Cerita Inovasi Masyarakat di Lereng Gunung

Cerita Inovasi Masyarakat di Lereng Gunung
info gambar utama

Masa pandemi Covid-19 memaksa kita berubah 180 derajat tentang tata cara berkehidupan sehari-hari. Saat ini merupakan momentum bagaimana kita berinovasi untuk menghasilkan sebuah karya yang bermanfaat bagi warga sekitar di tengah pandemi.

Cerita inovasi yang menjadi inspirasi kali ini, datang dari warga Dusun Glempang, Desa Kotayasa, Kecamatan Sumbang, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Sekitar tahun 1999, Sudiyanto menginisiasi pembuatan pompa hydram.

Pompa air ramah lingkungan tanpa menggunakan listrik atau bahan bakar fosil atau istilahnya adalah pompa air, bertenaga air. Pompa yang mengadopsi teknologi dari Belanda tersebut digunakan untuk menyedot air dan mengalirkannya ke permukiman warga, yang berada di ketinggian 86 meter dari sumber mata air.

Dilansir dari Kompas, awalnya Sudiyanto melihat buku teknologi tepat guna berbahasa Belanda di perpustakaan desa. Di dalam buku tersebut, terdapat bacaan tentang pompa hydram.

Sudiyono lantas mempelajari teori tersebut dengan bantuan rekannya yang berprofesi sebagai pemandu wisata di Baturaden. Rekan Sudiyono kebetulan menguasai bahasa Belanda. Sudiyono pun mulai mencoba membuat dengan memanfaatkan besi bekas (berbentuk silinder) dan ban bekas untuk katupnya.

Sudiyono melakukan sejumlah modifikasi. Setelah melalui serangkaian uji coba, pada tahun 2000 tercipta pompa hydram dari tangan pria lulusan Madrasah Aliyah (MA) ini. Menurut Sudiyono, prinsip kerja pompa ini seperti menciptakan tsunami di dalam tabung.

Sudiyanto mengecek instalasi pompa air hydram di Dusun Glempang, Desa Kotayasa, Kecamatan Sumbang, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Kamis (10/9/2020) lalu | Foto: Kompas.com/Fadlan Mukhtar Zain
info gambar

Dengan mengandalkan gravitasi, air dari sumber mata air dialirkan menuju bak penampungan terlebih dahulu. Dari bak penampung, air dialirkan menggunakan pipa dengan kemiringan sekitar 35 derajat menuju pompa hydram.

Air bertekanan tinggi itu masuk lubang input pompa hydram dan akan mendapat tekanan balik dari mekanisme katup karet di dalam tabung vakum dan katup buang. Air dengan tekanan lebih besar yang dihasilkan dari proses itu akan dikeluarkan melalui lubang output hydram dan dialirkan menuju permukiman warga.

Sekarang untuk memudahkan distribusi air, menurutnya dari pompa hydram dialirkan ke tempat penampungan dulu, ada tiga titik, kemudian baru dialirkan ke rumah-rumah. Untuk yang ukuran pipa 0,5 inchi, debit airnya sekitar 30 liter per menit.

Saat ini, ada sekitar 280 kepala keluarga (KK) di tujuh RT yang memanfaatkan air tersebut. Warga hanya dikenakan biaya Rp300 per meter kubik. Uang tersebut dikelola oleh Paguyuban Masyarakat Pendamba Air Bersih untuk biaya perawatan alat.

Kata Sudiyanto, biaya perawatan alat ini sangat minim. Paling hanya mengganti katup karet setelah digunakan beberapa tahun. Katup karet juga terbuat dari ban bekas mobil.

Sudiyanto teringat dan mengenang, dulu sebelum ada teknologi dan inovasi seperti ini warga di dusun yang berada di kawasan lereng Gunung Slamet itu tak bisa menikmati air bersih. Padahal sumber mata air melimpah ruah.

Sementara itu, warga Desa Kalianan, Kecamatan Krucil di lereng Gunung Argopuro Kabupaten Kabupaten Probolinggo Jawa Timur, tak kalah kreatifnya. Mereka mempunyai inovasi dengan memanfaatkan saluran irigasi sebagai sumber energi listrik. Setidaknya ada 10 unit pembangkit listrik tenaga mikrohidro yang mampu menarangi 1500 warga desa.

Melansir pojokpitu yang diakses pada (12/9) lalu, mereka membuat listrik dari Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH). Awalnya warga membuat satu unit PLTMH, tepatnya di aliran sungai Gunung Argopuro.

Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) | Foto: Pojokpitu.com

Setiap unit PLTMH mampu untuk menerangi hingga 20 rumah lebih, total sejak tahun 2015 lalu, sudah ada 10 unit mesin mikrohidro yang tersebar di 4 dusun. Di antaranya Dusun Cocok, Kalimangu, Kalianan, dan Medati.

Di Desa Kalianan sendiri ada 6 sungai besar yang berhulu di Gunung Argopuro, jadi mesin ini akan terus bekerja hingga listrik yang dihasilkan mencapai 24 jam penuh.

Total ada sekitar 150 kepala keluarga yang memanfaatkan energi listrik ini, terutama warga yang bermukim di lereng-lereng gunung. Setiap pembangunan satu unit PLTMH harus mengeluarkan biaya sekitar 20 juta rupiah. Sedangkan listrik yang dihasilkan mencapai 35 ribu watt.

Untuk biaya per bulan, jangan ditanya lagi, setiap rumah hanya mengeluarkan uang iuran sebesar Rp10,000 sampai Rp20,000 saja, tergantung pemakaian.

Suciati, Kepala Desa Kalianan, awal dibangun PLTMH ini karena listrik dari PLN tidak kunjung masuk ke desanya. Menurutnya, hingga akhirnya warga secara swadaya membangun satu unit PLTMH, hingga mempunyai 10 unit PLTMH. Untuk hasil iuran warga ini digunakan untuk biaya perawatan, dan dana kas, jika sewaktu-waktu terjadi kerusakan.*

Sumber: Kompas.com | Pojokpitu.com

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini