Saat Pandemi, Masyarakat Lebih Memilih Beli Mobil Bekas

Saat Pandemi, Masyarakat Lebih Memilih Beli Mobil Bekas
info gambar utama

Kawan GNFI, seperti kita tahu bahwa pandemi Covid-19 merusak semua sektor bisnis tanpa terkecuali di Indonesia. Hal itu juga berdampak langsung pada perekonomian masyarakat, sehingga Otoritas Jasa Keuangan Republik Indonesia (OJK) mengeluarkan kebijakan Restrukturisasi Kredit untuk para debitur kendaraan melalui surat resmi POJK dengan nomor: 14/POJK.05/2020.

Kebijakan itu secara langsung berdampak pada lembaga bantuan pembiayaan atau leasing. Guna menghindari kredit macet di kemudian hari, sejumlah lembaga pembiayaan seperti PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk (Adira Finance), CIMB Niaga Finance (CNAF), Mandiri Tunas Finance (MTF), dan PT BCA Finance secara internal menaikkan besaran uang muka (down payment/DP) mobil baru maupun bekas menjadi 50 persen dari harga mobil saat periode awal pandemi.

Nah, nyatanya kenaikan DP mobil yang diberlakukan jelas menyulitkan masyarakat untuk memiliki kendaraan, padahal kendaraan atau mobil merupakan salah satu solusi pemutus rantai penularan Covid-19. Dengan kendaraan pribadi, kita bisa lebih aman dan juga bisa lebih totalitas dalam menjaga kebersihan kendaraan.

Hal yang tak kalah penting adalah kita jadi tidak berinteraksi dengan sembarang orang atau harus berkerumun menunggu antrian untuk masuk ke kendaraan umum bila menggunakan kendaraan pribadi.

Kondisi membaik, DP mobil turun

Namun seiring perkembangan waktu, kini perekonomian masyarakat Indonesia mulai berangsur pulih. Hal tersebut tergambar dari mulai berjalanya lagi aktivitas masyarakat guna menjalankan roda perekonomian di Indonesia.

Memang, bagi sebagian orang membeli kendaraan menjadi pilihan yang tak terelakkan, terlebih di tengah pembatasan sosial seperti sekarang ini. Meski pemerintah menerapkan pajak nol persen pada beberapa varian mobil baru, namun nyatanya membeli mobil bekas masih menjadi pilihan yang rasional, setidaknya untuk kondisi saat ini.

Momentum ini kemudian ditangkap Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) soal besaran DP mobil yang diturunkan menjadi 35 hingga 40 persen. Melihat kebijakan baru itu, salah satu layanan e-commerce penjualan mobil, Garasi.id, mencoba untuk memberikan kemudahan bagi masyarakat untuk membeli kendaraan pribadi.

Sebagai marketplace yang bergerak di bidang otomotif, Garasi.id ingin memberikan solusi melalui promosi menarik yang hadir bertepatan dengan ulang tahun perusahaan yang ke-3. Upaya itu tentu tak lepas dari cara memulihkan roda ekonomi.

Secara umum, Garasi.id memberikan promosi uang muka sebesar 30 persen untuk setiap pembelian mobil bekas melalui layanan mobil pilihan melalui kredit kilat. Untuk mewujudkan hal ini agar berjalan optimal, perusahaan bekerjasama dengan BCA Finance. Detailnya dapat kawan GNFI lihat di sini.

''Dengan hadirnya program ini, kami harap dapat membangkitkan kembali minat dan antusiasme para konsumen dalam membeli mobil bekas yang sebelumnya sempat tertunda. Tidak hanya kemudahan dalam membeli dan memiliki mobil bekas saja, tetapi konsumen juga akan mendapatkan benefit berupa keringanan dalam segi pembiayaan. Kami juga akan selalu berkomitmen untuk memberikan pelayanan berkualitas dengan produk-produk dan fitur-fitur terbaik untuk para konsumen kami,'' jelas Ardy Alam, CEO Garasi.id, dalam siaran pers perusahaan, Rabu (16/9/2020).

Geliat penjualan mobil bekas selama pandemi

Sementara Herjanto Kosasih, Manager Senior Bursa Mobil Bekas WTC Mangga Dua, menjelaskan bahwa saat ini tren membeli mobil bekas pun kembali tumbuh. Meski demikian, konsumen yang membeli mobil tak lagi melihat model atau merek yang diinginkan, tetapi lebih menyesuaikan kemampuan pembayaran.

''Yang terjadi saat ini seperti itu, seperti menjadi fenomena baru. Contoh mereka punya uang Rp60 juta, Rp80 juta, atau Rp100 juta, ya mereka cari mobil bekas yang harganya segitu, sudah enggak lagi incar mobil yang diinginkan,'' terang Herjanto dalam Kompas.com, Senin (31/8/2020).

Menurut Herjanto, hal itu lantaran konsumen lebih fokus ke masalah kendaraan penunjang untuk beraktivitas di tengah pandemi, dan mayoritas dari mereka adalah untuk menghindari menggunakan transportasi umum. Tak hanya itu, bahkan adanya ganjil genap diklaim ikut berkontribusi meningkatkan penjualan mobil bekas--sebagai kendaraan kedua.

Percaya atau tidak, meski kondisi ekonomi sebagian besar masyarakat saat ini melemah, tetapi kebutuhan akan kendaraan yang aman menjadi faktor utamanya. Ditambah lagi, saat ini untuk pembelian mobil bekas, pihak pembiayaan juga sudah mulai menormalkan kembali uang muka. Kondisi tersebut, menurut Herjanto, akan sangat membantu masyarakat dalam mencari mobil bekas.

''...Yang saat ini beli mobil bekas itu mereka lebih mencari amannya dari pada menggunakan transportasi umum. Mobil yang mereka beli juga tidak hanya digunakan untuk kerja, tapi buat pergi bersama keluarga dan lainnya,'' jelas Herjanto.

Sedangkan dalam catatan Rizal dari showroom mobil bekas di kawasan Klender, Jakarta Timur, ia menjelaskan bahwa dari sisi pergerakan penjualan belum terlalu tinggi meski sejak awal Juli lalu penjualan mobil sudah mulai kembali berjalan. Meski Rizal tak merinci berapa besaran persentase yang dimaksud.

''Memang ada pergerakan, tapi tidak banyak. Biasanya mereka yang menghindari naik angkot dan lainnya alternatif ke mobil bekas yang murah. Kalau dari harga relatif ya, mulai dari di bawah Rp100 jutaan sampai Rp150 jutaan. LCGC dan mobil 10 tahun juga banyak yang cari,'' tandasnya.

Geliat masyarakat untuk meminang mobil bekas tentu tak lepas dari anjloknya harga mobil bekas di pasaran. Dalam catatan Kontan.co.id pada akhir Juli 2020, mobil bekas yang paling sering diburu yakni Toyota Avanza harganya bisa berkisar Rp80 juta. Harga ini drop Rp40 juta saat kondisi sebelum pandemi Covid-19.

Baca juga:

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini