Bing Slamet, Menghibur Prajurit Kemerdekaan dengan Nyanyian dan Tawa

Bing Slamet, Menghibur Prajurit Kemerdekaan dengan Nyanyian dan Tawa
info gambar utama

Predikat seniman dengan "paket komplet" mungkin bisa diberikan pada Bing Slamet. Bisa bermain musik, punya suara yang bagus ketika bernyanyi, belum lagi mimik muka dan gerak-geriknya lucu saat berakting.

Dari berbagai keahlian yang dikuasainya, Bing Slamet menjadi seniman panggung hiburan yang lengkap. Popularitas lewat bakat seninya itu berhasil digapainya bahkan sejak ia masih kecil.

Bing bisa disebut apa saja. Mulai dari musisi, aktor, dan juga maestro lawak. Semuanya dijalaninya berbarengan sehingga membuat ia bak magnet bagi semua orang.

Bing Slamet.
info gambar

"A good laugh heals a lot of hurts (tertawa menyembuhkan banyaknya rasa sakit)," itulah yang dituliskan Madeleine L'Engle dalam buku A Ring of Endless Light.

Mungkin Bing Slamet tidak membaca kutipan dari buku penulis asal Amerika Serikat tersebut. Namun, tak perlu membaca buku itu sepertinya ia sudah tahu dengan bakatnya banyak orang terhibur demi melupakan kesedihan dari rasa sakit yang ada.

Seorang pahlawan tidak melulu yang bermodalkan senapan atau pedang. Tidak harus bunuh-bunuhan bersimbah darah. Seorang pahlawan sejatinya, harus bisa memberikan senyuman bagi banyak orang di tengah kekalutan.

Bing Slamet pun melakukan pekerjaan mulia sebagai "pahlawan" itu sebelum kariernya menanjak. Ia pernah berjuang pada masa perang revolusi, di tengah para pejuang kemerdekaan. Tentu saja tidak menggunakan senjata, tetapi dengan bakat seninya. Sebagai penghibur ulung lewat nyanyian dan tawa.

Memet Kecil Doyan Nyanyi

Bing Slamet lahir di Cilegon, Banten, pada 27 Desember 1927. Ia adalah anak pasangan Raden Entik Ahmad (beberapa sumber menyebutkan namanya Rintrik Achmad) dan Hadijah.

Nama lahirnya ialah Raden Slamet, bukan Bing Slamet sebagaimana ia dikenal banyak kalangan pada masa ketenaran hingga ia tiada. Mengutip dari Majalah Ekspres Volume 4 tahun 1973, penyematan nama "Bing" konon diberikan oleh tiga aktor film Indonesia yaitu Panji Anom, Awaluddin, dan Basuki Zaelani. Hanya saja ada versi lain, bahwa yang memberikan nama "Bing" adalah aktris papan atas Fifi Young. Entah yang benar yang mana, tetapi bisa saja keduanya benar.

Nama "Bing" di depan "Slamet" terinspirasi dari penyanyi Amerika Serikat, Bing Crosby. Suara bariton Crosby khas, dan Slamet mampu menirukannya. Tak hanya suara sebenarnya, setelan dan gaya rambut Crosby juga ditiru oleh Slamet. Wajar, karena ia memang mengagumi penyanyi sekaligus bintang film kenamaan itu. Nama "Bing" itu diberikan padanya pada 1948 ketika menyanyi sekaligus melawak di Yogyakarta.

''Dalam Honolulu Dream ini Slamet sukses membawakan lagu-lagunya di bawah iringan orkes Hardy's Boys. Demikianlah asal-usul tambahan nama Bing pada nama Slamet sehingga menjadi Bing Slamet, yang didapatnya di Yogyakarta tahun 1948,'' terang Sutrisno dalam buku Bing Slamet: Hasil Karya dan Pengabdiannya.

Bing Slamet (kanan) ketika berusia 7 tahun, bersama kedua adiknya, R Sudrajat dan R Empi Kurnia.
info gambar

Ketika mengandung Bing Slamet—atau Memet, panggilan masa kecilnya—Hadijah tidak ngidam yang aneh-aneh. ''Saya sehat sekali waktu mengandung Bing Slamet. Tanpa muntah dan selalu bergembira,'' kata Hadijah dikutip GNFI dari Majalah Kartini, No 17 tahun 1975.

Bing kecil tumbuh besar di tangsi polisi Cilegon. Masyarakat penghuni tangsi seringkali memanjakannya, hidupnya semasa kecil pun penuh tawa.

Menginjak usia 6 tahun, bakat seni Bing mulai kentara. Ia pandai bernyanyi. Guru sekolah di Cilegon bernama Arbaiyyah lantas terus-menerus memberikannya dorongan semangat agar Bing mengembangkan bakat menyanyinya.

Kepiawaiannya dalam bernyanyi semakin disorot. Saat masuk Hollandsch-Indische School (HIS, setara Sekolah Dasar), nama panggil "Abdullah kecil" lantas diberikan untuk Bing. Orang-orang menilai Bing punya bakat besar sama halnya dengan Abdullah, penyanyi terkenal pada masa itu.

Bakat menyanyinya terasah berkat hobi sang ayah yang sering menyetel lagu dengan gramofon. Dari situ, Bing jadi suka mengutak-utik gramofon, mencari tahu lagu-lagu yang keluar dari piringan hitam yang diputarkan olehnya.

Kegemaran Bing menyetel lagu di gramofon menarik perhatian seorang polisi bernama Laurens yang mempunyai kemampuan olah vokal. Bing pun dibimbing. Hasil tempaan dari Laurens membuat Bing pede.

Pada 1939, ketika menginjak 12 tahun, ia akhirnya masuk perkumpulan musik Terang Boelan yang dipimpin musisi tenar, Husin Bangsa (Husin Kasimun). Bersama Terang Boelan, Bing ke sana ke mari, tampil dari panggung satu ke panggung lainnya. Pengalamannya mentas kian bertambah pada usia belia.

Enggan Tinggalkan Pendidikan Meski Sibuk Manggung

Pendidikan penting di mata Bing Slamet. Namun dilema harus dihadapi sulung tiga bersaudara ini. Ketika masuk dalam Orkes Kerontjong pada zaman Jepang, ia menjadi kian sibuk.

Saking sibuknya manggung, Bing jadi sering membolos. Ia harus memilih fokus salah satu di antara keduanya, menyanyi atau bersekolah.

Komponis dan pencipta lagu, Iskandar, kemudian menawarkan solusi. Bing harus datang ke Rakutentji (sekarang Lokasari, Mangga Besar), ke sebuah restoran bernama "Kalimantan" di dalam Pasar Tjiplak. Di tempat itu merupakan tempat berkumpulnya para seniman besar.

Pada 1944, Bing ambil keputusan bulat. Agar membatasi dirinya dari kegiatan manggung yang berpindah-pindah dan mengorbankan pendidikannya, ia memilih bergabung dengan grup sandiwara Pantjawarna di Rakutentji.

Di grup sandiwara pimpinan Fifi Young itu, Bing bertemu seniman idolanya, Sam Saimun. ''Saya bersamanya sejak di Yogya tahun 1944. Waktu itu saya menjadi pengagumnya dan sejak itu saya mengikutinya. Dia guru saya,'' kenang Bing ketika pemakaman Sam pada 1972, sebagaimana dikutip dari Kompas, 18 Desember 1974.

Bing menjadi penyanyi terbaik di Pantjawarna. Bersama Pantjawarna, ia tidak hanya bernyanyi, tetapi juga mengasah kemampuan drama. Sayangnya, keinginan tetap berseni dan tidak bolos sekolah tidak kesampaian olehnya. Bing tetap harus manggung ke luar daerah karena Pantjawarna sering keliling Indonesia.

Ditahan Jepang dan Belanda Saat Jadi Pejuang Penghibur

Bing kian sering melanglangbuana pada masa pendudukan Jepang dan perang kemerdekaan. Aktivitas berseninya lancar walaupun situasi sedang mencekam. Kenangan pahit pun dirasakannya pada masa-masa itu. Tercatat dua kali ia merasakan rasanya dipenjara oleh pihak Jepang dan Belanda.

Pertama pada masa pendudukan Jepang tahun 1944. Bing dan kelompok Pantjawarna sedang menghibur publik Kota Semarang. Namun, tahu-tahu, mereka ditangkap di sebuah hotel bernama Du Pavillon. Alasannya tidak jelas.

Bing dan anggota Pantjawarna lain ditodong bayonet dan masuk ke dalam penjara. Ia hanya bisa berdoa saat itu. Meskipun diliputi kecemasan, akhirnya Bing dkk. bisa lega. Mereka dibebaskan setelah mengetahui mereka adalah rombongan sandiwara.

Potret wajah Bing Slamet pada 1954.
info gambar

Dinginnya lantai penjara Bing rasakan lagi pada masa perang kemerdekaan. Pascaproklamasi kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, Belanda yang dibantu tentara sekutu, berusaha menguasai Indonesia kembali. Semangat nasionalisme Bing sedang membara saat itu. Ia ikut berjuang, tetapi lewat hiburan segar, bukan dengan moncong senjata.

Saat berada di Mojoagung, Jawa Timur, Bing memutuskan masuk Badan Keamanan Rakyat (BKR) Divisi VI Brawidjaja. Alasannya sederhana, ia ingin membantu kemerdekaan Indonesia. Berbekal suara emasnya, Bing masuk ke dalam bagian penghibur yang bertugas menyanyikan lagu-lagu penggugah semangat juang.

''Sejak pecah revolusi di tahun 1945, Bing Slamet tidak pernah absen pula menghibur para prajurit,'' tulis Kompas, 18 Desember 1974.

Dari Mojoagung, Bing bertolak ke Malang pada 1947. Di sana suaranya lantang bersama Radio Republik Indonesia (RRI) karena berperan sebagai penyiar dan penyanyi. Bing mengabarkan berita baik di tengah perang. Pernah dirinya menyampaikan pesan seorang pemuda untuk ibunya agar tetap mendoakannya dan tak gelisah. ''Halo, Bu, halo, di sini suara garis terdepan,'' seperti itulah Bing ketika siaran.

Bing terus menjadi pejuang penghibur di tengah peperangan. Pada 1948, ia pindah ke Yogyakarta untuk bekerja di RRI. Seperti yang dijelaskan sebelumnya dalam asal-usul nama Bing, di kota gudeg itu ia bernyanyi juga melawak.

Bing ditangkap oleh Belanda yang melancarkan Agresi Militer II ke Kota Yogyakarta. Ia dipenjara di penjara Ngapusan bersama temannya pencipta lagu "Angin Berbisik", Mathovani. Keberuntungan datang dua kali. Mengetahui Bing dari barisan penghibur, ia pun dibebaskan lagi. Saat itu Belanda tidak tahu kalau barisan ini punya arti penting menyalakan semangat para pejuang kemerdekaan.

Guru Titiek Puspa dan Benyamin Sueb

Pada awal tahun 1950-an, nama Bing sebagai penyiar radio melejit. Penghargaan bergengsi lantas pernah diraihnya.

Pada 1953, Bing merengkuh gelar "Bintang Pelawak". Dua tahun kemudian, gelar "Bintang Radio" diraihnya. ''Saat itu dia sudah menemukan ciri khas, baik volume maupun teknik menyanyi, tidak lagi meniru Sam Maimun,'' tulis Kompas, 18 Desember 1974.

Iklan mengenai acara perebutan gelar
info gambar

Nama Bing semakin sering terdengar. Suaranya menjadi pujaan para pemuda-pemudi pada masanya. Salah satu penggemarnya ialah Titiek Puspa, yang kini juga menjadi penyanyi legendaris Indonesia.

Titiek kemudian hijrah dari Semarang ke Jakarta. Tujuannya untuk mengikuti Bintang Radio yang diadakan RRI dan tujuan lainnya membuka peluang bertemu berbagai idola kala itu, termasuk Bing Slamet.

Tanda tangan Bing Slamet pun didapat. Sempat terbengong-bengong, Titiek senang bukan kepalang. Kertas bertanda tangan Bing Slamet ia genggam erat, bahkan sampai saat tidur di malam jelang kontes.

Bing Slamet meraih juara dalam kontes
info gambar

Pertemuan Titiek Puspa dengan Bing Slamet tidak sampai di situ. Saat Presiden Sukarno melarang musik Barat pada 1960, musik nasional didorong menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Dari gagasan itu, Titiek dan Bing pun dipersatukan dalam The Lensoist, grup musik yang memainkan irama lenso yang berasal dari Maluku dan Sulawesi.

Untuk mengangkat dan membesarkan musik Tanah Air, dalam lawatannya ke Amerika Serikat dan Eropa antara 1946-1965, Sukarno membawa serta beberapa pemusik dan penyanyi yang tergabung dalam The Lensoist. Saat itu tidak hanya Titiek dan Bing, tetapi juga ada seniman lain yakni; Nien Lesmana, Munif A Bahasuan, pemain biola Idris Sardi, pemain gitar Jack Lesmana, pemain piano Bubi Chen, dan beberapa orang lainnya.

''Gila! Saya ada di kelompok Bing Slamet!'' kenang Titiek, dikutip GNFI dari majalah Historia.

Aktor Belanda Rob de Nijs menyambut grup musik The Lensoists, Jack Lesmana, Titiek Puspa, Bing Slamet, dan Nien Lesmana
info gambar

Tak hanya Titiek Puspa, seniman Betawi Benyamin Sueb juga erat dengan Bing Slamet.

Bing Slamet yang serba bisa juga dianggap guru oleh Benyamin. Binglah yang mengintip bakat Bang Ben—sapaan Benyamin pada masa jayanya—sebagai komposer.

Pada 1970, Bing dan Benyamin berkenalan di Studio Dimita lewat perantara komedian teman mereka berdua, Ateng. Benyamin memang sudah lama ingin lagunya dinyanyikan oleh Bing.

Lagu "Malam Minggu" yang kemudian judulnya diganti dengan "Nonton Bioskop" pun diberikan oleh Benyamin. Lagunya meledak di pasaran, semula piringan hitam lalu merembet ke format pita kaset. Namun, Bing tidak lupa pada jasa Benyamin. Di depan penonton ia selalu bilang: "Ini lagu milik adik saya, Benyamin''.

Bing Slamet dan Benyamin Sueb.
info gambar
Bing Slamet dan Benyamin Sueb.
info gambar

Di mata Bing, Benyamin masih malu-malu membawakan lagunya sendiri. Hal itu bisa dilihat ketika Bing menolak lagu "Si Jampang" buatan Benyamin yang temponya cepat dan tidak bisa dibawakan olehnya. ''Gue tau lu bisa nyanyi, coba aja nyanyi,'' kata Bing pada Benyamin, dikutip dari Kompor Mleduk Benyamin S: Perjalanan Karya Legenda Pop Indonesia karya Wahyuni.

''Dia mula-mula sedikit minder buat tampil, tapi kemudian saya mendesaknya. Hasilnya seperti yang kita lihat sekarang. Namanya menanjak,'' kata Bing Slamet dikutip dari Kiprah Seumur Hidup Benyamin S dalam Berkesenian yang dihimpun Pusat Data dan Analisa TEMPO. ''Itu sangat menggembirakan hati saya.''

Baik Titiek Puspa dan Benyamin Sueb, tetap mengingat jasa Bing Slamet sepanjang hidupnya. Ketika Bing Slamet tiada pada 17 Desember 1974, Titiek langsung menciptakan lagu khusus untuknya yang berjudul "Bing". Berbeda dengan Titiek Puspa, Benyamin tidak menghasilkan lagu, tetapi memberikan wasiat. Di dalam wasiatnya, ia ingin dimakamkan bersebelahan dengan makam Bing Slamet yang ia anggap sebagai guru, teman, dan sosok yang sangat mempengaruhi hidupnya. Wasiat tersebut serius dilakukan Benyamin, bahkan hal itu ia sampaikan langsung kepada Pemda DKI Jakarta.

Ngelawak di Film

Jago bernyanyi juga melucu. Julukan "Bintang Pelawak" juga membuat nama Bing Slamet harum dan terkenal. Bing pernah membentuk grup lawak bernama Trio "Los Gilos" bersama Tjepot (Hardjodipuro) dan Mang Udel (Drs. Poernomo).

Bakat melawaknya, seperti halnya menyanyi, sudah terlihat semenjak masih kecil. Memet kecil kalau dihukum oleh gurunya di depan kelas selalu menggerakkan alis, mengedipkan sebelah mata atau kadang-kadang mengeryitkan keningnya. Ada saja ulahnya yang membuat teman-teman sekelasnya tertawa dan gurunya sulit untuk marah.

Film Kisah Pelawak (1961) yang dibintangi Bing Slamet.
info gambar

Sebagai pelawak, ia pernah tergabung dengan Trio SAE (Bing Slamet, Atmonadi dan Eddy Sud). Selain itu, Bing juga tergabung dalam Kwartet KITA yang beralih nama menjadi Kwartet Jaya yang terdiri dari Bing, Ateng, Iskak dan Eddy Sud. Kwartet Jaya yang diisi oleh Bing ini kemudian sering main bersama dengan berbagai judul film.

Bing ogah kalau disuruh tampil sendiri dalam film. Ia ingin seluruh anggota Kwartet Jaya juga ikut tampil. ''Mungkin karena kami berempat, maka dianggap mahal. Saya ingin main film secara penuh, bukan nongol sebentar kaya ingus,'' kata pelantun lagu "Nurlela" itu, dikutip dari Mimbar.

Sejumlah penghargaan dan predikat terbaik pernah disandang Bing ketika membintangi berbagai judul film. Misalnya film Ambisi (1973) di mana Benyamin ikut tampil, mendapatkan penghargaan sebagai film komedi terbaik dan artistik terbaik pada Festival Film Indonesia 1974.

Bing, Tiada...

Bing mulai sakit-sakitan ketika menginjak usia 40-an. Menurut majalah Tempo, 4 Januari 1975, ia menderita penyakit liver (cirrhosis) tahap lanjut.

Pernah suatu ketika saat sedang mengisi acara bersama Kwartet Jaya di Tegal pada April 1974, ia roboh di depan penonton. Seluruh penonton terpingkal, mengira Bing sedang ngebanyol. Bing pun dilarikan ke rumah sakit, dirawat tiga hari, lalu minta dipulangkan ke Jakarta, ia pun terkulai lemah di atas ranjang.

Bing Slamet
info gambar

Pada 17 Desember 1974, Bing Slamet berpulang. Jenazahnya diantar dengan iring-iringan sepanjang 4 kilometer ke tempat peristirahatan terakhir di tempat pemakaman umum Karet Bivak, Jakarta Pusat.

Sebelum mengembuskan napas terakhir, Bing sempat bermain film terakhirnya berjudul Bing Slamet Koboi Cengeng (1974) yang dibintangi oleh Ateng dan Iskak. Ia meninggalkan delapan orang anak dari pernikahannya dengan Ratna Komala Furi.

Mengingat Sosok Bing Slamet Lewat Hari Komedi Nasional

Pada 2014, pelawak Indonesia, Alfiansyah Bustami alias Komeng, merasa iri dengan Hari Musik Nasional. Bersama pelawak lain ia pun mempunyai ide memunculkan Hari Komedi Nasional. Tanggal 27 September—tanggal lahir Bing Slamet—dipilihnya sebagai hari spesial untuk para komedian Indonesia.

''Kalau ada Hari Musik Nasional, maka pelawak juga butuh penghargaan. Selama ini orang lebih banyak membicarakan komedo daripada komedi sehingga banyak obat cuci muka. Maka tidak ada salahnya kita buat obat cuci rohani dengan komedi,'' kata Komeng dikutip dari KapanLagi.

Komeng tidak sedang bercanda, ia serius memperjuangkan Hari Komedi Nasional. Pada tahun-tahun berikutnya, gagasan itu terus disuarakan olehnya selaku Pemimpin Persatuan Seniman Komedi Indonesia (Paski) Jawa Barat.

Penasehat Paski Jabar yang pernah menduduki kursi Wakil Ketua DPR Koordinator Bidang Politik dan Keamanan, Fadli Zon, turut mendukung adanya Hari Komedi Nasional. Menurutnya adanya hari spesial untuk pelawak tersebut merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kegiatan kebudayaan.

''Saya kira seni dan budaya itu adalah bagian terpenting dalam hidup kita, jati diri kita, hingga identitas kita sebagai bangsa, maka dari itu saya menerima sebagai bagian dari kelompok-kelompok masyarakat yang perlu untuk didukung,'' kata Fadli pada 2016, dikutip dari Republika.

Sayangnya sampai 2020, impian menghadirkan Hari Komedi Nasional belum terwujud. Namun, yang perlu ditekankan ada atau tidak adanya hari tersebut, tidak salah bukan kita terus mengenang Bing Slamet? Ia adalah sosok yang berjuang lewat bakat seninya, menginspirasi banyak golongan dengan karya maupun prestasinya.

Baca Juga:

---


Referensi: Java Bode | Het Vrije Volk | Star Weekly | Kartini | Ekspres | Kompas | Republika.co.id | KapanLagiDotCom | Ludhy Cahyana, "Benyamin S: Muka Kampung Rezeki Kota" | Pusat Data dan Analisa TEMPO "Kiprah Seumur Hidup Benyamin S dalam Berkesenian" | Drs Sutrisno, "Bing Slamet: Hasil Karya dan Pengabdiannya" | Komunitas Pencinta Musik Indonesia, "Musisiku" | Denny Sakrie, "100 Tahun Musik Indonesia"

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini