Merawat dan Menjaga Tradisi Karapan Sapi

Merawat dan Menjaga Tradisi Karapan Sapi
info gambar utama

Kawan GNFI, Indonesia adalah negeri kaya akan budaya dan tradisi. Nah, salah satu tradisi yang terus dirawat hingga saat ini adalah Karapan Sapi atau bisa disebut juga Kerapan Sapi. Karapan Sapi adalah lomba memacu sapi yang berasal dari Madura, Jawa Timur.

Untuk menjaga tradisi itu, saban tahun digelar sebuah ajang, baik yang berasal dari pemerintah daerah atau dari pemerintah pusat. Ada juga festival yang lazim dikenal dengan Festival Sapi Sonok.

Seperti dijelaskan Indonesia Travel, Festival Sapi Sonok merupakan ajang menghias sapi dengan aksesori nan gemerlap. Aksesorinya lumayan mahal, kawan, karena bakal ada mahkota perak atau sepuhan emas yang disematkan pada kepala sapi. Ada pula yang melengkapinya dengan rompi manik-manik dan rangkaian bunga melati.

Budaya Karapan Sapi nyatanya juga tenar hingga mancanegara. Lonely Planet menulis, bahwa Karapan Sapi adalah tradisi yang kuat dan cukup populer. Biasanya, Karapan Sapi dilakukan pada periode Agustus hingga Oktober saban tahunnya. Bahkan saking menariknya, National Geogprahic pernah membuat kontes foto tentang Karapan Sapi.

Menukil Kompas.com, bagi kebanyakan masyarakat Madura, Karapan Sapi tidak hanya sebuah pesta rakyat atau acara tiap tahun yang diwarisi turun temurun, tapi juga sebagai simbol prestise yang dapat mengangkat harkat dan martabat masyarakat Madura.

Karena sejatinya, sapi yang digunakan dalam ajang itu bukan sapi sembarangan, melainkan sapi yang istimewa. Harga sapi yang memenangkan pertandingan laga juga cukup fantastis, yakni bisa mencapai Rp75 juta per ekor.

Sebelum laga, umumnya sang pemilik mempersiapkan sapi dengan memberikan pijatan khusus dan makanan tidak kurang dari 80 butir telur setiap hari agar stamina sapi terjaga. Bahkan pada beberapa rumah di Madura, pada garasi mereka tak hanya nampak mobil, tapi sapi juga dikandangkan di sana, sebagai bentuk keistimewaan hewan tersebut.

Peran joki pacu dan tim

Dalam ajang Karapan Sapi, para penonton tidak hanya disuguhi adu cepat sapi dan ketangkasan joki. Sebelum pertandingan dimulai, para pemilik sapi melakukan ritual arak-arakan sapi di sekeliling pacuan disertai alat musik seronen. Seronen merupakan perpaduan alat musik khas Madura yang mampu membuat acara makin meriah.

Saat laga, sepasang sapi dikendarai oleh seorang joki. Joki itu berdiri di atas sebuah pijakan yang disebut kaleles yang ditarik oleh sapi. Joki pun berdiri mengendalikan sapi dalam kecepatan tinggi di lintasan. Panjang rute lintasan adu cepat biasanya antara 100-200 meter yang dapat ditempuh dalam waktu 14-18 detik.

Ini bukan pertandingan biasa yang hanya melibatkan joki dan sapi, tapi ada tim di belakangnya. Tim ini yang kemudian mengatur taktik dan strategi peserta yang terjun di lapangan. Beberapa istilah mungkin awam di telinga kawan GNFI soal peran tim saat ajang, mereka adalah;

  • Tukang tongko, joki yang mendalikan sapi pacu,
  • Tukang tambeng, yang bertugas menahan kekang sapi sebelum dilepas,
  • Tukang gettak, yang menggertak sapi agar pada saat sapi diberi aba-aba sapi bisa berlari kencang lurus ke depan,
  • Tukang tonja, yang bertugas menarik dan menuntunt sapi, dan
  • Tukang gubra, anggota rombongan yang bersorak memberi semangat.

Sejarah Karapan Sapi

Selain sebagai tradisi adat masyarakat Madura, Karapan Sapi juga memiliki cerita tersendiri yang dipercaya oleh masyarakat Madura hingga kini. Adalah seorang ulama penyebar agama Islam bernama Syech Ahmad Baidawi yang dikenal dengan sebutan Pangeran Katandur yang merupakan putra Pangeran Pakaos, cucu Sunan Kudus.

Dikisahkan, selain menyebarkan Islam, Pangeran Katandur juga nyatanya ahli bercocok tanam dengan mengajarkan penduduk setempat cara membajak tanah yang disebut naggala atau salaga, yaitu menggunakan dua bambu yang ditarik dua ekor sapi.

Saat itu tanah Madura dikenal kurang subur, sehingga untuk membajak sawah maupun lahan bercocok tanam, dibutuhkan tenaga sapi yang cukup kuat. Nah, mulailah mereka mempersiapkan sapi dengan tenaga yang cukup kuat sembari berlomba adu cepat menyelesaikan pekerjaan penggarapan lahan tersebut.

Hingga akhirnya perlombaan untuk menggarap sawah itu menjadi semacam olahraga adu cepat yang kini disebut Karapan Sapi, yang biasanya diselenggarakan jelang musim panen habis, sebagai simbol kembali mempersiapkan sapi-sapi kuat untuk menggarap lahan dan sawah.

Baca juga:

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini