Bangga! Dua Tim ITB Sabet Dua Juara Lomba Rancang Sistem Otomasi Bangunan di AS

Bangga! Dua Tim ITB Sabet Dua Juara Lomba Rancang Sistem Otomasi Bangunan di AS
info gambar utama

Tidak sia-sia usaha Reza dan tim hingga rela melakukan video call selama 12 jam setiap hari. Bahkan di hari terakhir tenggat waktu, mereka harus tidak tidur. Mereka benar-benar harus terhubung selama 24 jam.

‘’Saya sampai nggak mandi dua hari, itu epic sekali,’’ ungkap Reza sambil terkekeh kepada VOA Indonesia (8/9/2020).

Segala jerih payah hingga tidak mandi itu terbayarkan dengan sesuatu yang setimpal. Tim yang menyebut diri mereka sebagai Tim Wetonia, Institut Teknologi Bandung (ITB) ini terdiri dari Reza Dzikri Khusaini dari Teknik Mesin, Kamilita Hening Musono dari Teknik Mesin, R., Alpinus Raditya Dewangga dari Teknik Mesin, Muhammad Nadhir Nasrudin Tanujiwa dari Teknik Lingkungan Hilman Prakoso dari Teknik Arsitektur, dan Selvia Diwanty yang juga dari Teknik Arsitektur.

Tim Wetonia didapuk sebagai juara pertama kategori Applied Engineering Challenge yang diadakan oleh American Society of Heating Refrigerating and Air Conditioning (ASHRAE), organisasi Heating, Ventialation, and Air Conditioning (HVAC) terbesar di Amerika Serikat. Yang juga merupakan asosiasi insinyur di Amerika Serikat.

Kompetisi ini merupakan kompetisi internasional untuk merancang suatu sistem pengaturan suhu ruang yang efisien. Para mahasiswa ini ditantang untuk merancang sebuah sistem agar para pengguna yang berada dalam sebuah bangunan bisa melaporkan isu-isu operasional terkait suhu ruang kepada operator bangunan itu.

Tim Wetonia merancang sebuah bangunan komersial ramah lingkungan yang mengambil tempat di Bandung ini ditantang untuk membuat otomatisasi koridor lampu dengan memanfaatkan CCTV sehingga bisa lebi hemat energi. Sistem otomatis ini nantinya akan meningkatkan kenyamanan termal dalam ruangan.

‘’Kami memikirkan soal keekonomisan dan visibilitas untuk digunakan juga. Kita memanfaatkan apa yang sudah ada dalam bangunan itu dan kami juga memiliki sistem berpikir yang lebih runtut,’’ ujar Kamilita Hening Musono yang bertugas menggarap sistem mekanikal dalam Tim Wetonia.

Atas karya mereka ini, Tim Wetonia berhasil menyabet posisi pertama kategori Applied Engineering Challenge dan berhak mendapatkan hadiah berupa uang senilai 5000 dolar AS untuk dibagikan berenam. Bahkan pada Januari 2021 mendatang mereka diagendakan akan hadir pada Konferensi ASHRAE untuk memamerkan hasil karyanya di Chicago, negara bagian Illinois.

‘’Itu pun kalau jadi karena masih ada pertimbangan kondisi pandemi Covid-19,’’ ungkap Selvia.

Sungguh perjuangan yang terbayarkan setelah beberapa bulan digarap. Tim Wetonia mengaku mereka akan mendapatkan pengalaman yang baru dan menyenangkan. Terutama bisa bekerja dengan beberapa teman dari lintas jurusan.

‘’How fun it is to work with people yang chemistry-nya sangat cocok. No hard feeling. Bahkan ketika ada yang ketiduran, ya udah nggak apa-apa. Kita jadikan guyonan,’’ ungkap Selvia.

Juara Kedua Juga Masih dari ITB

Bangunan Hasil Tim Ganeshantuy
info gambar

Masih dari kategori yang sama, rupanya yang menduduki posisi kedua juga merupakan tim dari ITB yang menyebut diri mereka sebagai Tim Ganeshantuy. Tim ini beranggotakan Calvin Sawaddah dari Teknik Mesin, Rezky Mahesa Nanda dari Teknik Fisika, Ahmad Revo Guci dari Teknik Fisika, Ainun Fitryh Vianiryzi dari Teknik Informatika, Hafidza Fara Hapsari dari Teknik Arsitektur, dan Valeryn Horlanso dari Teknik Arsitektur.

Berbeda dengan Tim Wetonia, Tim Ganeshantuy merancang sebuah bangunan komersial di Balikpapan yang dilengkapi muka bangunan yang disebut façade. Façade ini dirancang secara kinetik sehingga bisa lebih adaptif terhadap iklim dan cuaca.

‘’Jadi saat pagi dan belum panas, façade kinetiknya terbuka. Kemudian saat siang, semakin hari semakin panas, façade kinetiknya adaptif bisa menutup sendiri. Ditambah dengan automated system yang dibangun oleh informatiknya yang mungkin bisa menghasilkan desain yang bagus dan berguna,’’ jelas Valeryn yang banya bertugas di awal-awal penggarapan karena berhubungan dengan arsitekturnya.

Selain itu, bangunan itu juga dilengkapi dengan sistem komputasi yang memungkinkan pengguna atau siapapun yang berada dalam gedung itu untuk memberikan masukan mengenai kenyamanan suhu ruang yang mereka rasakan.

Tim Ganeshantuy awalnya tidak menyangka bahwa mereka akan menambah daftar pemenang dari Indonesia pada kategori yang sama. Sungguh merupakan pengalaman yang luar biasa bagi Tim Ganeshantuy, apalagi makna bekerja secara kolaborasi antar anggota dari lintas jurusan.

‘’Setelah ikut lomba ini saya mikirnya mesin sendiri itu tidak bisa apa-apa. Jadi mereka harus berkolaborasi dengan bidang-bidang lain untuk menghasilkan suatu hasil tertentu. Kalau sendiri nggak bisa apa-apa,’’ ungkap Calvin dari Tim Ganeshantuy yang bertugas dari sisi mekanikal gedung.

Tidak seperti Tim Wetonia, Tim Ganeshantuy mungkin belum mendapat kesempatan hadir dan menjelaskan hasil karyanya di pameran dan konferensi yang ASHRAE selenggarakan pada Januari 2021 mendatang. Meski begitu, mereka mengaku tetap bersyukur, senang, dan bangga dapat memenangkan kontes internasional yang belum pernah diikuti mereka sebelumnya.

Eh Tim Ganeshantuy ini apakah gabungan kata dari Ganesha + Santuy?

Bisa jadi. Haha.

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini