Sejarah Hari Ini (30 September 1960) - Sukarno Perkenalkan Pancasila di Sidang Umum PBB

Sejarah Hari Ini (30 September 1960) - Sukarno Perkenalkan Pancasila di Sidang Umum PBB
info gambar utama

Presiden Republik Indonesia (RI) pertama, Sukarno, membuat gempar dunia internasional dengan pidato yang berjudul "To Build The World A New" yang berarti '"Membangun Dunia Kembali".

Pidato itu dikemukakannya di depan Sidang XV Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada 30 September 1960.

Sukarno membuka pidatonya dengan menyinggung tentang kedamaian antar sesama manusia yang terkandung dalam surat Al-Hujurat ayat 13 di kitab suci Alquran dan Lukas 2:14 di kitab suci Injil, berikut isi kalimatnya:

''Kitab Suci Islam mengamanatkan sesuatu kepada kita pada saat ini. Qur’an berkata: ''Hai, sekalian manusia, sesungguhnya Aku telah menjadikan kamu sekalian dari seorang lelaki dan seorang perempuan, sehingga kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu sekalian kenal-mengenal satu sama lain. Bahwasanya yang lebih mulia di antara kamu sekalian, ialah yang lebih taqwa kepadaKu''. Dan juga Kitab Injil agama Nasrani beramanat pada kita. ''Segala kemuliaan bagi Allah di tempat yang Mahatinggi, dan sejahtera di atas bumi di antara orang yang diperkenanNya''.

Saya sungguh-sungguh merasa sangat terharu melepaskan pandangan saya atas Majelis ini. Di sinilah buktinya akan kebenaran perjuangan yang berjalan bergenerasi. Di sinilah buktinya, bahwa pengorbanan dan penderitaan telah mencapai tujuannya. Di sinilah buktinya, bahwa keadilan mulai berlaku, dan bahwa beberapa kejahatan besar sudah dapat disingkirkan. Selanjutnya, sambil melepaskan pandangan saya kepada Majelis ini, hati saya diliputi dengan suatu kegirangan yang besar dan hebat. Dengan jelas tampak di mata saya menyingsingnya suatu hari yang baru, dan bahwa matahari kemerdekaan dan emansipasi, matahari yang sudah lama kita impikan, sudah terbit di Asia dan Afrika. ''

Dalam pidatonya, Sukarno juga mengkritik perimbangan kekuasaan dunia yang masih menunjukkan kentalnya imperialisme dan kolonialisme.

"Imperialisme belumlah mati. Orang-orang terkadang bilang imperialisme dan kolonialisme sudah mati. Tidak! (Imperialisme) sedang sekarat! ...imperialisme yang sedang sekarat sama berbahayanya dengan harimau yang terluka di hutan tropis,'' tegas Sukarno di atas podium yang kemudian disambut tepuk tangan para hadirin.

Dalam kesempatan itu Sukarno menggebrak PBB dengan mencantumkan Pancasila ke dalam piagam PBB.

Menurut Sukarno piagam PBB sudah ketinggalan zaman untuk memecahkan persoalan-persoalan dunia.

Tanpa ragu-ragu, Sukarno menguraikan filosofi Pancasila di hadapan para pemimpin dunia yang hadir dalam sidang.

Menurut Sukarno, Pancasila bisa menjadi alternatif ideologi dunia yang saat itu dilanda perang dingin antara Barat (kapitalisme) melawan Timur (sosialisme/komunisme).

Sukarno menganjurkan agar nilai-nilai dari dasar negara Indonesia itu diterima oleh semua anggota PBB.

''Saya yakin, ya, saya yakin seyakin-yakinnya bahwa diterimanya kelima prinsip itu dan mencantumkannya dalam piagam, akan sangat memperkuat Perserikatan Bangsa-Bangsa. Saya yakin, bahwa Pancasila akan menempatkan Perserikatan Bangsa-Bangsa sejajar dengan perkembangan terakhir dari dunia,'' kata Sukarno penuh keyakinan.

Secara khusus, Sukarno juga menyinggung permasalahan Irian Barat, yang sedang berusaha ia rebut dari kekuasaan Barat.

Ia pun berharap agar PBB tampil menjadi pendukung-pendukung negara-negara yang baru saja kemerdekaannya.

---

Referensi: Cambridge Editorial Partnership, "Speeches that Changed the World: The Stories and Transcripts of the Moments that Made History" | Kepustakaan Populer Gramedia, "Seri Buku TEMPO: Bapak Bangsa Sukarno" | Fais Yonas Bo'a, Sri Handayani RW, "Memahami Pancasila" | "20 Tahun Indonesia Merdeka, Volume 2" | "Mimbar Penerangan"

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini