Roda Ekonomi Digital Tetap Menggeliat, Masyarakat Betah Pantau E-Commerce

Roda Ekonomi Digital Tetap Menggeliat, Masyarakat Betah Pantau E-Commerce
info gambar utama

Kawan GNFI, salah satu hal yang cukup positif dalam situasi pandemi seperti sekarang ini adalah terus melajunya konsumsi belanja daring (online). Nyatanya, masyarakat makin betah memantau produk apa saja yang dijual e-commerce melalui serta fitur diskon seperti flash sale atau midnight sale. Tak bisa dimungkiri memang, masyarakat Indonesia getol belanja, terlebih jika ada diskon.

Perusahaan platform analisis dan atribusi pemasaran, AppsFlyer, melalui laporan belanja mereka yang bertajuk ''The State of Shopping App Marketing 2020 Edition'' mengungkap tingkat sesi in-app (waktu yang dihabiskan user dalam satu aplikasi) untuk kategori e-commerce dan shopping meningkat hingga 70 persen pada periode Februari-Juni 2020, yang bertepatan dengan mulai masuknya wabah virus Corona ke Indonesia dan diberlakukannya PSBB.

Ronen Mense, Managing Director dan President AppsFlyer APAC, mengatakan bahwa pandemi global telah memicu banyak konsumen menghabiskan waktu dan uang mereka di aplikasi belanja.

"Walaupun dibayangi situasi resesi ekonomi dengan meningkatnya tingkat pengangguran, konsumen di seluruh dunia cenderung mengurangi kunjungan langsung ke pusat perbelanjaan dan toko. Mereka semakin beralih ke metode belanja daring khususnya lewat perangkat mobile," kata Mense, dalam siaran pers perusahaan, Kamis (17/9/2020).

Tahun 2020, tulis Mense, menjadi sangat penting bagi para tenaga pemasaran untuk menyiapkan strategi khusus dan memastikan konsumen dapat mencari, menemukan, dan berbelanja dalam aplikasi mereka ketimbang beralih ke alternatif lain.

''Dari segi penyampaian pesan juga harus diperhatikan karena perlu adanya keseimbangan antara rasa empati dan kesenangan berbelanja, pada saat yang bersamaan.''

Di Indonesia, rerata terdapat enam pembelanjaan per pengguna aplikasi belanja online pada April 2020. Angka ini diperkirakan terus meningkat sejalan dengan berlanjutnya pembatasan sosial dan perubahan pola konsumsi belanja masyarakat.

Beberapa prusahaan e-commerce pun memanfaatkan kesempatan ini untuk meningkatkan biaya iklan (ad spend) selama pandemi agar semakin luas menjangkau konsumen mereka. Dalam catatan AppsFlyer, di Indonesia ada peningkatan ad spend yakni sebesar 76 persen di tahun 2020 pada periode semester I (Januari-Juni).

Transaksi yang terus melesat

Fenomena ini dikatakan sejalan dengan kenaikan jumlah transaksi e-commerce di Tanah Air. Menurut catatan Bank Indonesia (BI), terjadi kenaikan jumlah transaksi konsumen e-commerce sebesar 51 persen selama masa pandemi ini.

Jika transaksi e-commerce di Indonesia pada tahun 2019 sebesar Rp201 triliun, maka pada tahun ini angkanya diperkirakan bakal naik. BI memprediksi omset empat perusahaan e-commerce terbesar Indonesia diperkirakan tembus Rp429 triliun pada akhir 2020.

''Di tengah ekonomi yang terkontraksi akibat dampak pandemi korona, perkembangan teknologi digital juga membuka peluang untuk mendorong pertumbuhan ekonomi lewat new growth engine ini,” kata Filianingsih Hendarta, Asisten Gubernur/Kepala Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran BI beberapa waktu lalu dalam acara Zooming with Primus, Kamis (23/7).

Sementara seperti dicatat Statista, pertumbuhan pendapatan e-commerce di Indonesia memang akan naik di tahun ini meski tak terlalu fantastis seperti yang disebut BI, dari Rp154,2 triliun pada 2019 menjadi Rp182,4 triliun pada 2020, dengan pertumbuhan sebesar 18,2 persen.

Tingginya minat pelaku usaha serta pelanggan terhadap penggunaan e-commerce disinyalir banyak mendorong munculnya platform-platform e-commerce baru.

pendapatan e-commerce ritel

Industri logistik kiat menggeliat

Tak hanya e-commerce, industri pendukung seperti logistik pengiriman barang juga ketiban untung. Salah satu pemain industri logistik pengiriman barang, J&T Express, bahkan mengaku mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Hal ini tentunya berhubungan erat dengan peralihan minat masyarakat dari belanja offline menjadi berbelanja melalui e-commerce.

Mengenai peningkatan di masa pandemi, jika dibandingkan dengan tahun lalu di waktu yang sama, J&T Express mengungkapkan jika perusahaannya mengalami peningkatan pengiriman sebesar 40 persen.

Robin Lo, CEO J&T Express, pada kesempatan lain menyebut bahwa pihaknya selaku salah satu mitra logistik platform e-commerce di Indonesia berupaya memberikan layanan serta promosi terbaik bagi konsumen. Baik itu penjual maupun pembeli demi mendorong pemulihan ekonomi Indonesia di tengah pandemi.

''Hingga saat ini, J&T Express terus mendukung setiap program besar Shopee dan menjadi mitra resmi Cash on Delivery (CoD) Shopee di seluruh wilayah Indonesia. Selain itu, sebagai upaya kami untuk mendorong penjual tetap produktif dan semangat,'' kata Robin.

Sebagai perusahaan logistik, Robin menilai ada perubahan kebiasaan belanja dalam masyarakat. Bukan hanya perubahan platform saja, namun produk yang dibeli pun berubah selama masa pandemi Covid-19. Jika sebelumnya masyarakat lebih banyak belanja produk ringan seperti fashion, saat ini mereka membeli produk yang lebih berat, seperti alat kebutuhan dapur.

Baca juga:

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini