen berlapis marmer ini terdapat patung lambang Negara Republik Indonesia, Burung Garuda. Ada juga tulisan pada salah satu sisi tugu, “Satu Nusa Satu Bangsa Satu Bahasa Kita – Tanah Air Pasti Jaya – Untuk Selama-lamanya – Indonesia Pusaka – Indonesia Tercinta – Nusa Bangsa dan Bahasa – Kita Bela Bersama“.

Taman Nasional Wasur

Jika kawan GNFI lebih tertarik untuk melihat flora dan fauna, kawan bisa melipir ke Taman Nasional Wasur (TN Wasur). Di kawasan seluas 400 ribu hektare ini terdapat 403 spesies burung, 80 jenis mamalia, dan 34 jenis di antaranya adalah satwa endemik Papua.

Taman nasional yang terletak di Sota, kabupaten Merauke, Papua, ini juga dijuluki sebagai "The Serengeti Papua" untuk keanekaragaman hayati bernilai tinggi yang menakjubkan. TN wasur juga

Selain fauna, di sana juga terdapat ragami jenis anggrek langka seperti Anggrek Yohanes (Dendrobium yohanes), Anggrek Kelinci (Dendrobium antenatum), dan Anggrek Bawang (Dendrobium sp.). Kawasan konservasi ini merupakan Ramsar Site atau Situs Lahan Basah untuk melindungi kelestarian dan fungsi lahan basah di dunia.

Menukil Republika, TN Wasur adalah anggota East Asian Australian FlywaySite Network karena berperan penting sebagai tempat persinggahan dan tujuan migrasi pelbagai burung-burung migran.

Selama bulan Agustus hingga November, TNl Wasur banyak didatangi ribuan burung migran dari Australia dan New Zealand. Seperti bangau abu-abu, pelikan, ibis, Royal Spoonbills, dan banyak lagi.

Ini adalah waktu khusus dari taman nasional ini karena hanya terjadi setahun sekali. Jenis burung lain yang menarik di langit Wasur termasuk Southern Crowned Pigeon, New Guinea Harpy Eagle, Dusky Pademelon, Black-necked Stork, Fly River Grassbird, Greater Bird of Paradise, King Bird of Paradise, Red Bird of Paradise, dan banyak lagi.

Lain itu, taman nasional ini juga rumah bagi setidaknya tiga spesies kanguru kecil, kuskus nokturnal, kasuari, buaya air tawar papua, buaya air asin, dan masih banyak lagi.

Hal menarik lainnya, di taman nasional ini kawan bisa melihat Musamus, sarang rayap yang berdiri di atas tanah hingga menyerupai menara. Tinggi Musamus bahkan bisa mencapai empat meter. Isinya tak lain adalah semut putih atau rayap. Musamus bisa bertahan sampai puluhan tahun yang tahan terhadap panas atau hujan.

Maraknya musamus di taman nasional ini bahkan menjalar hingga tepi jalan raya akses menuju pintu masuk kawasan, dan menjadikan pemandangan yang menakjubkan.

Di kawasan ini, kawan juga bisa mengunjungi Kampung Rawa Biru yang sejak zaman kolonial telah menjadi sumber air minum bagi masyarakat Merauke.

Lain itu, Rawa Biru juga merupakan rumah ekosistem rawa seperti ikan, rumput tikar, dan lain-lain. Fungsi lain rawa itu adalah menahan air hujan hingga tak menyebabkan banjir, juga untuk konservasi air, memelihara iklim mikro.

Jadi, tak ada alasan untuk tak mengunjungi Merauke, kawan.

Baca juga:

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini