Sejarah Hari Ini (14 September 1929) - Sultan Hamengkubuwana VIII Resmikan Rumah Sakit Onder de Bogen di Yogyakarta

Sejarah Hari Ini (14 September 1929) - Sultan Hamengkubuwana VIII Resmikan Rumah Sakit Onder de Bogen di Yogyakarta
info gambar utama

Rumah Sakit (RS) Panti Rapih merupakan salah satu rumah sakit tertua di Yogyakarta yang berdiri sejak 1929.

Awalnya nama RS ini bukanlah Panti Rapih, melainkan Onder de Bogen yang berarti "Di Bawah Lengkungan/Pilar Gereja".

Pemrakarsa pembangunan RS tersebut ialah juaragan pabrik gula di Ganjuran, Bantul, yakni Ir Schmutzer.

Pada 14 September 1928, peletakan batu pertama dilakukan oleh istri Schmutzer, Caroline Theresia Maria Schmutzer (nama lahirnya ialah Van Rijckevorsel).

Pembangunan RS selesai pada pertengahan bulan Agustus 1929 di mana pada tanggal 25, Monsinyur van Velsen SJ memberkati bangunan tersebut.

Peresmian dan pemberian nama 'Onder de Bogen Ziekenhuis (yang berarti Rumah Sakit Onder de Bogen)' disematkan langsung oleh sultan Yogyakarta, Sri Sultan Hamengkubuwana VIII, pada 14 September 1929.

Menurut buku Sejarah Sosial Daerah Istimewa Yogyakarta: Mobilitas Sosial DI Yogyakarta Periode Awal Abad Dua Puluhan yang ditulis Ryadi Goenawan dan Darto Harnoko, pada awal-awal tahun beroperasi RS Onder de Bogen memiliki fasilitas berupa dua bangsal perawatan, satu unit kamar bedah, satu unit dapur, sebuah kapel dan rumah biara kecil untuk para suster.

Sri Sultan Hamengkubuwana VII berfoto bersama para suster yang mengabdi di RS Onder de Bogen pada 1932.
info gambar

Fasilitas terus diperbaharui seiring tahunnya, salah satunya hadiah mobil ambulans dari Sri Sultan Hamengkubuwana VIII karena RS Onder de Bogen memberikan pelayanan bagi masyarakat pribumi.

Berdirinya RS Onder de Bogen tidak bisa lepas dari perkembangan agama Katolik di Yogyakarta.

Meskipun ada misi misionaris, sejumlah suster Carolus Borromeus yang didatangkan langsung dari Maastricht, Belanda, tidak membeda-bedakan pasien berdasarkan agama dan bangsa.

Pada masa pendudukan Jepang, ketika nama-nama berbau Belanda dihapuskan, nama RS Onder de Bogen berubah menjadi RS Panti Rapih yang berarti rumah penyembuhan.

Sugiyapranata sedang menerima kunjungan politikus Belanda dari Partai Negara Katolik Roma, Carl Paul Maria Romme, di Semarang pada 17 Januari 1946.
info gambar

Adapun pemberi namanya ialah seorang uskup asal Semarang bergelar pahlawan nasional, Monsinyur Albertus Sugiyapranata (ejaan lama: Soejijapranata).

Tahun 1945, setelah Jepang menyerah kalah terhadap Pasukan Sekutu dalam Perang Pasifik, ordo Suster Carolus Borromeus kembali mengelola RS Panti Rapih.

Panglima Besar Jenderal Soedirman saat menjalani perawatan di Rumah Sakit Panti Rapih, Yogyakarta.
info gambar

Pada saat perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia, RS Panti Rapih banyak merawat para pejuang dan tokoh nasional yang terluka dalam pertempuran melawan Belanda dan sekutu.

Salah satu tokoh nasional yang dirawat ialah Jendral Sudirman yang saat itu tengah menderita TBC/Tubercolosis pada 1948.

Sudirman sendiri mempercayai suster Belanda dalam penyembuhan penyakitnya.

"Suster, bagi saya suster itu seperti ibu, meskipun bangsa saya berperang melawan bangsa suster," kata Sudirman pada salah seorang suster Belanda, dikutip GNFI dari Indonesianisasi: Dari Gereja Katolik di Indonesia Menjadi Gereja Katolik Indonesia karya Huub J. W. M. Boelaars.

RS Panti Rapih pada 2012.
info gambar

Sampai saat ini RS Panti Rapih masih beroperasi di mana letaknya berada di Jalan Cik Di Tiro, depan pintu masuk utama Universitas Gadja Mada (UGM).

Di dalam area RS tersebut terdapat patung Jenderal Sudirman.

Sebuah teks puisi berjudul 'Rumah Nan Bahagia' karya Sudirman terpampang di prasasti patung tersebut.

Puisi itu ditujukan bagi para suster yang RS Panti Rapih yang merawatnya.

Rumah Nan Bahagia

Seperempat abad lamanya
tegak berdirinya hingga kini
panti rapih rumah nan bahagia
naungan putra pertiwi

Orang sakit nan menderita
gering tiba, sehatlah pergi
berkat kegiatan usaha
beserta kesucian hati

Selama tegak dengan teguhnya
besar jasanya hingga kini
seluruh pengurus pegawainya
ikhlas serta jujur pekerti

Sambil baring aku berdoa
Tuhan Allah Yang Maha Suci
limpahkanlah berkat kurnia
atas rumah bahagia ini

Moga kiranya terus berjasa
dulu, kini dan hari nanti
untuk masyarakat Indonesia
yang tetap merdeka abadi

---

Referensi: Pantirapih.or.id | Kebudayaan.kemdikbud.go.id | Ryadi Goenawan dan Darto Harnoko, "Sejarah Sosial Daerah Istimewa Yogyakarta: Mobilitas Sosial DI Yogyakarta Periode Awal Abad Dua Puluhan" | TEMPO Publishing, "Kisah Gerilya Jenderal Soedirman" | FX. Murti Hadi Wijayanto, SJ, "Soegija In Frame"

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini