Wajib Coba! Choipan Kawasan Tradisional Khas Singkawang yang Bakal Bikin Nagih

Wajib Coba! Choipan Kawasan Tradisional Khas Singkawang yang Bakal Bikin Nagih
info gambar utama

Kuliner saat ini sudah menjadi gaya hidup. Bukan hanya soal rasa, tetapi juga kebanggaan. Saat ini telah menjadi pemandangan yang umum melihat orang mengambil foto makanan sebelum disantap. Jepret dari berbagai sudut, lalu mengunggahnya ke media sosial. Hal tersebut dapat membantu memperkenalkan makanan pada daerah atau tempat tertentu.

Kekayaan kuliner nusantara turut dipengaruhi oleh berbagai macam rempah yang tumbuh subur diberbagai daerah. Bahan-bahan yang dikenal sejak lama seperti cengkeh, lada, pala, dan kayu manis yang cukup populer di Indonesia. Karena itulah banyak negara asing yang mengunjungi Indonesia untuk perdagangan rempah. Oleh karena itu banyak masakan dari Indonesia yang dipengaruhi oleh negara asing.

Kota Singkawang yang terletak di Provinsi Kalimantan Barat contohnya, beragam kuliner khas bisa ditemukan di kota yang terletak di ujung pantai barat Pulau Kalimantan tersebut. Dari banyaknya kuliner di kota tersebut, choipan menjadi salah satu andalannya. Bahkan saking terkenalnya, choipan asli Singkawang pernah dimunculkan dalam film nasional. Seperti apa sih choipan itu? Mari telusuri asal-usul dan seluk beluk nya.

Asal Muasal Choi Phan, Bermula dari Kehadiran Komunitas Tionghoa

"Kota Seribu Klenteng", itulah julukan Kota Singkawang. Klenteng atau kelenteng adalah sebutan untuk tempat ibadah penganut kepercayaan tradisional Tionghoa di Indonesia. Jika Kawan GNFI berkunjung ke Singkawang sepanjang perjalanan akan disambut oleh klenteng-klenteng dengan berbagai ukuran.

Selain julukan "Kota Seribu Klenteng", Kota Singkawang juga dijuluki "Kota Amoi". Disebut demikian karena tempat itu menjadi gudangnya gadis peranakan Tionghoa.

Dari situ bisa dilihat, unsur budaya Tionghoa di Kota Singkawang sangatlah kuat. Hal itu bisa dilihat dari kisah berabad-abad lalu. Sejak abad ke-7, orang Tionghoa mulai menetap di Kalimantan Barat. Perdagangan dan perang menjadi alasan terbesar, mengapa orang Tionghoa dari Tiongkok pindah ke Kalimantan Barat. Letak Kalimantan Barat yang berada di rute perdagangan dari Tiongkok ke India, membuat tempat ini sering dilewati para pelaut.

Zheng He atau Cheng Ho, penjelajah Tionghoa Muslim yang pernah berkunjung ke Nusantara.
info gambar

Ada sebuah fakta menarik kalau anak buah Laksamana Cheng Ho yang memperkenalkan Islam ke Indonesia mencoba menetap dan berbaur dengan budaya setempat (tepatnya saat itu di Pontianak) pada 1463. Dari Pontianak, orang-orang Tionghoa - yang sepertinya sebagiannya adalah anak buah Cheng Ho - tersebar sampai ke Singkawang.

Konon anak buah Cheng Ho ini mendirikan sebuah klenteng kecil di daerah bernama Sempalung yang bisa ditemukan di desa kecil bernama Sei Raya di Singkawang. Entah benar atau tidak keberadaannya, menurut beberapa sumber di klenteng itu kita bisa menemukan mata air dan tapak kaki yang diyakini milik sang laksamana besar tersebut.

Komunitas Tionghoa yang menduduki Singkawang pun berkembang pesat. Kawan GNFI pastinya sudah tahu, banyak daerah-daerah Indonesia memiliki kuliner khas yang memiliki pengaruh kuat dari orang-orang negeri Tiongkok dan peranakannya. Bakpia dari Yogyakarta, lumpia dari Semarang, dua itu jadi contohnya.

Di Singkawang sendiri, yang kaya akan unsur Tionghoa-nya sudah pasti ada, choipan namanya. Choipan atau juga biasa disebut chaikue merupakan jajanan terkenal bagi berbagai kalangan di Singkawang.

Sebuah adegan dalam film
Sebuah adegan dalam film "Aruna & Lidahnya" (2018) di mana Choipan yang sedang dikukus disemprot dengan air matang. Sumber: CJ Entertainment

Hampir semua makanan Tionghoa di Pontianak dan Singkawang merupakan khas Tiociu dan Hakka (kelompok Tionghoa suku Han seperti Cheng Ho dan anak buahnya), dengan seringnya penggunaan bahan, seperti bengkoang, ebi dan cuka dalam lauk pauknya. Inilah yang menjadi bahan utama choipan.

Choipan berasal dari bahasa Hakka, "choi" yang berarti "sayur" dan "pan" yang berarti "kue". Dengan bermacam-macam bentuknya, jajanan khas Singkawang ini memiliki ciri kulit yang kenyal, terbuat dari tepung beras dan tepung sagu, serta diisi oleh bengkoang yang dicampur ebi atau daun kucai.

Kulit choipan sangat tipis dan lembut, sehingga saat diambil menggunakan tangan bisa saja robek. Setelah dimasak dengan cara dikukus, choipan biasanya disajikan dengan siraman sambal cuka serta dimakan dengan bawang putih yang banyak. Selain dibuat dengan cara dikukus, choipan juga bisa divariasikan dengan digoreng. Isian makanan ini juga dapat berupa keladi dan rebung.

''Biasanya, di atasnya licin oleh minyak serta bawang putih goreng melimpah. Rasanya gurih ringan, membuat kita acap lupa sudah menyantap berapa banyak,'' terang food storyteller tersohor, Ade Putri Paramadita, lewat akun Facebook-nya.

Kawasan Tradisional, Tempat Pas buat Icip-icip Choipan

Jika Kawan GNFI berkunjung ke Kota Singkawang, pastilah wajib mendatangi Kawasan Tradisional Marga/Rumah Keluarga Tjhia di Jl. Budi Utomo No.45. Di sini, Kawan GNFI akan menemukan dan merasakan kenikmatan choipan di Choipan Tho Ce yang sudah berdiri sejak tahun 1979.

https://www.goodnewsfromindonesia.id/uploads/images/2020/09/2614192020-m_32852068_LKrVX_1d1yoBc3LkHRTq60TqalKRBCbk4CoqTNbXPw0.jpg
info gambar

Untuk menikmati choipan di kawasan yang sudah menjadi cagar budaya Pemerintah Kota Singkawang ini Kawan GNFI tidak perlu khawatir akan harganya. Satu potong choipan segala isian dibanderol seharga Rp 1.500 saja.

Plang Resto Choi Pan Tho Ce.
info gambar

Sekadar informasi tambahan, jika Kawan GNFI melakukan perjalanan ke Kota Singkawang dari Pontianak, kalian membutuhkan waktu 3 jam 35 menit dengan jarak 151.5 kilometer. Lama juga ya? Namun, tak perlu merasa sedih, karena sepanjang perjalanan kalian dapat menikmati indahnya pantai barat Kalimantan.

Menjadi Salah Satu Food List di Film "Aruna & Lidahnya"

''Tapi kalo choipan gue mau,'' begitulah kata Dian Sastrowardoyo dalam film "Aruna & Lidahnya" (2018). Dalam film bergenre drama roman bercampur kuliner itu, choipan khas Singkawang muncul di sebuah adegan.

Pada film yang diangkat dari novel karya Laksmi Pamuntjak dengan judul yang sama tersebut, Rai yang diperankan oleh Dian Sastrowardoyo berkunjung ke rumah makan di daerah Singkawang bersama Farish yang dibintangi Oka Antara. Awalnya Farish mengajak Rai makan mie lempar atau mie loncat, salah satu kuliner khas Singkawang. Hanya saja Rai menolak dan memilih choipan.

Sebuah adegan ketika Dian Sastro dan Oka Antara memakan choipan di Kawasan Tradisional Kota Singkawang. Sumber: PalariFilms
info gambar

Sebelum menyorot meja makan, adegan didahului tangan ahli yang mengolah choipan. Adonan diisi berbagai macam isian kemudian dikukus sambil disemprot air tawar. Semakin menggugah selera, choipan matang yang mengkilap dengan olesan minyak bawang putih tersaji dan disantap dua tokoh tersebut. Bikin ngiler!

Setelah membaca informasi ini kawan GNFI pasti tertarik untuk mencoba choipan bukan? Jika akan berkunjung ke Kota Singkawang menu choipan ini jangan sampai terlewatkan di food list kawan GNFI ya!

---

Referensi: Traveling.bisnis.com | Tirto.id | Andre Wijaya, "Sajian Kuliner Khas Kabupaten Singkawang, Kalimantan Barat" | Nicholas Molodysky, "Kuliner Khas Tionghoa di Indonesia" | Asiapac Editorial, "The Great Explorer Cheng Ho"

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini