Sejarah Hari Ini (16 September 1945) - Perebutan Don Bosco, Gudang Senjata di Surabaya Terbesar Se-Asia Tenggara

Sejarah Hari Ini (16 September 1945) - Perebutan Don Bosco, Gudang Senjata di Surabaya Terbesar Se-Asia Tenggara
info gambar utama

Gedung Panti Asuhan Don Bosco yang terletak di Jalan Tidar, Sawahan, Kota Surabaya, sudah berdiri sejak zaman Belanda pada 1937.

Awalnya panti asuhan, tetapi kedatangan militer Jepang membuat gedung berarsitektur Belanda itu juga sempat beralih fungsi menjadi gudang persenjataan.

Tak hanya berpredikat gudang senjata terbesar di Surabaya, tetapi konon terbesar se-Asia tenggara.

Di gudang itu, Bung Tomo bersama rakyat Surabaya merebut senjata dari Jepang.

Awalnya perebutan gudang senjata itu dipicu keengganan Jepang menyerah setelah proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945.

Menurut Des Alwi dalam buku Pertempuran Surabaya November 1945, Jepang justru melucuti senjata pejuang Indonesia yang tergabung dalam tentara Pembela Tanah Air (Peta).

Panti Asuhan Don Bosco.
info gambar

Jepang juga disinyalir akan melucuti senjata pejuang Indonesia yang tergabung dalam Polisi Istimewa (kini bernama Brigade Mobil yang disingkat Brimob).

Kepala Polisi Istimewa Jawa Timur, Moehammad Jasin, mengetahui ihwal itu.

Sayangnya saat itu arek Surabaya tidak punya senjata api. Kebanyakan dari mereka hanya membawa senjata tradisional seperti bambu runcing, pedang, dan celurit.

"Pemuda Surabaya perlu senjata api," tulis Des Alwi dalam bukunya.

Jadilah gudang senjata di Don Bosco menjadi sasaran utama arek Surabaya.

Pada 16 September 1945, mereka berusaha merebut senjata milik Jepang yang dikuasai kesatuan Jepang bernama Dai 10360 Butai Kaisutiro Butai.

Kesatuan tersebut dipimpin Mayor Hashimoto yang memiliki 16 personel orang Jepang dan satu peleton sekitar 50 orang anggota Heiho yang beranggotan orang Indonesia.

"Pemuda dan rakyat Surabaya mengepung gedung itu," terang Des Alwi dalam perebutan gudang yang saat itu masih mempekerjakan 150 karyawan sipil untuk menginventarisasi senjata.

Dalam buku dari 10 Nopember 1945 ke Orde Baru, Bung Tomo menceritakan proses penyerahan gudang senjata dari militer Jepang ke Tentara Keamanan Rakyat (TKR) yang dipimpin olehnya.

Ketika menemui Mayor Hashimoto, Bung Tomo menunjukkan kartu pers sebagai wartawan yang bekerja untuk media massa Jepang, Domei. Sedikit-sedikit, Bung Tomo bisa berbahasa Jepang.

Saat Bung Tomo masuk ke gedung Don Bosco, tentara Jepang mengintai dari berbagai posisi, dari bawah truk hingga di atas pohon.

Soetomo alias Bung Tomo.
info gambar

"Mereka menanti perintah komandan," kata Bung Tomo.

Didampingi arek Surabaya lainnya, Subianto Notowardojo dan Mamahit, Bung Tomo menemui Hashimoto untuk berunding.

Ada kegalauan dalam diri Bung Tomo, karena ia merasa posisi terjepit di antara sikap keras kepala Jepang dan rakyat Surabaya yang marah.

Hanya saja Bung Tomo mengaku sebelumnya arek Surabaya ditenangkan oleh seorang kakek tua berjenggot uban.

"Kakek ini minta rakyat Surabaya percaya kepada saya, yang sedang berunding dengan Jepang," kata Bung Tomo dalam bukunya.

Perundingan berlangsung alot, Hashimoto emoh menyerahkan pedang samurai miliknya dengan alasan senjata itu pusaka dari leluhurnya di Jepang.

Namun pada akhirnya Hashimoto menyerah juga. Sambil menitikkan air mata, ia meletakkan pedangnya di atas meja untuk diserahkan kepada rakyat Surabaya.

Naskah serah terima gudang senjata lalu ditandatangani Hashimoto dan Jasin di mana Bung Tomo menjadi saksi penyerahan itu.

Saking banyaknya senjata di gudang senjata Don Bosco, arek Surabaya langsung mengirimkan empat gerbong kereta api bermuatan senjata ke pejuang Indonesia di Jakarta pada hari yang sama.

Kini Don Bosco masih menjadi panti asuhan yang masih aktif di kota Surabaya.

Sebuah prasasti mengenang perebutan gudang senjata bisa dilihat di dalam gedung bersejarah tersebut.

Prasasti Gudang Senjata Don Bosco.
info gambar

Pada prasasti tersebut tertera 1 Oktober 1945 sebagai tanggal peristiwa perebutan gudang Don Bosco.

Lain prasasti, lain pula yang disebutkan pada sejumlah sumber dan interpretasi dari sejumlah ahli.

Menurut sejarawan Amerika Serikat, William Frederik, misalnya, ia berkesimpulan insiden Don Bosco terjadi "pada akhir bulan" (Minggu, 30 September).

Namun, ini disebut tidak mungkin karena saat massa berkumpul untuk menyerang markas Kempeitai sekitar 1-2 Oktober persenjataan dari Don Bosco sudah beredar dan dipakai.

---

Referensi: Majalah Tempo | Frank Palmos, "Surabaya 1945: Sakral Tanahku" | Des Alwi, "Pertempuran Surabaya November 1945" | Bung Tomo, "10 Nopember 1945 ke Orde Baru" | Komisaris Jenderal Polisi (Purn) dr. H. Moehammad Jasin, "Memoar Jasin Sang Polisi Pejuang" | Nugroho Notosusanto, "Pertempuran Surabaya" | Moehkardi, "R. Mohamad dalam Revolusi 1945 Surabaya: Sebuah Biografi" | Seojitno Hardjosoediro, "Dari Proklamasi ke Perang Kemerdekaan"

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini