Kabar Baik! BPJS Kesehatan Diproyeksikan Catat Surplus

Kabar Baik! BPJS Kesehatan Diproyeksikan Catat Surplus
info gambar utama

Kabar baik datang dari salah satu badan hukum publik, yaitu Badan Penyelenggara Jaminan Sosial atau BPJS Kesehatan. Setelah selalu mengalami defisit sejak awal pembentukan, Direktur Utama BPJS Kesehatan, Fachmi Idris memproyeksikan defisit lembaga ini akan hilang, bahkan surplus hingga Rp2,56 triliun.

Diberitakan oleh Bisnis.com, pernyataan ini disampaikan melalui rapat dengan Komisi IX DPR yang dihadiri Dewan Jaminan Sosial Nasional, Dewan Pengawas BPJS Kesehatan, dan pihak Kementerian Kesehatan.

Sejak awal pembentukannya pada tahun 2014, menurut diagram dari Katadata, badan ini tercatat selalu mengalami defisit dari tahun ke tahun. Pada tahun 2014 BPJS Kesehatan tercatat defisit Rp3,3 triliun, hingga pada tahun 2019 defisit BPJS Kesehatan tembus hingga Rp15 triliun.

"Di akhir 2020 ini diperkirakan ada surplus arus kas sebesar Rp2,56 triliun. Dengan sudah memperhitungkan dampak pandemi covid-19, biaya bayi lahir dengan tindakan, dan asumsi penundaan iuran PBPU," ujar Fachmi dilansir dari CNN Indonesia.

Hal itu disebabkan karena iuran kembali naik dan dibayarkan berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 64 Tahun 2020. Prakiraan ini bisa terlaksana karena BPJS Kesehatan telah membayar semua hutang yang telah jatuh tempo sejak awal tahun 2020 hingga Bulan Agustus 2020 kepada setiap faskes sebanyak lebih dari Rp71 triliun.

"Sehingga Juli 2020 sudah tidak ada lagi gagal bayar," ucap Fahmi dikutip dari CNBC Indonesia.

Angka surplus tersebut bisa terlaksana dengan rincian total pemasukan sebanyak Rp130,7 triliun, serta total pengeluaran sebanyak Rp128 triliun. Fahmi mengatakan angka ini masih proyeksi dan tetap bergantung pada kondisi di masa depan.

Sebelumnya, Dirjen Anggaran Kemenkeu Askolani mengatakan bahwa manajemen keuangan di BPJS Kesehatan jauh membaik dibanding tahun-tahun sebelumnya.

“BPJS akan sangat komitmen untuk membantu cashflow pelayanan rumah sakit di seluruh wilayah Indonesia," kata Askolani dilansir Republika (14/5) lalu.

Sumber: Katadata | Tempo | Bisnis.com | CNN Indonesia | CNBC Indonesia | Republika

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini