Yuk, Main-Main ke Penangkaran Penyu di Kota Pariaman

Yuk, Main-Main ke Penangkaran Penyu di Kota Pariaman
info gambar utama

Kawan GNFI yang saat ini kebetulan ada di Kota Pariaman, di Provinsi Sumatra Barat, menghabiskan akhir pekan tentunya tak hanya dengan rekreasi ke pantai, tapi juga bisa mengunjungi tempat penangkaran penyu di bagian utara kota itu.

Dengan konsep wisata edukasi, lokasi penangkaran penyu ini berada dekat Pulau Kasiak. Tepatnya berlokasi di Jalan Syeh Abdul Arif, Kawasan Pantai Ampalu, Desa Manggung, Kecamatan Pariaman Utara, Kota Pariaman.

Secara umum, Kota Pariaman adalah salah satu daerah di wilayah pantai barat Sumatra yang menjadi lokasi tempat munculnya penyu laut setiap tahunnya. Saat ini, Penyu termasuk ke dalam katagori hewan yang berstatus hampir punah dan perlu dilakukan upaya untuk pelestariannya.

Dalam catatan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Indonesia juga menjadi salah satu tempat bertelur 6 penyu dari 7 penyu yang ada di dunia. Hal tersebut karena perairan Indonesia menjadi rute perpindahan (migrasi) penyu laut di persimpangan Samudera Pasifik dan Hindia. Penyu yang dapat ditemui di Indonesia antara lain:

  1. Penyu Lekang (Lepidochelys olivacea)
  2. Penyu Hijau (Chelonia mydas)
  3. Penyu Belimbing (Dermochelis coriaceae)
  4. Penyu Pipih (Natator depressus)
  5. Penyu Tempayan (Caretta caretta)
  6. Penyu Sisik (Eretmochelys imbricata)

Penyu merupakan salah satu bintang purba yang langka di dunia dan keberadaannya dilindungi oleh undang-undang. Penyu dapat bertelur ketika berusia 25 tahun lebih, pemeraman telur penyu berkisar seminggu hingga dua bulan. Yak tak kalah menarik, penyu dapat berusia hingga ratusan tahun.

Jika dilihat dari karakter individunya, penyu merupakan hewan yang sangat sensitif pada indra penciumannya serta akan mudah stres jika dipegang.

Upaya menjega kelestarian penyu

Keberadaan penanggkaran penyu ini merupakan upaya untuk menjaga dan melestariakan keberadaan penyu dari ancaman kepunahan. Hal itu seiring dengan meningkatnya perburuan besar-besaran terhadap telur dan daging penyu yang dijual dan dikonsumsi oleh masyarakat.

Pemerintah Kota Pariaman telah membuat Kawasan Konservasi Penangkaran Penyu di bawah UPT. Konservasi Penyu Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kota Pariaman. Kawasan ini bisa didatangi sekira 10 menit dari pusat Kota Pariaman melalui perjalanan darat.

Untuk menyambanginya, kawan GNFI bisa mengakses melalui tiga jalur, yakni dari Pantai Gandoriah, dari Simpang Akper (Ampalu), dan dari kawasan normalisasi sungai Batang Manggung.

Di dalam kawasan konservasi penyu ini terdapat beberapa fasilitas yang dapat dimanfaatkan oleh pengunjung, di antaranya terdapat ruang inkubasi peneluran penyu, hacthery, ruang karantina, pos jaga, ruang informasi, laboratorium, hingga taman yang dilengkapi gazebo-gazebo yang menghadap ke laut dengan pemandangan pulau-pulau kecil Kota Pariaman.

Kawasan konservasi penyu ini ada sejak 2006 melalui pembangunan fasilitas penangkaran Penyu oleh DKP Kota Pariaman yang menjadi bagian dari kawasan konservasi perairan daerah. Semuanya pun berjalan semakin baik sejak hingga tahun 2009.

Kemudian pada tahun 2013 dibentuk UPT Konservasi Penyu dan pulau-pulau yang berada di kawasan pencadangan mempunyai fungsi utama sebagai perlindungan sistem penyangga kehidupan, pengawetan keanekaragaman jenis flora dan fauna serta pemanfaatan yang lestari.

Dimanfaatkan sebagai pusat penelitian dan edukasi

Kawasan ini juga dimanfaatkan sebagai pusat penelitian, pendidikan, objek wisata bahari, dan dimanfaatkan oleh masyarakat untuk pengembangan ekonomi produktif dengan tetap memperhatikan prinsip-prinsip pemanfaatan yang ramah lingkungan dan lestari.

Kawasan Konservasi ini menjadi tempat pelestarian penyu dan penetasan telur penyu yang berasal dari pulau-pulau yang telah dijadikan kawasan konservasi sekitar Kota Pariaman. Memang, wilayah pesisir dan pulau banyak ditemukan spesies penyu penyu laut dan sebagai daerah penyu bertelur sepanjang tahun.

Jenis penyu yang banyak ditemukan di kawasan ini adalah;

  • Penyu Sisik,
  • Penyu Hijau, dan
  • Penyu Lekang.

Tentunya dengan mengunjungi kawasan konservasi penyu ini, kawan dapat melihat dan memperkaya wawasan yang akan berdampak pada menumbuhkan kepedulilan terhadap pelestarian hewan langka ini.

Sebaran penyu di Indonesia

Secara umum, penyu tersebar hampir di seluruh wilayah Indonesia baik pesisir barat atau timur Sumatra, pesisir selatan Pulau Jawa, pesisir Pulau Kalimantan, Sulawesi, Papua, Bali, Lombok, NTT, NTB, Maluku, dan Pulau-Pulau kecil berpasir lainnya.

Dalam laman KKP dijelaskan bahwa salah satu masalah yang masih perlu pembenahan dan pengembangan adalah terkait upaya konservasi penyu di wilayah Indonesia. Semua jenis penyu laut di Indonesia telah dilindungi berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 7 tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa.

Ini berarti segala bentuk perdagangan penyu baik dalam keadaan hidup, mati, maupun bagian tubuhnya itu dilarang.

Permen LHK No.20 tahun 2018 tentang jenis dan satwa yang dilindungi dan Permen LHK No.106 tahun 2018 tentang perubahan Permen LHK No.20 tahun 2018, juga menyatakan bahwa 6 jenis penyu di Indonesia tergolong satwa yang dilindungi oleh Undang-Undang.

Menurut Undang Undang No.5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya dan ketentuan CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Flora and Fauna), bahwa semua jenis penyu laut telah dimasukan dalam appendix I, yang artinya perdagangan internasional penyu untuk tujuan komersil juga dilarang.

Badan Konservasi dunia IUCN juga memasukkan penyu sisik ke dalam daftar spesies yang sangat terancam punah. Sedangkan penyu hijau, penyu lekang, dan penyu tempayan, digolongkan sebagai hewan yang berpotensi terancam punah.

KKP dalam dalam kerangka melakukan penertiban terhadap pemanfaatan penyu dan turunannya, juga menerbitkan Surat Edaran No. SE 526 tahun 2015 tentang Pelaksanaan Perlindungan Penyu, Telur, Bagian Tubuh, dan/atau Produk Turunannya.

Nah kawan, jika bukan kita, siapa yang akan menjaga kekayaan satwa Indonesia untuk bisa dilihat anak cucu kita nantinya.

Baca juga:

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini