Sejarah Hari Ini (18 September 1997) - Ikan Coelacanth Pertama di Indonesia, Spesies Kedua di Dunia

Sejarah Hari Ini (18 September 1997) - Ikan Coelacanth Pertama di Indonesia, Spesies Kedua di Dunia
info gambar utama

Spesies ikan purba Coelacanth ada dua di dunia, satu hidup di sebelah selatan dan tenggara perairan benua Afrika dan satunya lagi bisa ditemui di perairan Manado, Sulawesi Utara, Indonesia.

Spesimen Coelacanth dari Afrika pertama kali ditemukan di lepas pantai Afrika Selatan pada 23 Desember 1938.

Para peneliti lalu memfokuskan penelitiannya pada ikan bernama latin Latimeria chalumnae tersebut di wilayah perairan Afrika.

Selama beberapa tahun berikutnya, Coelacanth - atau disebut gombessa di Afrika - ditemukan di berbagai daerah perairan Afrika seperti Komoro, Kenya, dan Tanzania.

Awalnya peneliti mengira hanya ada satu jenis Coelacanth sampai akhirnya ditemukan spesies baru di Manado, Indonesia.

Pada 18 September 1997, ahli biota bawah laut asal Amerika Serikat Mark V Erdmann bersama istrinya, Arnaz Mehta, menemukan seekor ikan besar yang aneh bentuknya di pasar ikan kota Manado.

Kedua sejoli yang tengah berbulan madu itu lalu memotret ikan tersebut dan mengunggahnya di internet, di mana seorang ahli lain melihat dan meminta mereka membawa spesimen ikan tersebut untuk diteliti.

Mark akhirnya membeli ikan yang disebut ikan raja laut tersebut dari sang penjual.

Awalnya peneliti menganggap ikan Coelacanth Manado yang ditemukan Mark itu sama seperti yang ditemukan di perairan Afrika, karena sekilas fisiknya sangatlah mirip.

Namun, ada perbedaan mencolok antara keduanya, yakni warna tubuhnya.

Ikan Coelacanth Afrika berwarna biru tua, sementara Coelacanth Manado berwarna kecoklatan.

Keduanya memiliki ukuran yang relatif sama dengan bintik-bintik putih di sebagian besar tubuhnya.

Semenjak penemuan tersebut, para peneliti juga memberi perhatian pada perairan Manado, habitat dari ikan Coelacanth atau ikan raja laut bernama latin Latimeria menadoensis itu.

Setelah temuan pertama, penemuan Coelacanth lainnya pun jadi sering terjadi di Indonesia pada tahun-tahun berikutnya.

Awalnya ditemukan di Manado saja, tetapi seiring waktu peneliti menemukan Coelacanth yang sama di perairan Raja Ampat.

Berdasarkan sebuah studi molekuler, waktu pemisahan jenis Coelacanth Afrika dan Indonesia menjadi dua spesies yang diperkirakan terjadi pada peralihan kala Eosen-Oligosen (sekitar 40-30 juta tahun lalu).

Coelacanth diperkirakan sudah hidup pada zaman kapur sekitar 80 juta tahun lalu dan mendiami periran di kedalaman 90-200 meter bahkan 700 meter di bawah permukaan laut.

Selain karena masa hidupnya yang lama, ikan ini memiliki faktar menarik karena termasuk dalam hewan ovovivipar yakni menetaskan telurnya di dalam perut dan melahirkan anaknya.

Mereka juga mampu menurunkan metabolisme tubuhnya sendiri.

Kedua spesies ikan Coelcanth sama-sama terancam punah, di mana Coelacanth Afrika berstatus CR (Critically Endangered/kritis) dan Coelacanth Indonesia berstatus VU (Vulnerable/rentan).

---

Referensi: Mark V. Erdmann, Roy L. Caldwell, M. Kassim Moosa, "Indonesian ‘king of the sea’ discovered" | Mike Bruton, "The Annotated Old Four Legs"

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini