Mitologi Dewi Sri dan Tradisi Pertanian di Nusantara

Mitologi Dewi Sri dan Tradisi Pertanian di Nusantara
info gambar utama

Pada karakter Bumi Langit Cinematic Universe, muncul satu tokoh perempuan bernama Dewi Asih yang diperankan Pevita Pearce. Dalam film Gundala, dirinya muncul untuk membalik minibus yang sedang melaju kencang dengan selendangnya. Hanya senyuman yang dirinya lontarkan, lalu pergi dari hadapan Gundala.

Dewi Asih adalah tokoh superhero pertama di Indonesia yang disebut reinkarnasi Dewi Sri. Lalu siapakah Dewi Sri? Dewi Sri adalah sosok yang ditulis sejarah sebagai dewi kesuburan dan dewi pertanian yang cukup dipercaya pada budaya masyarakat Bali dan Jawa. Cerita Dewi Sri atau Nyo Pohaci Sang Hyang Sri di Sunda cukup populer.

Mitos Dewi Sri bermula dari kisah Batara Guru yang merupakan penguasa langit memerintahkan dewa dan dewi bekerja membangun istana. Siapa yang menolak perintah tersebut akan dipotong lehernya. Mendengar perintah ini, Dewi Antaboga khawatir karena tidak memiliki tangan dan kaki.

Dari situ, Dewi Antaboga meminta saran dari Dewa Narada, tapi Narada tidak bisa membantunya. Lalu, dirinya pun menangis tapi dari tangisannya yang jatuh ke tanah keluar tiga buah permata yang sebenarnya sebuah telur. Singkat cerita sebagai penebusan dosa, Antaboga pun membawa telur-telur Itu kepada Batara Guru.

Namun di tengah jalan, Antaboga diserang oleh seekor gagak yang dianggap tidak menghormatinya. Dua telur yang ada di mulut Antoboga jatuh dan pecah. Tinggal satu, dirinya pun bergegas menemui Batara Guru dan memberikan telur tersebut. Berselang beberapa masa, telur itu pun menetaskan bayi cantik. Batara Guru pun sangat senang dengan bayi itu lalu dijadikannya anak angkat.

Ilustrasi Dewi Sri | Foto: sawitplus.co
info gambar

Setelah besar bayi yang diberi nama Dewi Sri ini pun tumbuh semakin cantik, memiliki tutur kata yang halus dan menarik siapapun yang melihatnya. Bahkan Batara Guru pun terpesona dengan anak angkatnya Itu. Para dewa khayangan juga mencoba memisahkan keduanya. Agar keselarasan langit tetap terjaga, mereka pun meracun Dewi Sri hingga tewas.

Karena takut disalahkan atas kematian anak kesayangan Batara Guru. Para dewa pun membawa jasad Dewi Sri ke bumi. Lalu karena kesucian jiwa Dewi Sri, dari kuburnya bertumbuh segala tumbuhan yang bermamfaat.

Dari kepalanya muncul kelapa, dari bibirnya, hidung, dan kuping muncul sayur-sayuran, kemudian dari rambutnya muncul bunga-bunga yang harum, serta dari payudaranya tumbuh buah-buahan. Selanjutnya, dari pusarnya bertumbuh padi. Setelah itu masyarakat pun mulai memuja Dewi Sri. Karena dari pengorbanannya memunculkan manfaat untuk umat manusia di Bumi.

Sejarah dan Kebudayaan Pertanian

Indonesia memang sudah dikenal sebagai negara agraris. Iklim yang teratur, curah hujan dan tanah yang subur merupakan faktor-faktor pendukung yang penting. Karena itu sejak zaman dahulu, bercocok tanam merupakan pekerjaan utama bangsa ini.

Potret pertanian di Indonesia | Foto: bangazul.com
info gambar

Tercatat dalam sejarah, padi sudah ditanam di tanah air sejak 3000 tahun sebelum Masehi. Bukti penanaman padi ini ada di Pulau Sulawesi. Hal ini tertuang dalam buku Indonesia People and History karangan Jean Gelman Taylor. Bukan hanya padi, masyarakat nusantara juga menaman kelapa, aren, umbi-umbian, dan buah-buahan tropis.

Bahkan pada Candi Prambanan dan Borobudur terdapat relief seorang raja meletakan retribusi pada beras. Beberapa relief juga menggambarkan hasil produk pertanian seperti pisang, durian, manggis, dan apel Jawa.

Raja-raja Jawa memang sudah memfokuskan pertanian menjadi modal kekuatan mereka. Raja Empu Sendok (Mataram Kuno) telah memerintahkan untuk membuat bendungan mengairi wilayah Kapuangan, Wuatan Wulas, Wuatan Wamya. Sementara pada masa Airlangga, pertanian berkembang pesat karena telah membendung sungai Brantas.

Pada zaman Majapahit, pertanian malah berkembang pesat karena perhatian kerajaan. Saat itu, Raja memberikan perlindungan tanah pertanian agar para petani bisa tenang dan mudah bercocok tanam. Kebijakan ini dilakukan untuk mensejahterakan rakyat Majapahit yang saat itu utamanya bekerja sebagai petani. Hal ini membuktikan pertanian menjadi tulang punggung perekonomian masyarakat dan negara sejak zaman kuno.

Muncul banyak tradisi dan kebudayaan untuk menghormati pertanian. Pada masyarakat Bali, saat upacara Galungan dan Kuningan, penghormatan terhadap pertanian direfleksikan dalam berbagai ragam hias. Pada hiasan janur melekung diselipkan hiasan yang mencerminkan hasil pertanian, seperti padi.

Pada masyarakat Sunda Kasepuhan di Cirebon, terdapat tradisi pupuhunan, yaitu gubuk kecil yang berhias sebagai masa awal panen, menjelang panen mereka mengadakan "mpit" atau "nyalin".

Lalu keesokan harinya, mereka berdoa di pupuhunan. Kemudian mereka mengikat lima tangkai padi menjadi induk padi atau indung pare. Sebagai persembahan kepada Dewi Sri.

Beberapa tradisi serupa juga banyak dilakukan pada masyarakat Indonesia. Hal ini semata-mata sebagai penghormatan kepada Dewi Sri yang merupakan personafikasi dari perempuan. Karena perannya dalam memberikan kesuburan, kemakmuran, dan Kesejahteraan.*

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini